oleh

Poros Beijing-Jakarta, Sebuah Opini Indra Adil

Poros Beijing-Jakarta. Oleh: Indra Adil, Eksponen 77/78, Penulis.

Karakter Ekspansionistis Republik Rakyat China

Bagaimanapun pembelaannya, Poros Beijing-Jakarta sudah terbentuk. Setiap saat akan ada pemimpin Indonesia yang pasang badan melestarikan Poros Beijing-Jakarta demi syahwat kekuasaan dan kekayaan. Poros ini akan terpelihara terus sepanjang zaman. Bahkan saat -bila ternyata benar- Indonesia sudah menjadi bagian integral dari Republik Rakyat China. Mengapa demikian?

Poros ini dibentuk bukan karena alasan sederhana. Alasan terpenting China adalah penduduk yang populasinya luar biasa dengan sumber daya alam yang terbatas. Meskipun China, sebelum abad 21 tidak memiliki sejarah sebagai bangsa yang enspansionis (kecuali di era Dinasty Mongol), di abad ini mereka justru menjadi negara paling ekspansif di dunia.

Beberapa negara yang sudah masuk dalam dominasi China melalui jebakan hutang adalah Bangladesh, Sri Lanka, Pakistan, Montenegro, Maldivest, Djibouti, Tibet, Nepal, Kamboja, Laos, Turkistan, Zimbabwe, Somalia, Uighur, Papua Nugini dan Timor Timur. Kini beberapa negara Asia sedang menjadi incaran China seperti Malaysia, Myanmar, Thailand, Philipina, Vuetnam, Indonesia dan beberapa negara Afrika di antaranya Afrika Selatan.

Dukungan Taypan Hoakiau Global.

Baca tulisan Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future (GFI) di bawah tulisan ini

Persoalan Besar Bangsa Indonesia

Persoalan kronis bangsa ini adalah kebodohan dan keluguan etnis yang dibarengi dengan kemalasan berpikir. Suku-suku yang berada di Indonesia didominasi oleh etnis Melayu. Yang dalam perspektif lama terbagi dua antara Melayu Proto dan Melayu Deutro.

Yang dimasukkan ke dalam Melayu Proto (Melayu Tua) atau Melayu Gelombang Pertama yang masuk ke Indonesia adalah Melayu Toraja (Sulawesi Selatan), Sasak (Lombok), Dayak (Kalimantan), Batak (Sumatra Utara), Nias (Pantai Barat Sumatra Utara), Gayo (Aceh), Rejang dan Melayu Badui. Sedangkan yang digolongkan sebagai Melayu Deutro (Melayu Muda) adalah Aceh, Minangkabau, Jawa, Sunda, Melayu, Betawi, Manado, Bali dan Madura.

Pada umumnya mereka adalah suku-suku yang taat kepada penguasa. Hidup mereka sepenuhnya (sebagian terbesar) bergantung kepada tanah atau laut tempat mereka berpijak. Artinya mereka bergantung sepenuhnya kepada penguasa yang menguasai tanah dan laut tersebut.

Oleh sebab itu, rakyat dari etnis ini adalah rakyat yang taat membayar pajak bahkan sebesar apa pun. Hampir tidak ada jejak sejarah yang mencatat timbulnya pemberontakan dari rakyat jelata yang terhimpit atau yang dipimpin oleh rakyat jelata, betapapun menderitanya mereka. Mungkin yang menyimpang adalah legenda Joko Tingkir dan Ken Arok.

VOC ataupun Belanda ataupun Inggris sangat mengerti hal ini, sehingga menurut mereka, cukup dengan menguasai pusat-pusat pemerintahan di Nusantara, mereka akan dapat menguasai rakyatnya. Itulah yang telah mereka lakukan, dan sukses! Sementara penguasa-penguasa di Nusantara hampir tak ada yang peduli dengan nasib rakyatnya. Mereka lebih sibuk dengan dirinya sendiri, yang bekerja keras untuk martabat diri dan keluarga. Meski dengan cara-cara menyimpang seperti menerima sogokan dan upeti tanpa ada rasa malu sedikit pun.

Pahami tulisan Raffles dalam bukunya “Histori of Java” di bawah ini :
“His observations were, however, not lacking criticism where such was warranted. Those of higher rank, those employed about court or administering to the pleasure or luxuries of the great, those collected into the capital or engaged in public service, are frequently profligate and corrupt, exhibiting many of the vices of civilisation without its refinement, and the ignorance and deficiencies of a rude state without its simplicity.

The people in the neighbourhood of Batavia are the worst in the island, and the long intercourse with strangers has been almost equally fatal to the morals of the lower part of Bantam. He clearly blames the foreign influences for this behaviour. …but the farther they are removed from European influence and foreign intercourse, the better are the morals and the happier are the people.(The History of Java, p. 247/248)

Baca Juga :  Forum Diskusi Tokoh Menolak Proyek OBOR Cina

“…para petinggi (elite) sebagai abdi dalem atau adipati yang ditugaskan untuk mengurus demi kepentingan pusat umumnya sangat riya dan korup. Terperangkap dalam eksibisi dari ekses peradaban dengan sifat yang jahiliyah, dungu, dan nihil kesederhanaan. Kehidupan warga Batavia dan sekitarnya yang sangat dekat dengan kekuasaan yang paling kentara atas ekses tersebut dan sangat fatal untuk rendahnya moral. Semisal di Banten dan sekitarnya.”

Jadi cukup dengan menguasai elit Indonesia yang hanya segelintir itu, penjajah dari manapun akan dapat menguasai berapapun jumlah rakyat Indonesia. Karena secara otomatis “kedunguan” (meminjam istilah Rocky Gerung) akan menguasai sebagian besar rakyatnya yang memang malas berpikir dan suka bekerja. Contohnya adalah petani-petani Nusantara yang merupakan pekerja keras dan tulus, tetapi berabad-abad tak pernah terbebas dari belenggu kemiskinan hanya dikarenakan malas berpikir.

Dampak Fatal yang Akan Menerpa Bangsa Indonesia

Saat ini, begitu pintarnya para penjajah. Mereka telah berhasil menguasai bukan hanya perekonomian kita, tetapi bahkan sumber daya alam dan tanah serta lautan kita. Pendukung utama mereka justru adalah para pemimpin kita sendiri. Para elit-elit penguasa, baik penguasa partai maupun penguasa eksekutif. Tentu saja mereka adalah para pemuja tahta dan harta yang tega menghianati negeri dan rakyatnya, demi syahwatnya.

Tak satu pun partai di negeri ini yang memiliki pemimpin yang berorientasi kepada kesejahteraan rakyat. Seluruh pemimpin partai adalah pemimpin-pemimpin karbitan yang dibesarkan oleh media-media yang juga karbitan. Media yang bahkan mungkin tak pernah tahu tentang Kode Etik Jurnalistik. Tak satupun di negeri ini ada media yang independen. Yang sesuai dengan butir-butir dalam Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Saat ini di negeri kita, seluruh media-media “main stream” dimiliki pemodal-pemodal kuat. Yang berkepentingan menguras kekayaan negeri ini, bahkan untuk menguasainya. Oleh sebab itu, bila kita hanya mengacu kepada berita-berita dari media resmi, maka akan bias pemahaman kita tentang apapun yang terjadi, karena penyesatan selalu dilakukan mereka di dalam pemberitaan-pemberitaan.

Bila kita mengenal Dinas Rahasia Uni Soviet, KGB, sebagai dinas rahasia penyebar dis-informasi terbaik di dunia, karena mampu membuat berita bohong dengan fakta minimal sampai 25%, maka media-media “main-stream” Indonesia saat ini mampu membuat berita bohong dengan fakta 0%. Mereka berpegang kepada pepatah “kebohongan yang dipompakan kepada masyarakat dengan masif dan terus menerus, akan mampu membuat masyarakat percaya bahwa berita tersebut adalah kebenaran”.

Baca Juga :  Prabowo Memang Harus Keras Soal Pertahanan, Opini Asyari Usman
Contoh terbaik berita sejenis saat ini adalah, membuat Pilpres dan Pemilu Indonesia tahun 2019 sebagai peristiwa yang penuh kejujuran dan keadilan. Berita itu telah membuat banyak masyarakat Indonesia yang malas berpikir, menjadi percaya. Meskipun mereka juga menyaksikan kecurangan-kecurangan tersebut. Baik langsung maupun melalui tayangan-tayangan video yang bertebaran di medsos.

Dengan kondisi seperti itu, sangat mudah bagi negara yang berniat menguasai Indonesia untuk mengadu domba sesama anak bangsa. Dan untuk membuat sesama anak bangsa saling mencurigai.

Lalu, dengan menguasai pemimpin-pemimpin bonekanya, mereka juga mampu membuat benteng terkuat suatu bangsa, yaitu tentaranya menjadi lemah. Kita tak perlu berdebat lagi bahwa negara peminat terbesar terhadap Indonesia saat ini adalah China.

Semua persyaratan yang mereka perlukan untuk melancarkan misi mereka sudah mereka miliki. Dana yang besar untuk memberi pinjaman mudah berbunga tinggi yang artinya menciptakan jebakan hutang, agen di negara setempat yang merupakan warga negara mereka sekaligus warga negara setempat (ingat Undang-undang Dwi Kenegaraan). Pemimpin-pemimpin boneka yang haus kekuasaan dan kekayaan. Yang bisa mereka rekrut sebagai agen bayaran dan juga masyarakat yang bodoh. Yang dapat mereka kelabui melalui berita-berita dis-informasi dan hiburan-hiburan memabukkan generasi mudanya.

Saat ini OBOR (One Belt One Road) atau yang telah berubah nama menjadi BRI (Belt and Road Initiative) telah berhasil menghubungkan beberapa negara Asia dan Afrika terutamanya, di bawah penguasaan penuh RRC. Indonesia menjadi target utama untuk dikuasai. Bukan hanya karena kekayaan alamnya. Tetapi merupakan mata rantai terkuat yang sangat bisa mempengaruhi kemudahan penguasaan negara-negara Asean lainnya.

Di samping itu penguasaan ekonomi di tangan komunitas global Hoakiau setempat yang sudah merasuk ke relung-relung terbawah ekonomi nasionalnya, akan sangat membantu misi BRI melalui Poros Beijing-Jakarta. Poros tersebut kini telah berhasil mengaburkan masalah ideologi, menimbulkan masalah TKA yang merampas hak pekerja pribumi, mematikan bisnis UKM dengan membanjiri barang-barang buatan China yg super murah dll.

OBOR atau BRI kini sudah menjadi politik ekspansi China untuk penguasaan sumberdaya alam suatu negara. Sudah banyak bukti di beberapa negara Afrika dan Asia lainya. Migrasi warga negara China ke negara-negara lain sudah menjadi politik internasional China. Mereka secara perlahan tetapi pasti, sedang dalam tahap menciptakan Indochina Raya dan mereka sangat terbantu dengan keberadaan Hoakiau yang sudah eksis di negara-negara yang dituju sebagai mangsa, termasuk Indonesia.

Kesimpulan

PENGUASAAN CHINA TERHADAP INDONESIA TINGGAL MENGHITUNG TAHUN, MUNGKIN TIDAK SAMPAI SATU DEKADE (TAHUN 2030)

Loading...

Baca Juga