oleh

Asap Cair Batok Kelapa Jadi Bahan Pembeku Getah Karet dan Pestisida

SUARAMERDEKA – Di tangan Ahmadi (41) warga Dusun ll Desa Lais Utara, kecamatan Lais, kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) batok kelapa disulap menjadi asap cair sebagai bahan pembeku getah karet. Tak hanya itu, asap cair ini juga bisa jadi pengganti pestisida untuk pertanian ramah lingkungan.

Ide pria dua anak ini, bermula saat melihat limbah batok kelapa yang ada di desanya hanya digunakan sebagai wadah getah karet. Bahkan tidak jarang dibuang begitu saja oleh warga di sana. Hal tersebut membuat Ahmadi berpikir keras untuk memanfaatkan batok kelapa supaya memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Karena Ahmadi kekurangan modal maka dia berinisiatif mengajukan proposal ke perusahaan PT. Medco E&P Limau Asset, pada bulan 12 akhir tahun 2018, prosal Ahmadi mendapatkan tanggan serius dari pihak perusahaan dan mendapatkan bantuan alat produksi sesuai keinginannya.

“Awalnya, saya sering melihat batok kelapa dibuang begitu saja. Saya mencoba untuk manfaatkan bahan tersebut. Makanya saya coba-coba dan hasilnya memang benar ada mengeluarkan cairan berupa minyak atau asap cair,” kata Ahmadi (6/2/2019).

Berkat inovasinya, pria kelahiran 1977 ini mendapatkan pembinaan dari perusahaan yang berada diwilayah kabupaten Musi Banyuasin yakni PT Medco. Sekarang kelompok ini sudah memproduksi sebanyak 30 liter asap cair jenis Grade 3 dalam satu pekan yang dikelola oleh 10 orang anggota.

Meskipun belum ada penelitian terkait khasiat minyak batok kelapa, namun Ahmadi memastikan produknya ini dapat digunakan sebagai bahan pembeku getah karet dan juga bisa untuk racun hama, jamur yang bisa merusak tanaman petani.

“Minyak asap cair ini selain untuk membekukan latek getah karet, juga dapat membuat kayu tahan lama dan tahan rayap, bisa juga digunakan sebagai pengganti pestisida dan menyuburkan lahan,” ungkap Ahmadi lagi.

Dia juga mengaku karena keterbatasan biaya produksi. Maka asap cair yang dikelolanya bersamaan kelompok ini untuk sementara hanya dijual di dalam kecamatan saja. Sedangkan harga jual dipatok dengan harga 15.000 per liternya. Meskipun permintaan banyak, namun usahanya belum bisa memenuhi kebutuhan pasar.

“Pelanggan sudah banyak, ada dari petani, penjual ikan, dan tukang bangunan. Tetapi produksi masih terbatas, dalam satu pekan hanya dapat 30 liter dengan bahan baku 100 kilogram batok kelapa. Sebenarnya ada alat yang memiliki kapasitas 50 kg. Tetapi kami belum bisa membelinya,” bebernya.

Untuk bisa menghasilkan minyak, batok kelapa ditaruh dalam wadah yang tertutup. Kemudian tabung penyimpanan batok kelapa yang sudah ditutup rapat dipanasi hingga 150 derajat Celsius. Uap dari batok kelapa diembunkan dengan menggunakan pipa kecil sepanjang 1 meter, yang ujungnya diberi tabung yang lebih kecil.

“Penyulingan ini membutuhkan waktu setidaknya 4 jam untuk bahan bakar penyulingan kita gunakan arang batok kelapa yang sudah kita suling. Jadi semuanya berasal dari batok kelapa,” ungkapnya lagi.

Dia berharap dengan inovasinya ini mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Supaya bisa produknya ini bisa berkembang lebih besar lagi. Dengan harapan bisa membawa nama harum kabupaten Musi Banyuasin dikanca nasional. (SHM)

Loading...

Baca Juga