oleh

Henry Yoso Lebih Baik Evaluasi PDIP, Ketimbang Melanjutkan Laporan Terhadap HRS

Henry Yoso Lebih Baik Evaluasi PDIP, Ketimbang Melanjutkan Laporan Terhadap HRS.

Ditulis oleh: Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik.

Henry Yosodiningrat, politisi PDIP kembali mempersoalkan HRS. rasanya, tindakan ini mengkonfirmasi adanya pihak-pihak yang tidak bahagia dengan kepulangan IB HRS. Padahal, suasana kebatinan umat secara umum saat ini sedang bergembira, berbahagia, atas kepulangan salah seorang ulama pejuang, yang konsisten berdakwah melawan kekuasaan zalim.

Ihwal yang dipersoalkan, juga hanya soal ‘tendensi’ karena HRS dianggap telah mencemarkan dirinya. Soal yang diperkarakan, juga soal sensitif yang selama ini sudah menjadi rahasia umum umat Islam.

Henry Yoso merasa dicemarkan, karena dituding pro komunisme dan anti Islam. Stigma yang sama yang saat ini lekat pada PDIP, partai dimana Henry meniti karir politik.

Apalagi, jika itu berasal dari akun sosmed. Saat ini, siapapun bisa menjadi apapun dan berbuat untuk dan atas nama siapapun, menggunakan sarana sosial media. Dalam hal ini, HRS adalah orang yang paling masif dirundung sosial media. Bahkan, jika nama lengkapnya atau fotonya di unggah di Facebook, sudah pasti netizen terkena semprot Facebook.

Baca Juga :  Prabowo: Yakinlah Saudara-Saudara Kita Pasti Menang

Karenanya, untuk menguatkan tindakan ini merupakan kriminalisasi jauh sulit diingkari ketimbang mempercayainya sebagai sebuah penegakan hukum. Kriminalisasi, adalah Trade Mark rezim yang berkuasa saat ini.

Soal PKI, soal komunisme, soal PDIP yang dekat dengan dua isu itu, sudah bukan rahasia umum. Salah satu kader PDIP Ripka Tjiptaning dengan terbuka bangga menjadi anak PKI. Soal di PDIP ada banyak eks PKI, Arteria Dahlan juga mengakui. Soal Henry Yoso yang merasa dirinya dianggap PKI dan anti Islam, itu juga merupakan silogisme yang dapat dirujuk konklusinya. Kecuali, Henri politisi partai PKS, mungkin agak aneh jika dianggap Pro komunis atau anti Islam.

PDIP sendiri, dalam pembahasan RUU HIP justru yang paling ngotot untuk meloloskan UU yang didalamnya, terdapat pemerasan Pancasila hingga tersisa ekasila, gotong royong. Substansi gotong royong yang menghilangkan sila ketuhanan yang maha esa, adalah sejalan dengan visi komunisme.

Baca Juga :  Antara Prahara Partai Demokrat dan Wacana Presiden Tiga Periode

Saya sarankan, kepada siapapun yang mau mengkriminalisasi ulama kami, lebih baik mundur. Kami tak akan menyerahkan ulama kami, kami tak akan percaya dalih penegakan hukum, kami muak dengan praktik penegakan hukum di negeri ini.

Jika ingin mengambil resiko perkara dengan harga yang murah, lebih baik hentikan. Tetapi jika kalian, siapa saja yang membenci ulama memiliki sejumlah perbendaharaan untuk taruhan, keluarkan semuanya. Kami akan Pasang, berapapun taruhan yang akan Kalian keluarkan.

Kami telah terbiasa berada di parit-parit perjuangan, untuk selalu terjaga menjaga kemuliaan para ulama. Kamu, telah terbiasa untuk tidur sekejap dan bangun bergegas, demi memenuhi seruan pembelaan, terhadap ulama, agama, ajaran dan simbol kemuliaan Islam.

Kami telah menjual bagian kami di dunia, untuk bagian kami yang abadi di akhirat. Kami telah merelakan kehilangan kesenangan yang sedikit, untuk kesenangan abadi, kesenangan dan kebahagiaan yang tiada berkesudahan.

Loading...

Baca Juga