SUARAMERDEKA.ID – Ketua Muslimah GPI Jakarta Raya, Serly Oklianti, menyerukan kepada masyarakat untuk memboikot produk-produk Orang Tua sebagai bentuk protes keras terhadap polemik challenge membaca Al-Qur’an yang dikaitkan dengan booth minuman keras (miras).
Serly menilai penggunaan bacaan Al-Qur’an dalam konteks promosi yang berkaitan dengan booth miras merupakan tindakan yang sangat tidak pantas dan berpotensi menyinggung perasaan umat Islam.
“Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk memboikot produk-produk Orang Tua sampai ada penjelasan dan pertanggungjawaban yang jelas. Jangan jadikan Al-Qur’an sebagai gimmick untuk kepentingan promosi!” Tegas Serly dengan nada marah. Saat dirinya mengkonfirmasi ke awak media di markas GPI. Jakarta, Rabu, (12/08/2026).
Menurutnya, masyarakat memiliki kekuatan besar melalui pilihan konsumsi. Boikot, kata Serly, merupakan bentuk protes konsumen secara damai terhadap perusahaan yang dinilai tidak sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak melakukan tindakan anarkis, intimidasi, maupun kekerasan. Sebaliknya, masyarakat diminta menyampaikan keberatan melalui jalur yang tertib dan keputusan konsumen masing-masing.
“Kalau suara masyarakat tidak didengar, biarkan pilihan konsumen yang berbicara. Jangan sampai keuntungan bisnis dibangun di atas sesuatu yang dianggap merendahkan kesakralan agama,” Ujar Serly.
Serly juga mendesak pihak Orang Tua memberikan klarifikasi terbuka, meminta maaf apabila terdapat pelanggaran terhadap nilai keagamaan, serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas promosi yang menjadi polemik.
“Ini bukan sekadar persoalan satu challenge. Ini soal batas kepantasan. Al-Qur’an memiliki tempat yang mulia bagi umat Islam. Jangan sampai ayat suci diperlakukan sebagai alat untuk mendongkrak popularitas sebuah produk,” kata ketua Muslimah GPI Jakarta Raya.
Ia menegaskan, seruan boikot tersebut merupakan bentuk tekanan moral dari masyarakat agar perusahaan lebih bertanggung jawab dan menghormati keberagaman nilai yang hidup di Indonesia.
“Kami ingin perusahaan belajar bahwa konsumen bukan hanya angka penjualan. Konsumen juga memiliki nilai, keyakinan, dan martabat yang harus dihormati,” Tutup Serly. (RED).










