SUARAMERDEKA.ID – Wakil Ketua Fraksi PKS Mulyanto meminta pemerintah mengkaji lebih dalam terkait pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Menyelesaikan dua masalah sekaligus adalah hal yang baik, namun jika tidak efisian dan membebani keuangan negara, yang terbaik adalah menyeesaikan masalah utama.
Mulyanto menuturkan, saat ini pemerintah berencana membangun PLTSa di 12 kota. Program ini adalah sebuah upaya untuk merealisasikan program pembauran energi baru terbarukan. Ia menjelaskan, persoalan utama yang dihadapi kota besar adalah penanganan sampah yang terus menggunung, sementara lahan penimbunannya sudah sangat terbatas.
Doktor nuklir lulusan Tokyo Technology of Institute di Jepang ini menilai, Pemerintah sebaiknya fokus menuntaskan masalah sampah, bukan menyelesaikan dua masalah sekaligus. Yakni masalah sampah dan soal bauran energi baru-terbarukan (EBT).
“Kalau bisa dan efisien menangani keduanya sekaligus, ya bagus-bagus saja. Namun kalau tidak efisien dan subsidi pemerintah yang dikeluarkan akan menguras APBD atau menambah pos pengeluaran APBN, maka kita harus kembali ke pokok persoalan. Yakni masalah sampah perkotaan, bukan masalah listrik. Soal listrik di Jawa sudah surplus,” kata Mulyanto di Jakarta, Senin (9/11/2020).
Anggota Komisi VII ini sepakat dengan KPK, yang dalam kajiannya menyarankan, agar semua pihak fokus pada upaya mereduksi volume sampah. Soal waste to energy bukan waste to electricity. Namun untuk kota-kota yang sudah siap, menurut Mulyanto, bisa dilaksanakan sambil mengevaluasi beban tambahan anggaran baru untuk pos ini.
Ia pun meminta agar Pemerintah tidak memaksakan diri. Mulyanto mengingatkan, persoalan tipping fee dan subsisidi atas biaya pokok produksi listrik dapat menguras keuangan daerah atau tambahan pengeluaran untuk APBN.
“Operasi PLTSa ini kan pengeluaran bukan untuk satu dua tahun tahun, tapi kontrak jangka panjang. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, yang menuntut kerja fokus kita. Kita perlu memfokuskan anggaran pemerintah untuk penanggulangan pandemi yang mendesak ini,” ujarnya.
Mulyanto menilai, program pembangunan PLTSa saat ini belum terlalu mendesak. Apalagi untuk kota-kota di Jawa saat ini pasokan listrik PLN sudah surplus. Tidak ada keperluan untuk penambahan pembangkit baru, apalagi dari sumber yang tidak efisien.
“Pembangunan PLTSa ini perlu dikaji lebih komprehensif, tidak sekedar gagah-gagahan, bahwa konsep inovasi ini mampu mensinergikan dan mengubah sampah menjadi listrik. Secara teknologi, itu ide yang bagus. Namun penerapannya harus tepat baik secara teritorial maupun tekno-ekonomi,” tegas Mulyanto. (OSY)





