oleh

Paradigma Sekuler Dibalik Narasi New Normal. Opini Maysaroh

Paradigma Sekuler Dibalik Narasi New Normal. Oleh: Maysaroh Nur Hasanah, Mahasiswi Malang, Anggota Komunitas Pena Langit.

Inkonsistensi kebijakan, begitulah gambaran yang tepat terkait sikap pemerintah dalam menangani wabah. Sejak kemunculan corona, pemerintah nampak santai dengan berdalih bahwa masyarakat Indonesia kebal corona. Sibuk merangkai diksi, berujar bahwa negeri ini bebas dari virus corona yang kini telah menjadi pandemi.

Tak hanya itu, publik dibuat gempar dengan statement Presiden Jokowi melalui akun twitter resminya yang menyerukan hidup berdamai dengan corona hingga vaksin ditemukan (7/5/2020). Setelah sebelumnya garang dan tegas menyatakan perang melawan corona, kini seruan damai tehadap corona justru semakin menggema. Ditambah lagi saat ini pemerintah juga tengah menyiapkan wacana New Normal sebagai langkah mengatasi virus corona. Dilansir dari CNN Indonesia (27/05/2020) bahwa Presiden Jokowi mengingatkan dan meminta untuk mengecek setiap daerah di Indonesia terkait kesiapannya melaksanakan New Normal.

Langkah ini tak ubahnya semakin menampakkan abainya negara dalam pengurusan rakyatnya. Di tengah penambahan jumlah kasus positif yang semakin melonjak, negara malah menetapkan New Normal. Setelah sebelumnya kebijakan PSBB yang diambil menuai banyak problema, banyak masyarakat yang kehilangan mata pencaharian hingga tak sedikit pula yang meninggal akibat kelaparan. Belum lagi tenaga medis yang berjuang di garda terdepan perang melawan virus corona. Terpaksa harus menelan pahit kenyataan, perjuangannya kini bertepuk sebelah tangan. Usahanya yang sampai titik darah penghabisan nyatanya tak selaras dengan kebijakan yang diambil pemerintah.

Baca Juga :  Puspenkum Kejagung Gelar Lomba Drone Kasi Penkum Se-Indonesia

Sementara itu rakyat di luar sana dibiarkan berjuang tanpa dilengkapi peralatan perang. Jaminan kebutuhan hidup dari negara faktanya tak semua dapat merasakannya. Mekanisme memperoleh bantuan yang ruwet, ditambah lagi penyalurannya yang tidak merata, semakin memperjelas ketidakmampuan pemerintah menjamin hidup rakyatnya di kala wabah.

Begitulah paradigma hidup sekuler di sistem kapitalis. Jaminan kesejahteraan rakyat hanyalah janji manis. Faktanya lagi-lagi rakyat yang harus dikorbankan. Terlihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan, menunjukkan bahwa rakyat bukanlah jadi prioritas yang paling atas. Menyelamatkan ekonomi dilihat sangatlah penting dan utama dibandingkan menyelamatkan nyawa manusia.

Berbeda halnya jika dalam sistem Islam, yang segala aturan di dalamnya berasal dari Sang Pencipta Kehidupan. Islam dengan tegas menjelaskan bahwa nyawa mukmin lebih berharga dibanding hilangnya dunia. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai & Tirmidzi).

Baca Juga :  Agnez Mo Ngevlog Bareng Jokowi di Istana

Hal ini menegaskan bahwa penjaminan nyawa mukmin di dalam sistem Islam betul-betul luar biasa. Terbukti saat terjadi wabah di era Khalifah Umar bin Khattab. Karantina wilayah atau lockdown segera dilaksanakan guna mencegah merebaknya wabah. Tak hanya itu, kebutuhan hidup rakyat dijamin oleh negara. Negara benar-benar hadir untuk mengurusi kehidupan rakyatnya, menjamin kesehatan dan terpenuhinya kebutuhan hidup. Tidak hanya dikala wabah, namun di kondisi normal pun juga sama. Bertanggung jawab sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyatnya.

Karena di dalam sistem Islam, sejatinya penguasa adalah sebagai raa’in (pengurus urusan rakyat). Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“..Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR. Ahmad, Bukhari)

Maka sudah selayaknya, wabah virus corona ini menjadikan kita sadar betul. Bahwa berharap hidup sejahtera di bawah naungan sistem kapitalis sekuler adalah semu belaka. Saatnya kita kembali ke dalam sistem Islam yang datangnya dari pencipta kita. Bersama-sama kita songsong peradaban Islam yang sebentar lagi tiba masanya, yakni khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Wallahu’alam bi showab

Loading...

Baca Juga