oleh

Tugu Monas Sebagai Tempat Silaturahim Kebangsaan

Tugu Monas Sebagai Tempat Silaturahim Kebangsaan, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik

Tugu Monas (Monumen Nasional), adalah lambang Lingga menembus Yoni. Gambaran penyatuan Phalus dengan Vulva, persetubuhan, atau persenggamaan dan merupakan lambang pertemuan antara Shiva dan Shakti. Dihari itu, 2 Desember banyak orang dari berbagai daerah mengarah ke sana, tempat pertemuan. Tugu Monas sepertinya jadi tidak berbeda dengan Jabal Rahmah dalam tradisi Islam yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dengan Hawa.

Lingga Yoni adalah simbol dari kesuburan. Dan awal sejarah baru yang disebut kehidupan anak manusia. Setelah hidup di surga lalu diturunkan ke dunia dan tersiksa rindu karena keterpisahan, maka lalu ada pertemuan antara Adam dan Hawa, antara Shiva dengan Shaktinya yang dipenuhi rasa suka dan cita, kebahagiaan serta keterharuan yang tiada terkira.

Di hari itu pun pastinya diwarnai keterharuan…. entah oleh pertemuan pemimpin dengan rakyatnya atau pertemuan rakyat dengan rakyat. Yang jelas silaturahim antar anak bangsa terjadi di sana. Bahwa, perbedaan apapun yang ada di antara sesama manusia bukanlah untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal, saling mengetahui dan saling mengerti, lita ‘aarafuu – dari kata ‘arafa ya’rifu – ta’aruf – silaturahim.

Baca Juga :  Revolusi Fahri. Sebuah Opini Dahlan Iskan

Dari asal kata di atas, juga bertalian makna dengan ma’rifat, artinya mengenal, mengetahui dan mengerti sebenar-benarnya hakikat manusia. Dan jika diibaratkan dengan peristiwa Wukuf di Arafah dimana diselenggarakan pertemuan akbar manusia dari berbagai penjuru bangsa, maka kiranya esensi pertemuan anak bangsa di Tugu Monas adalah sama.

Jika Wukuf di Arafah adalah upacara napak tilas perjumpaan Adam dan Hawa. Maka disaat itu pun para Adam dan Hawa dari berbagai penjuru daerah berkumpul dan bertemu di Tugu Monas agar saling mengenal, saling mengetahui dan mengerti bahwa manusia dan kemanusiaan itu sebenarnya hakikatnya sama.

Yang terpecah belah dan sengaja dibentur-benturkan oleh adudomba terus menerus, ternyata mampu larut dalam pertemuan akbar itu, bangsa ini kembali menemukan momentum kesejatian dirinya, untuk bersatu dan melangitkan doa. Yang biasa distigma dan dipojokkan dengan istilah intoleran, radikal, anti NKRI dan anti kebhinnekaan, justru menjadi perekat kebangsaan atas nama ukhuwah (persaudaraan). Tidak pandang kekayaan, pangkat dan jabatan, serta status sosial, mulai dari pemimpin negara sampai rakyat jelata, seluruhnya menyatu dalam gugusan manusia. Lepas identitas masing-masing. Yang ada cuma satu, yaitu manusia tanpa embel-embel jelita atau jelata atau formalitas yang sering membuat manusia terkotak-kotak.

Baca Juga :  Pilpres 2024, Siapa Penantang Anies? Sebuah Opini Tony Rosyid

Menjadi nilai tambah jika momentum pertemuan tempo hari (2/12) juga membahas permasalahan bangsa dengan Thawaf (diskusi muter-muter dengan bertemunya banyak orang). Sehingga bisa menjadi kekuatan bargaining yang lumayan diperhitungkan. Persoalan bangsa ini ada di sistem (konstitusi) dan moral. Maka alangkah lebih baiknya gerakan tempo hari itu bisa dijadikan sebagai momentum gerakan kembali ke UUD 45 sebelum amandemen. Bukan sekedar menjadi seperti buih di lautan, yang dimanfaatkan untuk tujuan politik dan kekuasaan.

Okey, lepas dari berhasil tidaknya gerakan 212 tempo hari. Yang jelas dengan berthawaf di Monas, di simbol pemersatu bangsa, Lingga dan Yoni, tujuan ukhuwah dan silaturahim sudah tercapai. Suasana damai, sejuk, penuh kasih dan sayang kembali menemukan momentumnya. Seperti penyatuan dua simbol kehidupan Lingga dan Yoni, kasih dan sayang. Apalagi dengan doa-doa yang dilangitkan, harapan yang selalu kita semogakan. Biarlah tangan-tangan Tuhan dan semesta alam yang akhirnya bekerja menuntaskan segalanya, “innamaa amruhuu idzaa araada syaian anyaquula lahuu kun fayaakuun…” maka terjadilah menurut kehendakNya.

Loading...

Baca Juga