oleh

Siapakan Ancaman Kita, Khilafah Atau Komunis (PKI)?

Siapakan Ancaman Kita, Khilafah Atau Komunis (PKI)? Oleh : Anton Permana, Pengamat Sosial Politik, Alumni PPRA Lemhannas RI Tahun 2018.

Belakangan ini, masyarakat kembali dibingungkan oleh dua isu central bernama Khilafah dan Komunis. Tatkala tensi politik yang semakin memanas, diantara dua kubu kandidat Pilpres, dua kata inilah yang paling sering kita dengar dilontarkan masing-masing pihak.

Pihak kubu 01 menuduh pihak kubu 02 ditunggangi oleh kelompok pro khilafah, dan begitu juga sebaliknya. Pihak 02 menuding pihak 01 juga ditunggangi oleh anak-anak PKI dan pengikut ideologi komunis.

Lebih seru lagi, saling tuding ini juga menyasar dua negara luar yang diidentikkan dengan dua isu ini. Khilafah dengan Arab, dan komunisme (PKI) dengan China. Onta Vs Aseng. Demikianlah kira-kira output dari masing-masing celoteh yg dikeluarkan para netizen itu di dunia maya.

Untuk itulah, penulis akhirnya tertarik untuk membuat sebuah tulisan bagaimana cara kita seharusnya menjadi bangsa yang jernih berpikir, cerdas dalam menganalisis, dan bijaksana dalam bertindak, agar dapat memilah dan membuat sebuah kesimpulan isu mana sebenarnya yang memang menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI ini dari berberapa faktor.

FAKTOR SEJARAH.

Dalam sejarah Indonesia, sebenarnya isu khilafah dan komunisme ini bukanlah barang baru lagi. Di era tahun 1960-an, isu khilafah atau pendirian negara Islam serta komunisme yg atheis (anti Tuhan) juga sangat tajam. Ketika itu terafiliasikan dengan partai Masyumi Vs PKI.

Jadi kalau kita tarik jauh ke belakang lagi sebelum Indonesia merdeka, dua kelompok ini sudah mengkristal kedalam konflik yg dikenal dengan Syarikat Islam Putih versus Syarikat Islam Merah.

Yaitu sebuah gerakan perlawanan pertama secara kolektif nusantara sebelum Boedi Oetomo, yang terjadi di awal tahun 1900-an.

Dari sejarah ini penulis menarik beberapa point penting :

1. Dalam sejarah, dari dua kelompok ini manakah yang punya rekam jejak jahat dan berkhianat kepada bangsa Indonesia? Tentu jawabannya adalah PKI. Karena PKI telah beberapa kali melakukan pemberontakan yang disertai dengan pembunuhan yaitu pada tahun 1926 (masa penjajahan Belanda), tahun 1948 di Madiun, dan tahun 1965 yang kita kenal dgn istilah G 30 S / PKI yang begitu sadis.

Sedangkan kelompok khilafah (Islam Fundamental) hanya terjadi pada DI/TII. Namun kalau kita teliti lebih dalam lagi, DI/TII tidak bisa dikatakan ‘pemberontakan’. Karena ini sebenarnya adalah konflik internal antara Soekarno yang dianggap ingkar janji oleh para sahabat seperjuangannya sendiri seperti Karto Suwiryo, Kahar Muzakar, dan Daud Beureuh.

Mereka kecewa kepada Soekarno yang terpengaruh bisikan PKI ketika itu untuk mengkebiri para laskar Islam (pejuang beragama Islam) dari struktur ke-tentaraan reguler. Soekarno lebih memilih para alumni KNIL (bentukan Belanda) dan bekas tentara PETA (bentukan Jepang) untuk jadi pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ketika itu. Dan konflik inilah yang dieskalasi Soekarno atas bisikan PKI menjadi seolah pemberontakan. Buktinya DI/TII tidak pernah membunuh masyarakat sipil, dan hanya berperang dgn tentara Soekarno. (Sjafroedin Bahar : 2008).

2. Dalam sejarah Indonesia juga dibuktikan bahwa sejatinya Pancasila itu adalah hadiah dari ummat Islam Indonesia kepada bangsa ini. Bagaimana ummat Islam mengalah dan mau menggantikan ‘7 kata dalam piagam jakarta’ dari kata “ Negara yg berdasarkan keTuhanan dan menjalankan syariat Islam untuk masing pemeluknya “, diganti dengan “ KeTuhanan Yang Maha Esa “.

Artinya, sebenarnya tentang konsepsi antara negara Islam ke negara Pancasila itu sudah final. Dan tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Kalaulah ummat Islam mau menjadi negara Islam, tentu dari zaman awal kemerdekaan hal ini bisa direalisasikan.

Beda dengan PKI. Dengan berbagai upaya dan cara biadab sekalipun mereka lakukan untuk mengganti ideologi negara menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Ribuan nyawa melayang, baik itu dari kalangan ulama, santri, bahkan jendral sekalipun.

Dan secara rekam jejak sejarah pergerakan Islam di Indonesia, konsepsi khilafah ini pun masih dalam perdebatan. Dan mayoritas malah tidak setuju dgn diterapkannya di Indonesia. Dalam riset Wahid Institute tak sampai dua digit (- 10 %) ummat Islam Indonesia yang setuju dengan konsep khilafah. Dan 92 % tetap setuju dengan Pancasila. (Wahid Institute 2018).

Baca Juga :  PKS: Jangan Sampai Tenaga Medis Jadi Korban Akibat Kekurangan APD

FAKTOR POLITIK.

Sebagai negara yg menerapkan demokrasi, partai politik adalah sebuah entitas ideologi rakyat. Partai politik bertindak sebagai ‘agen’ penyaluran aspirasi rakyat melalui Pemilu.

Jadi kalau dikaitkan dgn potensi siapa yang berpeluang dari dua kubu ini untuk menguasai Indonesia bisa kita ukur dan petakan dari peta kekuatan politik di parlemen hari ini.

Nah sampai hari ini (hasil Pilpres 2019), partai yg berideologi Islam (beraviliasi Islam) tak pernah tembus angka dua digit (diatas 10 %). Baik itu PKS (6 %), PKB (8 %), PPP (7 %), PAN (7%), dan PBB (1,8 %). Pemilu 2014 lalu. Kalau ditotal pun tak sampai 30 %.

Kalau kita kerucutkan lagi, partai politik yang murni menjadikan Islam sebagai azas partainya hanya PPP dan PBB. Ini semakin parah lagi persentasenya. Dan dari semua partai tersebut tidak ada yang tegas menyatakan akan mendirikan negara Islam, apalagi khilafah.

Sebaliknya untuk kubu PKI (komunis). Sama-sama kita ketahui bersama, bahwa banyak para kader komunis dan anak-anak kandung ex-PKI lalu bergabung dan menjadi pejabat kunci di PDIP. Sedangkan kita tahu, PDIP adalah penguasa hari ini. Partai yang pegang kendali kekuasaan baik di eksekutif, legislatif, bahkan yudikatif.

Dengan potensi kekuatan politik yang dimiliki kelompoknya hari ini, kubu PDIP yang didalamnya banyak anak-anak PKI berkumpul lebih memiliki potensi besar untuk membumikan ideologi komunisme dalam versi zaman now. Dan juga sudah menjadi rahasia umum, sudah ratusan bahkan ribuan kader partai ini dibina dan dilatih di China atau Rusia.

Jadi kalau kita bandingkan antara kekuatan dua kubu ini, boleh dikatakan bagai langit dan bumi. Walaupun bangsa Indonesia itu secara kuantitas mayoritas Islam.

FAKTOR MILITER

Salah satu faktor yang bisa merubah ideologi sebuah negara adalah faktor militer. Karena yang punya kekuatan untuk bisa melakukan sebuah kudeta, revolusi, terjadap eksistensi negara adalah kekuatan militer.

Sekarang mari kita lihat. HTI, sebagai organisasi yang dituding mau dirikan negara khilafah tidak punya tentara sama sekali. Begitu juga partai Islam lainnya. Dengan kekuatan apa mereka mau mengganti ideologi negara ini dgn khilafah ??? Pasti akan berhadapan dgn TNI-Polri yg bersenjata lengkap.

Beda dengan kubu pro PKI. Sebagai bahagian dari pemegang kekuasaan, kelompok ini pegang kendali kekuasaan. Dgn presiden ada dikubu ini, tentu secara kekuasaan politik supremasi sipil dimana presiden sebagai panglima tertinggi bisa mengendalikan tentara dan polisi.

Dan kita lihat fakta hari ini, bagaimana institusi TNI-Polri sdh menjadi alat kekuasaan. Bukan lagi alat negara. Karena kekuasaan presidensial negara ini memberikan ruang untuk itu. Yaitu Kapolri dan Panglima TNI yg ditunjuk oleh presiden.

Nah berarti kubu mana yang paling berpotensi bisa mengganti ideologi negara ini ??? Silahkan jawab dan cerna sendiri jawabannya.

FAKTOR GLOBAL.

Didalam buku Samuel Huntington, telah dijelaskan tentang apa yang disebut “ Clash of Civilitation “. Yaitu tentang perang peradaban. Dimana ada tiga kekuatan besar ideologi (peradaban) didunia yang akan berebut pengaruh dimuka bumi ini. Yaitu, kapitalisme barat, sosialisme/komunis, dan Islam.

Kalau kita turunkan lagi dalam konteks Indonesia hari ini. Dari tiga kekuatan tersebut, kubu khilafah adalah Islam, kubu sosialis-komunis adalah PKI.

Secara aviliasi kekuatan global, kembali dapat kita simpulkan bahwa kubu PKI ini lebih besar dan kuat. Karena dengan semakin besar dan agresifnya China sekarang ini di dunia. Lompatan ekonomi dan militer China hari ini, telah berhasil membuat perimbangan kekuatan global yang beberapa dekade ini dipimpin Amerika.

Sedangkan kubu khilafah, justru diwarnai wajah perpecahan dan perang saudara sesama negara Islam didunia. Arab Saudi sibuk dengan konflik perebutan pengaruh di jazirah Arab dgn Iran. Turkey yang baru muncul di Eropah sebagai kekuatan baru Islam, juga sedang mengalami pasang surut tekanan politik tiada henti baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga :  Ismahi Jakarta: Omnibus Law Untuk Buruh, Konglomerat Atau Penguasa?

Sederhananya adalah, kita bisa lihat peta kekuatan 5 negara pemegang hak veto dunia yaitu : Amerika, Inggris, Prancis, Rusia, dan China. Satupun tak ada yang mewakili negara Islam (kubu khilafah). Beda dengan kubu PKI ini. Mereka bisa berlindung dan dipayungi dua raksasa baru dunia yaitu China dan Rusia.

Untuk permasalahan faktor global, kubu khilafah yang ditudingkan sangat tidak mungkin mendapatkan tempat. Karena pasti akan terjepit oleh dua kekuataan raksasa global dunia. Karena Amerika dan sekutunya pasti akan menentang konsep khilafah ini.

KESIMPULAN.

Dari pemaparan diatas, dapat kita simpulkan bahwa :

1. Yang sebenarnya menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia saat ini adalah komunisme atau PKI baru. Karena dari 4 faktor diatas, mereka lebih powerful dan hanya tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan mimpinya yg terkubur puluhan tahun. Malah penulis beranggapan, saat sekaranglah hari pembalasan dan kebangkitan PKI itu di Indonesia. Jadi wajar, upaya untuk selalu menjadikan agama sebagai musuh negara sangat gencar dilakukan.

Karena dalam konsepsi ajaran komunisme ini, agama bagi mereka bagaikan candu. Selagi nilai agama masih ada didalam dada manusia, pasti akan sulit menerima ajaran PKI ini.

Jadi caranya untuk mengeluarkan agama itu dari dalam dada manusia adalah : Meracuni pemikiran generasinya dgn gaya hidup matrealistis, hedonis, liberalis, menyogok para elitnya, mengkader para calon pemimpinnya, menjauhkan mereka dari agama, merancang skenario fitnah thd symbol, tokoh, dan ajaran agamanya agar dibenci dan dijauhi penganutnya sendiri.

Karena Islam adalah agama mayoritas, maka Islam dulu agama yg harus mereka hancur leburkan di Indonesia. Kalau Islam sudah takluk dibawah kendali mereka, agama yg lain akan lebih mudah ditaklukkan. Sampai pada akhirnya, semua agama inipun akan mereka tiadakan. Inilah sejatinya aliran pemikiran komunisme itu. Yaitu atheisme. Anti Tuhan.

2. Isu khilafah yang disuarakan hanyalah upaya pengelabuan ‘decoy’ atau apologistik semata. Dalam rangka menyudutkan ummat Islam agar selalu inferior dan mati kutu.

Jangankan untuk mendirikan khilafah, untuk berbicara khilafah saja mereka skenariokan menjadi sesuatu yg seolah haram, pidana, atau kriminal menakutkan.

Khilafah adalah hantu ketakutan (halusinasi paranoid) yg diciptakan untuk membungkam Islam. Agar tak berdenyut lagi.

3. Mari kita kembalikan negara ini kedalam rel yang konstitusional sesuai dengan cita-cita para founding father kita. Yaitu, menjadikan Pancasila sebagai falsafah negara, sebagai rumusan bersama dalam bernegara, sebagai jalan tengah dari tarikan dua kutub ideologi antara negara agama dan komunisme atau liberalis-sekuler.

Indonesia bukan negara agama, tetapi bukan negara tanpa agama. Indonesia adalah negara yg mengakui agama, dan menjadikan agama sebagai sumber nilai dalam nenjalankan pemerintahannya. Dan komunisme sangat bertentangan dengan Pancasila. Tapi tidak ada larangan untuk rakyatnya untuk menjalankan agama sesuai dgn kepercayaannya masing-masing. Sesuai dgn UUD NRI 1945 pasal 29 (ayat) 2 yang berbunyi, “ Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk menjalankan agama dan kepercayaannya, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing/masing “.

Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan kita semua guidance untuk dapat memilah, mengurai, dan mengambil kesimpulan bahwasanya ancaman sebenarnya yang sangat berbahaya sekali itu terhadap keutuhan bangsa Indonesia adalah komunisne dan PKI. Bukan khilafah. Seperti sesuai apa yang disampaikan Menhan RI Bapak Jend. (Purn) Ryamizard Ryacudu dalam sebuah sarasehan 2016 yg lalu, “ Apabila ada orang atau kelompok yang mengatakan bahwa PKI itu sudah tak ada lagi dan bukan ancaman lagi, berarti mereka itu adalah PKI-nya “.

Salam Indonesia. NKRI Harga Mati. Pancasila Abadi. Indonesia Jaya!

Loading...

Baca Juga