oleh

Sesudah Jokowi Tumbang: (4) Resolusi Jihad. Opini Sri Bintang

Sesudah Jokowi Tumbang: (4) Resolusi Jihad. Oleh: Sri Bintang Pamungkas, Aktivis.

Republik Indonesia berada dalam Bahaya Besar. Bahaya yang bisa mengakibatkan hilangnya Republik Proklamasi 45 itu dari Peta Bumi. Oleh karena itu perlu diselamatkan oleh para Pejuang sebagaimana dulu, 75 tahun yang lalu, pernah berjuang untuk merdeka dari Penjajahan… Perjuangan Kemerdekaan mana berhasil melahirkan Republik Indonesia, Negara Kepulauan terbesar di Dunia, dan memunculkannya di Peta Bumi. Kemunculannya di Peta Bumi Dunia ini sekarang terancam hapus…

Sesudah kelahirannya itu Republik Indonesia pernah diprediksi menjadi Negara Besar dengan kekuatan Rakyatnya yang nomor 4 di Dunia, oleh kekuatan Ekomominya yang ditunjang oleh kesuburan tanahnya yang luas serta berlimpah-ruahnya sumberdaya alamnya, oleh Keislaman Rakyatnya yang terbesar di Dunia dan berhasil mengusir penjajahan di muka Bumi Nusantara sebagai Rahmat dari Tuhan Sekalian Alam… Serta tidak lupa oleh Kekuatan TNI-nya yang sejauh itu pernah menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggara…

Seluruh unsur Kekuatan Republik ini sudah melemah dan hampir mendekati keruntuhan dewasa ini… Mirip dengan menjelang runtuhnya Sriwijaya, Majapahit dan Kerajaan Kesultanan Islam yang pernah menjadi Kerajaan-kerajaan Besar di Tanah Nusantara ini… Membentang dari Tepi Timur Afrika sampai Tepi Barat Australia.

Kalau Tentara Jepang dalam waktu sepekan bisa menggilas Tentara Kerajaan Belanda dan pendudukan Pedagang-pedagang Belanda lainnya selama 350 tahun… Maka takjub dan serasa Tidak Masuk Akal, ketika Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan peringatannya agar tidak mengusik orang-orang Cina di Indonesia. Kalau Peristiwa Mei 1998 itu diulang, katanya, maka RRC bisa menggilas Indonesia hanya dalam tiga hari… Padahal Peristiwa Mei 1998 itu tidak ada. Peristiwa yang dituduhkan sebagai “penganiayaan terhadap Etnis Cina Indonesia (ECI)” itu hanya dalih untuk mendapatkan Suaka Politik menjadi warga negara AS. Konon ada 50 ribu dari mereka yang terancam dideportasi kembali.

Jadi apa sebenarnya pesan yang mau disampaikan Gatot?! Yaitu, bahwa warganegara ECI sudah menjadi Kekuatan Segregatif; bahwa RRC tidak segan untuk mengerahkan kekuatan Angkatan Perangnya untuk menghukum Indonesia; bahwa TNI sudah menjadi kekuatan lemah untuk mampu mempertahankan Kedaulatan Negara; dan bahwa ada tanda-tanda kekuatan Komunis bangkit di Indonesia, yang membangun komunikasi dengan Komunis RRC seperti tahun 1965…

Soal rusaknya perekonomian sudah menjadi pengetahuan umum, sebab kerusakan itu sudah terjadi sejak jaman Soeharto… dan semakin bertambah-tambah rusaknya. Yang masih menjadi pertanyaan adalah kekuatan para Pejuang Islam Indonesia… Apakah mereka sadar, lahir dan batin, bahwa pada dewasa ini mereka menjadi satu-satuya kekuatan yang bisa menyelamatkan Republik Proklamasi… Sebagaimana pernah terjadi pada akhir 1945, saat para Pejuang Islam mengusir kekuatan Asing yang mau berkuasa kembali di Indonesia…

Belum lama sesudah Kemerdekaan diproklamirkan, Tentara Sekutu menolak kemerdekaan Republik Indonesia dan mengancam agar kedaulatan Hindia Belanda diserahterimakan kepada Sekutu yang menang Perang Dunia II. Soekarno-Hatta gamang membayangkan bakal kalah perang melawan Sekutu. Maka atas saran Panglima Soedirman, Soekarno-Hatta mengirim utusan kepada Kyai Hasyim Asy’ari, Ketua Nahdhatul Ulama, menanyakan apa hukumnya berjihad membela Negara dalam sebuah Negara bukan Islam seperti Indonesia.

Kyai Asy’ari mengundang para Ulama dan Pimpinan NU seJawa dan Madura untuk berkumpul di Surabaya, termasuk Kyai Wahab Hasbullah dari Jombang dan Kyai Abbas dari Buntet, Cirebon. Mereka diminta untuk memohon Petunjuk dari Allah Swt.

Esok harinya, 22 Oktober 1945 terbitlah Maklumat para Ulama NU tersebut yang disebut sebagai Resolusi Jihad. Jihad dengan harta dan nyawa sebagai solusi untuk membela Negara, mempertahankan Kemerdekaan dengan melawan musuh yang akan menjajah kembali Republik Indonesia:

1. Setiap Muslim, tua dan muda, serta miskin sekalipun, berwajib memerangi orang-orang Kafir yang menghalangi Kemerdekaan Indonesia.
2. Pejuang yang tewas dalam membela Kemerdekaan dianggap sebagai Syuhada.
3. Warga yang memihak penjajah dianggap memecah-belah persatuan dan karena itu wajib dihukum mati…

Resolusi Jihad tersebut disebarluaskan, sehingga ribuan Santri, mereka yang tergabung dalam Laskar-laskar Islam, seperti Hisbullah dan Sabilillah dan lain-lain, tentara pemuda, tentara pelajar dan tentara keamanan rakyat, semua berkumpul datang ke Surabaya. Ketika Tentara Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mallaby dari Inggris mendarat di Surabaya terjadilah pertempuran hebat selama tiga hari pada 27-29 Oktober 1945.

Tentara Inggris kewalahan melawan Arek-arek Suroboyo, sehingga meminta Gencatan Senjata mulai 30 Oktober. Akan tetapi terjadi insiden di Jembatan Merah yang menewaskan Mallaby. Tentara Sekutu marah dan mengancam akan membumi hangus Surabaya kalau tidak menyerahkan senjata-senjata hasil rampasannya dari Jepang paling lambat pada 10 November.

Mallaby digantikan Jenderal Robert Mansergh. Pemuda Soetomo muncul dengan menyebarkan Resolusi Jihad lewat radio. Soetomo pun terkenal dengan teriakannya “Merdeka” serta “Allahu Akbar” yang terus menggema dalam pertempuran. Perang Kemerdekaan 10 November pun tidak bisa dielakkan. Mendengar teriakan Allahu Akbar yang bertalu-talu itu, para Tentara Gurkha yang bertubuh besar asal Dataran Tinggi Pakistan yang dikerahkan Inggris itu pun mundur… Robert Mansergh tewas, sekalipun ribuan Laskar Jihad juga mati sahid. Tetapi tentara Sekutu pun akhirnya mundur dari Medan Perang…

Sekarang jelas Republik Indonesia berada dalam ancaman Komunis RRC yang dibantu oleh para Pengkhianat di dalam negeri. Bahkan sudah ada ribuan atau jutaan Tentara Merah, berikut mesin-mesin perangnya, yang masuk ke Indonesia dengan menyamar sebagai Tenaga Kerja Asing. Maka jelas Indonesia berada dalam situasi berbahaya yang sangat mirip dengan situasi ketika Tentara Sekutu mau menjajah kembali Indonesia. Maka sangat mungkin pula kita perlu menyiapkan Resolusi Jihad ke Dua untuk mengerahkan kekuatan Rakyat dan Muslimin Indonesia guna mempertahankan Kemerdekaan dan Menyelamatkan Republik Indonesia

Loading...

Baca Juga