SUARAMERDEKA.ID – Paguyuban Konsumen Plastik dan Benang Nusantara menyampaikan keberatan terhadap rencana kebijakan tambahan tarif yang berpotensi membuat harga bahan baku plastik dan benang menjadi lebih mahal.
Menurut Paguyuban, persoalan yang dihadapi pelaku usaha saat ini sebenarnya sederhana: harga bahan baku harus tetap terjangkau supaya pabrik bisa jalan, pesanan bisa dikerjakan, dan pekerja tetap mendapat penghasilan.
“Kami ini pengguna bahan baku. Kalau harga benang dan plastik naik, yang langsung kena ya kami. Biaya produksi naik, harga jual ikut tertekan, sementara belum tentu pembeli mau menerima kenaikan harga,” Ujar Iqbal, Koordinator Paguyuban Konsumen Plastik dan Benang Nusantara, Saat dirinya mengkonfirmasi via sambungan telepon kepada awakmedia, Jum’at, (07/08/2026).
Ia mengatakan, banyak anggota Paguyuban merupakan pelaku usaha hilir, termasuk perusahaan kecil dan menengah, konveksi, pengolahan plastik, dan usaha lain yang sangat bergantung pada harga bahan baku.
“Jangan sampai kebijakan yang niatnya mau menolong satu kelompok industri malah membuat banyak usaha di bawahnya kesulitan. Kami cuma minta pemerintah melihat keadaan di lapangan secara utuh,” Katanya.
Paguyuban menilai, apabila harga bahan baku naik terlalu tinggi, perusahaan akan kesulitan menjaga biaya produksi. Bagi perusahaan besar mungkin masih ada ruang untuk menyesuaikan.
Namun bagi usaha kecil dan menengah, kenaikan harga bahan baku bisa langsung mengganggu arus kas dan kegiatan produksi.
“Kalau bahan baku mahal, pilihan pengusaha makin sempit. Produksi dikurangi, pesanan bisa lepas, dan kalau terus begitu akhirnya pekerja juga yang kena. Yang kami takutkan itu PHK,” Pungkasnya.
Menurutnya, Industri hilir saat ini justru membutuhkan kepastian harga bahan baku agar tetap bisa bersaing, baik di pasar dalam negeri maupun ekspor.
“Kami bukan menolak produk dalam negeri. Kalau barang dalam negeri kualitasnya bagus, pasokannya ada, dan harganya masuk, tentu kami beli. Kami juga ingin industri dalam negeri maju,” Imbuhnya.
Paguyuban meminta pemerintah tidak hanya melihat persoalan dari sisi produsen bahan baku, tetapi juga melihat kondisi pengguna bahan baku.
“Yang memakai benang dan plastik ini banyak sekali. Ada pabrik, IKM, UMKM, konveksi, sampai usaha kecil. Kalau harga bahan baku naik, dampaknya bisa ke mana-mana,” Kata Iqbal dengan nada penuh harapan.
Ia menambahkan, Kondisi usaha saat ini juga belum sepenuhnya mudah. Pelaku usaha masih menghadapi persaingan ketat, biaya listrik, upah, logistik, dan tekanan harga dari pembeli.
“Jangan tambah beban lagi. Yang kami butuhkan sekarang justru bahan baku yang murah dan stabil supaya usaha tetap hidup,” Tambahnya.
Paguyuban menegaskan bahwa industri hilir tetap mendukung penggunaan produk dalam negeri. Namun, produk lokal harus mampu bersaing dari sisi harga, kualitas, dan ketersediaan barang.
“Kami siap beli dari dalam negeri. Tapi jangan dipaksa kalau harganya jauh lebih mahal. Kami juga harus hitung supaya usaha masih untung dan pekerja tetap bisa digaji,” Ujar Iqbal.
Menurutnya, langkah yang lebih baik adalah mempertemukan produsen bahan baku dan pengguna untuk mencari harga dan pola pasokan yang sama-sama menguntungkan.
“Kalau hulunya sehat, hilirnya juga harus sehat. Jangan hulunya ditolong tapi hilirnya malah sesak,” Tegasnya.
Paguyuban berharap pemerintah mengambil keputusan yang benar-benar mempertimbangkan keberlangsungan usaha dan tenaga kerja.
“Bagi kami persoalannya sederhana. Jangan sampai harga bahan baku naik, usaha terganggu, lalu pekerja kehilangan pekerjaan. Kami ingin pabrik tetap jalan, pesanan tetap ada, dan orang tetap bisa bekerja,” Tutup Iqbal. (RED)






