oleh

Pesta Miras Jadi Pesta Sex di Banyuwangi, Mengapa Bisa Terjadi?

SUARAMERDEKA.ID – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan peristiwa pesta miras jadi pesta sex yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu. Anak-anak perlu diedukasi secara baik terhadap pendidikan reproduksi dan resiko-resiko yang ditimbulkan dari pergaulan yang tidak bertanggungjawab.

Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Kadivwasmonev KPAI, Jasra Putra menuturkan, penting bagi semua pihak untuk mengedukasi anak tentang reproduksi dan resiko pergaulan. Pasalnya, berdasarkan catatan KPAI, kasus dengan kronologis yang hampir sama juga pernah terjadi sebelumnya.

“Sudah ada kasus yang sama sebelumnya. Agustus 2019 di Palembang,” kata Jasra Putra saat dihubungi melalui pesan WA, Sabtu (6/2/2021) malam.

Komisioner KPAI ini menyebutkan kajian dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Berdasakan kajian yang ada, terdapat kecenderungan kasus tindak pidana dimulai dari pengaruh nikotin rokok, narkoba, minunan keras dan berakhir tindak pidana seksual.

“Kasus yang menimpa seseorang ini menjadi paket peristiwa hukum yang mengakibatkan terjadinya peristiwa tindak pidana. Baik pelaku maupun korban berada dalam pengaruh alkohol, napza dan sejenisnya,” imbuhnya.

Merujuk pada peristiwa pesta miras jadi pesta sex yang terjadi di Banyuwangi, menurutnya, perlu didalami kenapa seorang anak memperlakukan pacarnya seperti itu. Dari beberapa kasus yang didampinginya, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya kejahatan tidak tunggal terhadap anak.

“kalau dilihat sementara, kasus ini disamping pengaruh alkohol, bisa juga pengaruh anak pernah menyaksikan peristiwa yang sama, atau terpapar dengan film porno. Atau boleh jadi rendahnya pengawasan dan perhatian orang tua dalam situasi covid ini,” ujar Jasra putra.

Baca Juga :  Pupuk Langka, Relawan Jokowi Ajak Petani Demo di Istana Negara

Terlebih, lanjutnya, TKP peristiwa tersebut sepertinya terjadi di lingkungan yang jauh dari pemukiman penduduk. Atau bisa jadi karena longgarnya perhatian masyarakat terhadap kejadian tersebut.

Ia pun meminta kepada aparat hukum setempat untuk memberikan hukuman maksimal kepada pelaku dewasa berdasarkan UU Perlindungan Anak. Pemberian hukuman secara maksimal diharapkan memberikan efek jera bagi para pelaku.

“Meminta kepada aparat hukum agar pelaku dewasa dapat diterapkan hukuman maksimal dalam UU Perlindungan Anak. Agar ada efek jera bagi pelaku,” tegasnya.

Pesta Miras Jadi Pesta Sex di Banyuwangi, Mengapa Bisa Terjadi?
Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (Kadiv Monev KPAI) Jasra Putra

Selain itu, Komisioner KPAI ini juga mengingatkan, dalam situasi Covid-19 ini diharapkan peningkatan pengawasan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah dan orang tua kepada anak dimanapun berada. Perlu dihidupkan secara terus menerus alarm sistem perlindungan anak yang terkoneksi secara baik. Sehingga peristiwa serupa dan kasus yang sudah kesekian kalinya tidak terjadi lagi.

“Apalagi akses terhadap minuman alkohol sangat mudah sekali didapatkan. Dan minimnya kontrol petugas terhadap barang ini. Maka situasi ini dimanfaatkan oleh anak sebagai jalan keluar sementara terhadap problem hidup yang dihadapi oleh anak,” tutup Jasra Putra.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, Seorang gadis 14 tahun asal Kabupaten Banyuwangi Melati (nama samaran) disetubuhi  secara bergilir usai melakukan pesta miras. Kejadian ini berulang di tempat yang berbeda dengan kondisi yang sama.

Menurut Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Arman, kejadian ini berawal dari Melati (nama samaran) dan AN (pacar Melati) berjalan-jalan ke sebuah waduk di wilayah Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. AN, menurut Kapolresta banyuwangi, bersama dengan kawan-kawannya sudah merencanakan untuk menggelar pesta miras di sekitaran waduk Glenmore Banyuwangi.

Baca Juga :  KPAI Himbau Orangtua Tak Libatkan Anak Dalam Demo

“Saat tersangka AN dan korban tiba di tempat kejadian perkara, datanglah tersangka AB dan FS membawa minuman keras,” kata Kapolres Banyuwangi saat konferensi pers di Mapolresta Banyuwangi, Jumat (5/2/2021).

Lanjutnya, para tersangka langsung menyetubuhi Melati saat ia mabuk sampai tak sadarkan diri.

“Aksi persetubuhan diawali tersangka AN yang merupakan pacar korban. Kemudian digilir oleh tersangka FS dan AB,” ungkap Kombes Pol Arman.

Kapolresta Banyuwangi melanjutkan, AN kemudian membawa Melati ke sebuah rumah di wilayah Kecamatan Glenmore Banyuwangi. AN kemudian kembali mengajak Melati untuk pesta miras bersama teman-teman lainnya yang baru datang. Melati yang tak sadarkan diri kemudian dibawa AN ke sebuah kamar. AN kembali menyetubuhi Melati dan menyuruh teman-temannya untuk menggilir pacarnya.

“Tersangka AN mengajak korban pesta miras kembali bersama teman lainnya yang baru datang. Yakni RE, SP, dan VD yang memiliki rumah. Korban tak sadarkan diri karena sudah terlalu banyak mengkonsumsi miras. Terjadi pesta sex dengan digilir sesion ke dua. Setelah disetubuhi, korban diantar pulang oleh tersangka FS ke rumahnya,” imbuh Arman.

Oran tua Melati, kata Arman, curiga karena anaknya tak sadarkan diri saat diantar pulang. Saat Melati sadar, ia menceritakan peristiwa yang dialaminya. Orangtua Melati pun tidak terima dan langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Glenmore Banyuwangi.

Saat ini keenam tersangka ditahan di Mapolresta Banyuwangi. (OSY)

Loading...

Baca Juga