oleh

Rakyat Dunia Melawan Ketidakadilan Global. Opini Yudi Syamhudi Suyuti

Rakyat Dunia Melawan Ketidakadilan Global. Oleh: Yudi Syamhudi Suyuti, Koordinator Eksekutif JAKI (Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional.

Hari ini tanggal 14 November 2019 sebentar lagi dimulai dideklarasikan kampanye terbuka untuk sebuah resolusi baru dari masyarakat sipil yang berdiri bersama ratusan juta pengikut di seluruh dunia yang dipelopori oleh tiga organisasi masyarakat sipil yang sangat kompeten, Democracy Without Border, Civicus dan Democracy International di New York, Tepatnya pada pukul 3.00 PM waktu Amerika Serikat. Sebuah kota peradaban dunia, dimana rakyat Indonesia memiliki andil besar terbentuknya New York dalam sejarah peradaban dunia dari Pulau Run di Maluku dan Wilayah Nusantara yang merupakan wilayah Indonesia saat ini. Meskipun saat ini kita jauh tertinggal akibat kolonisasi masa lalu. Karena itu kami bangkit berdiri untuk bersama membuka catatan sejarah baru dan menutup buku masa lalu.

Deklarasi kampanye ini adalah merupakan bunyi sebuah gong besar perubahan dunia untuk keputusan-keputusan dunia melalui warga dunia. Sebuah proposal untuk dibentuknya badan baru di PBB bernama UNWCI (United Nations World Citizen Initiative) sebagai satu badan yang mewakili partisipasi warga dunia. Dan kami mewakili warga Indonesia yang juga bagian warga dunia masuk untuk melibatkan diri demi kepentingan kemanusiaan, keadilan sosial dan demokrasi di tingkat nasional dan internasional untuk mengakhiri impunitas dalam sistem kekuasaan.

Tahun-tahun belakangan ini dunia sedang mengalami kegoncangan global yang ditandai dengan bergelombangnya arus protes dan demonstrasi hampir di seluruh dunia yang muncul dari gerakan perlawanan rakyat warga negara dan masyarakat sipil terhadap rezim dan Negara. Jika ini terjadi hanya di satu-dua Negara saja, tentu itu adalah hal yang biasa dalam dinamika politik antara rakyat dan agenda kekuasaan tertentu atau sekedar pertarungan antar elit yang dijelmakan dalam benturan politik.

Akan tetapi yang terjadi tahun-tahun belakangan ini adalah gejolak massal berskala global dan bukan saja bersifat korektif secara demokratis. Melainkan sebuah gugatan rakyat bangsa-bangsa yang ditindas, dipinggirkan, dimiskinkan dan tidak dimanusiakan secara struktural sistematis dalam hak asasi manusia dan hak kemanusiaan sebagai eksistensi keadilan sosial. Ini harus kita akui sebagai realita perkelahian dunia terbesar paska perang pasifik melalui pertarungan demokratik untuk satu tujuan yaitu kedaulatan rakyat dan eksistensi warga Negara dunia. Tentu ini juga menyangkut hak asasi bangsa-bangsa yang berhak atas kehidupannya secara multi nasional yang terancam tatanan global melalui pemaksaan globalisasi.

Baca Juga :  KPK Perlu Periksa Seluruh Pembangunan Infrastruktur Jokowi, Karena Ada Indikasi Korupsi Raksasa

Kita merasakan ini terjadi di Indonesia, Perancis, Sudan, Chile, Montenegro, Hongkong, Haiti, Serbia, Aljazair, Kazakhstan, Ceko, Mesir, Guinea, Ekuador, Irak, Libanon, Azerbaijan, Bolivia dan di belahan dunia lainnya.

Gelombang ini terjadi akibat membusuknya sistem global yang tidak adil karena mengikat kaki, perut dan leher kita sebagai rakyat untuk memenuhi hak-hak kemanusiaan dan hak asasi manusia kita di hampir di semua sektor kehidupan baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan keamanan. Kita memang sedang terancam hari ini, namun kita tidak terkalahkan. Karena Tuhan selalu memuliakan kita sebagai manusia sekecil apapun dalam sebuah perjuangan untuk tegaknya sebuah keadilan. Jiwa kemanusiaan kitalah yang menghidupkan nyalanya api perlawanan atas ketidakadilan global hari ini. Dan pada kenyataannya tanpa keadilan yang utuh, dunia mengalami stagnasi, kemacetan dan krisis.

Jika kita membiarkan ini tanpa tindakan apapun, maka dunia terancam kehancuran. Kita tidak menolak kehidupan global yang mengakibatkan kita menjadi terkucilkan, akan tetapi kita menolak globalisasi dan penindasan. Karena dunia adalah multi nasional, sehingga sistem unilateral menjadi ancaman atas eksistensi sistem multilateral yang mempengaruhi keputusan-keputusan dunia melalui keputusan-keputusan nasional setiap Negara. Selain itu kita telah lama berjuang untuk kesetaraan bangsa-bangsa dan ini harus terwujud, sehingga tidak ada lagi masa lalu yang diskriminatif dengan istilah dan perlakuan atas dunia ke 1, dunia ke 2 dan dunia ke 3. Kita harus akhiri ini semua, karena kita manusia yang sederajat yang hidup di dunia atas kesamaan hak.

Sudah saatnya mulai hari ini, organisasi PBB menyiapkan sebuah resolusi pada usianya yang ke 75 di tahun 2020 untuk memutuskan dalam Sidang Majelis Umumnya dengan berdirinya sebuah badan baru bernama UNWCI sebagai badan yang mewakili partisipasi warga dunia sehingga keputusan-keputusan dunia tercapai titik temu yang adil antara pergerakan arus bottom up dan top down. Dengan berdirinya UNWCI ini tentu sekaligus diikuti oleh Negara-Negara di seluruh dunia, sehingga tatanan dunia dimanapun adalah tatanan rakyat atas Negara dan Dunia. Demokrasi politik, demokrasi sosial dan demokrasi ekonomi menjadi kunci terwujudnya keadilan yang dibentuk atas dasar kemanusiaan dan hak asasi manusia. Freedom..!!!.

Baca Juga :  JAKI Sudah Berkomunikasi Dengan International Criminal Court dan Jaringannya Untuk Memantau Indonesia

Jakarta, 14 November 2019

Kami sampaikan bersama kelompok masyarakat sipil

Abibiman Foundation, Ghana

African Views Organization, International

Afrihealth Optonet Association, International

Amis des Étrangers au Togo (ADET), International

Animis Philanthropic Ventures Inc, International

Asia Democracy Network, International

Asia Development Alliance, International

Association For Promotion Sustainable development, India

Bangladesh NGOs Network for Radio & Communication, Bangladesh

Centre for Human Rights-Nis, Serbia, Serbia

Centro Mexicano de Responsabilidad Global CEMERG A.C., International

Citizens Awareness Network (CIANET), Kenya

CIVICUS: World Alliance for Citizen Participation*, International

Climate Emergency Institute, International

Commons Cluster of the UN NGO MG, International

Democracy International*, International

Democracy Without Borders*, International

Democracy Without Borders-Sweden, Sweden

Dr Uzo Adirieje Foundation (DUZAFOUND), Nigeria

Emonyo Yefwe International, Kenya

Free Trade Union Development Center, Sri Lanka

Fundacion Indigena Kollas Y Lupacas, Peru

Global Justice Now, UK

Global Voice, International

Human and Global Development Research Institute, International

International Federation of Settlements and Neighborhood Centers, International

Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional (JAKI) / International Humanitarian Activists Network (IHAN), International

Justice, Development and Peace Commision, Ijebu-Ode (JDPC), Nigeria

Kenya Communities upgrading Standards, Kenya

LIDÈ Foundation, International

Medical Association for the Prevention of War (Australia), Australia

Medical IMPACT, International

Mehr Demokratie e.V., Germany

Missionary Oblates of Mary Immaculate (OMI), International

National Campaign for Sustainable Development-Nepal, Nepal

Nigerian Network of NGOs, Nigeria

Ohaha Family Foundation, Nigeria

Peace and Justice Alliance, International

Peoples’ Vigilance Coomittee on Human Rights (PVCHR), India

Sisters of Charity Federation, International

Society for Conservation and Sustainability of Energy and Environment in Nigeria (SOCSEEN), Nigeria

Students for Global Democracy, Uganda

The Global Sunrise Project, International

Unanima International, International

United Force for Development, Ghana

United Nations Association-UK, UK

VSDG, Vietnam

Women & Child Welfare Society, India

Women Coalition for Agenda 2030, International

Women’s March Global, International

World Academy of Art and Science, International

World Citizens Association (Australia), Australia

World Federalist Movement-Institute for Global Policy, International

Young European Federalists (JEF) Europe, International

Youth Action Hub Guinea (CNUCED), International

Youth Association of Sierra Leone, Sierra Leone

Youth For Environment Education And Development Foundation (YFEED Foundation), Nepal

Zimbabwe United Nations Association, Zimbabwe

Loading...

Baca Juga