oleh

Cebong: We love you… Kampret: Astaqfirullah, Sebuah Opini Dimas Huda

Cebong: We love you… Kampret: Astaqfirullah. Oleh: Dimas Huda, Pemerhati Politik.

Selamat berpisah Jenderal
Jutaan kami akan tetap memilih jalan sepi
Menjauh dari pesta penuh kembang api
Demi menjaga anak-anak negeri
dan merawat yang tersisa dari Ibu Pertiwi

Itu adalah penggalan puisi dari seorang pendukung Prabowo yang kecewa. Puisi tersebut diposting menyambut pertemuan Prabowo dengan Jokowi Sabtu (13/7).

Ya, hari Sabtu 13 Juli 2019 menjadi hari yang campur aduk. Di pagi yang sibuk, Prabowo Subianto, calon presiden yang kalah, dan Joko Widodo, si pemenang, bertemu di salah satu gerbong MRT Jakarta. Apa yang dinanti Jokowi akhirnya terkabul juga. Prabowo mengucapkan selamat kepadanya. “Saya ucapkan selamat,” ucap Prabowo setelah sebelumnya diisi basa-basi.

Peristiwa ini menyedot perhatian publik di lokasi pertemuan maupun jutaan pasang mata yang menyaksikan televisi. Berita tentang pertemuan pun dengan cepat menyebar di media sosial.

Ada yang lega dan senang lalu berucap, “Alhamdulillah…” tapi tidak sedikit yang kecewa dan berucap “Astagfirullah…” Semua penuh emosi yang campur aduk.

Pertemuan dua tokoh ini sangat tidak dikehendaki emak-emak. Beberapa kali para perempuan pendukung Prabowo-Sandi ini menyerukan agar Prabowo tidak perlu bertemu Jokowi. Mereka ramai-ramai mendatangi kediaman jagoan mereka. Mereka menyampaikan sikap menolak segala bentuk rekonsiliasi. Emak-emak tidak bisa menerima kemenangan Jokowi yang mereka sebut sebagai kemenangan yang sarat kecurangan. “Mengucapkan selamat pada kecurangan adalah haram”.

Kekecewaan super berat terasa dari postingan mereka di media sosial, terutama di grup-grup WhatsApp yang beranggotakan para militansi pendukung Prabowo. Isi medsos lebih banyak ungkapan rasa kecewa dan mengecam Prabowo.

Salah seorang anggota grup WA yang beranggotakan penulis senior menggambarkan pertemuan ini sebagai pengkhiatan Prabowo terhadap para pendukungnya. Prabowo dianggap membiarkan pasukannya mati dan dia hidup sendiri. “Kasihan teman-teman pendukung 08 (Prabowo) yang sudah berkorban banyak. Mereka ada yang dipecat dari pekerjaannya, kehilangan anak, suami, demi membela 02. Sekarang katanya tidak ada lagi cebong dan kampret yang ada merah putih,” tulisnya.

“Saya nggak suka lihat posisi duduknya,” sambut yang lain lagi mengomentari gestur kedua tokoh itu. “PS yang condong ke Jokowi, lalu bisik-bisik. Kesannya butuh banget dan memohon. Sementara lihat posisi duduknya Jokowi sama sekali tidak condong ke PS. Kesannya lebih mirip kayak tawanan. Kalau memang mau bargain yang setara, mestinya geturnya nggak gitu,” lanjutnya. PS adalah singkatan dari Prabowo Subianto.

Baca Juga :  Tak Kuasa Menahan Tangis Saksikan Ustad Abdul Somad dengan Prabowo

Menggambarkan tentang Prabowo, seseorang dalam grup WA yang sama menulis, “Harta sudah habis, cuma satu yang ia masih miliki: harga diri dan kepercayaan rakyat. Itu pun ia lepas.”

Lain lagi emosi yang meluap di lokasi pertemuan. Di sana, warga yang sepertinya sudah disiapkan menyambut ucapan selamat dari Prabowo kepada Jokowi dengan teriakan histeris, “We love you…”

Ucapan bersahabat dan asyik itu sebagai hadiah ketika Prabowo mengaku kalah. “Ada yang bertanya kenapa Pak Prabowo belum ucapkan selamat atas Pak Jokowi ditetapkan sebagai presiden, saya katakan saya ini walau bagaimanapun ada euh pakeuh, tata krama,” ujar Prabowo. “Jadi kalau ucapkan selamat, maunya tatap muka. Jadi saya ucapkan selamat,” kata Prabowo lalu mengajak berjabat tangan Jokowi. Sang pemenang pun menyambut dengan senyum cerita. Wajahnya riang gembira.

Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo Sabtu ini merupakan ending yang penuh emosional bagi banyak orang. Prabowo selalu mengatakan “demi persatuan nasional dan demi rakyat” atas apa yang dilakukan tersebut. Benar, sebagian masyarakat memang menunggu momen ini, kendati banyak juga yang belum move on pasca pilpres 2019.

Sesungguhnya publik sudah mencatat dan menduga ending seperti itu. Yah, mirip-mirip pasca pilpres 2014. Kala itu, Prabowo juga meyakini dirinya bersama Hatta Radjasa adalah pemenang pilpres sejatinya. Pasangan ini juga merasa dicurangi. Toh, Prabowo akhirnya mengendorkan urat marahnya. Dia rela bertemu Jokowi “demi kepentingan nasional” dalihnya.

Rupanya kaset itu pula yang diputar ulang saat ini. Keduanya tampaknya sadar bahwa pertarungan dalam pilpres 2019 berbeda dengan pilpres 2014. Pilpres kini jauh lebih seru dan gila. Di sebut seru karena munculnya dua kekuatan yang sama-sama militan. Satu disebut cebong, satu lagi kampret. Kedua kubu saling serang di medsos. Lalu gila, karena publik menyaksikan dengan mata telanjang kecurangan pilpres itu, namun tetap saja tidak dianggap salah oleh penyelenggara pemilu. Bahkan Mahkamah Konstitusi (MK) pun menutup mata atas pelanggaran tersebut.

Kepentingan Nasional

Pertemuan kedua tokoh yang merepresentasikan cebong dan kampret itu memang penting. Lebih penting dari sebelumnya. Boleh jadi inilah mengapa pertemuan itu dilakukan jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Soalnya, pasca pilpres 2014 kedua tokoh ini baru bisa dipertemukan menjelang pelantikan presiden dan wapres terpilih, tepatnya pada 17 Oktober 2014.

Kala itu Jokowi bertamu di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Jokowi mengundang Prabowo untuk menghadiri pelantikan Presiden pada 20 Oktober 2014. Pertemuan berlangsung setelah Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. Usai pertemuan, Prabowo menegaskan bahwa pertemuan itu penting dilakukan demi persatuan nasional.

Baca Juga :  Ohoi, Kivlan Zen Mau Makar? Sebuah Opini Dimas Huda

Dua tokoh ini kembali bertemu pada 29 Januari 2015. Ini kali, Prabowo menemui Jokowi setelah ia menjabat sebagai presiden. Pertemuan dilakukan di Istana Bogor, Jawa Barat.

Lalu, dalam pertemuan berikutnya, Prabowo mengundang Presiden Jokowi ke kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Pertemuan dilakukan pada 31 Oktober 2016. Kala itu Jokowi tampil mengenakan topi ala koboi pemberian Prabowo. Mereka berdua berkuda di halaman rumah Prabowo. Jokowi menunggangi kuda putih bernama Salero.

Pertemuan lain terjadi saat pergelaran Asian Games 2018. Saat itu, Jokowi dan Prabowo sama-sama menghadiri pertandingan final cabang pencak silat di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah pada 29 Agustus 2018.

Pertemuan ke pertemuan itu selalu saja mengundang perhatian publik. Hanya saja, pertemuan pasca-pilpres 2019 ini jelas beda. Banyak pihak curiga ada deal-deal khusus keduanya. Pertemuan yang konon diinisasi Kepala BIN Budi Gunawan ini dianggap sebagai upaya rekonsiliasi. Seorang tokoh berbisik, “Bersiaplah menyambut kepulangan Habib Rizieq Shihab…”

Sebelumnya memang sudah santer terdengar tuntutan dari kalangan lingkar Prabowo bahwa rekonsiliasi bisa dilakukan dengan syarat salah satunya adalah memulangkan Habib Rizieq secara terhormat. Namun tak sedikit juga yang curiga ada deal-deal lebih dari sekadar Rizieq. Pemulangan Rizieq hanyalah cara yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Jika ini sukses, maka Prabowo jelas dianggap telah membayar jasanya kepada tokoh Front Pembela Islam (FPI) itu. Bagi Jokowi, bisa menjadi salah satu pintu keluar bagi ruwetnya hubungan dirinya dengan umat Islam.

Bagaimana pun, sampai kini, stigma bahwa Jokowi anti-Islam, prokomunis, yang mengarahkan kebijakan politik dan ekonomi ke poros Jakarta-Bejing, masih melekat di benak banyak orang yang menghendaki dirinya lengser. Bayang-bayang ini akan panjang dan berlarut-larut, sampai Jokowi mampu membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi presiden bagi seluruh rakyat Indonesia.

Loading...

Baca Juga