oleh

Gerakan Milenial Bukan Gerakan Politik. Opini Pradipa Yoedhanegara

Gerakan Milenial Bukan Gerakan Politik. Oleh: Pradipa Yoedhanegara,  Pengamat Politik.

Fenomena munculnya gerakan kelompok milenial beberapa hari belakangan ini, yang dimotori oleh gerakan mahasiswa zaman now dan para pelajar sekolah menengah kejuruan, membuat banyak orang terperanjat dan sedikit kebingungan. Kenapa tiba-tiba saja anak-anak jaman now ini begitu kompaknya turun ke jalan-jalan protokoler dengan meneriakan yel-yel perubahan.

Fenomena gerakan kaum pelajar dan mahasiswa, bukanlah barang baru di negeri ini. Karena berdirinya NKRI pada 17 Agustus 1945 tidak bisa dilepaskan dari pelibatan pergerakan kaum pelajar dan mahasiswa. Begitu juga perubahan-perubahan yang terjadi di negeri ini sejak zaman orde lama ke orde baru, hingga orde reformasi banyak diinisiasi kelompok pelajar dan mahasiswa.

Sebagian pengamat mungkin agak sedikit heran. Manakala anak-anak milenial yang kebanyakan main gadget dan hidup di tengah perkotaan ini; rela berpanas-panasan untuk menyuarakan aksi demonstrasi menolak sejumlah rancangan undang-undang yang akan dan sudah disahkan oleh DPR dan pemerintah.

Ada sejumlah pertanyaan besar menurut beberapa buzzer, yang menuduh; “mungkinkah aksi ini ditunggangi oleh kelompok Taliban”. Untuk kepentingan politik dan menggagalkan pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober mendatang?!. Sejumlah analisa pun berkembang kemana arah pergerakan kaum muda pelajar dan mahasiswa zaman now itu berjalan. Mulai dari para pakar, pengamat sampai budayawan berdiskusi mengenai fenomena pergerakan tersebut.

Sebagai sebuah gerakan sosial dan moral, tentu saja anak-anak zaman now ini; merasakan bagaimana keadaan yang terjadi sesungguhnya di negeri ini. Sebagai akibat dari banyaknya kebijakan ngawur pemerintah dan parlemen. Yang bisa berdampak langsung pada kehidupan mereka (para milenial) di masa mendatang.

Anak-anak zaman now, atau para pelajar dan mahasiswa saat ini; sudah begitu kritis. Sebagai dampak dari maju pesatnya tekhnologi. Dalam menyikapi begitu banyaknya aturan yang dibuat oleh penguasa dengan cara mencedrai rasa keadilan publik. Mereka para milenial banyak diantaranya menjadikan medsos sebagai sarana berbagi informasi dan saling mengedukasi perkembangan dinamika politik yang terjadi di negeri ini.

Sebagai remaja dan pemuda yang terdidik, para pelajar dan mahasiswa ini sangatlah rasional dalam melihat situasi yang terjadi pada bangsa ini. Di era kepemimpinan Jokowi yang begitu garangnya ingin melemahkan KPK dengan membuat narasi “Taliban dan Polisi India”. Serta adanya keinginan rezim Jokowi membuat rancangan pelbagai undang-undang tanpa melibatkan unsur masyarakat banyak.

Berawal dari narasi para buzzer istana yang kompak dengan mengangkat isyu “Taliban dan Polisi India, ditubuh KPK”. Yang kemudian di susul dengan di sahkannya RUU KPK melalui paripurna DPR, dan adanya keinginan untuk mengebut RUU KHUP dan beberapa RUU lainnya. Pemuda milenial ini mulai tersentak dan tersadarkan diri. Kalau ternyata ada sesuatu yang tidak beres dari dibuatnya aturan-aturan tersebut bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara di masa mendatang.

Lahirlah gerakan moral yang ingin meluruskan arah kehidupan berbangsa dan bernegara, melalui para pelajar dan mahasiswa zaman now. Bak aksi panggung yang begitu memikat dan mempesona. Mereka membuat poster-poster tak terduga dan banyak diantaranya sangat menggelitik. Membuat perasaan haru, bangga dan tersenyum dari masivnya poster yang dibuat oleh anak-anak milenial tersebut. Mereka bergerak dengan begitu kompaknya menghancurkan narasi para buzzer dan membuat ciut nyali penguasa. Yang awalnya tidak merespon aksi mereka sampai akhirnya mengundang para aktivis zaman now tersebut ke istana.

Gerakan pemuda pelajar dan mahasiswa zaman now, jangan dianggap enteng oleh para buzzer istana dan rezim penguasa. Mereka mampu memporak porandakan “ide rezim” yang ingin melemahkan KPK. Dan ketika kelompok ini tetap bersatu dalam bingkai gerakan moral. Bukan tidak mungkin semua ide rancangan undang-undang yang bertujuan untuk menindas rakyat akan mereka lawan, dengan energi serta semangat muda yang bergelora.

Terlalu bodoh kalau ada orang yang mengganggap gerakan kaum milenial ini ditunggangi oleh kepentingan politik. Karena orang tersebut sepertinya tidak memahami perkembangan iptek. Dengan membuat narasi seolah mereka para pemuda milenial yang akan menjadi generasi penerus merupakan duri dalam daging bagi republik ini, karena telah menentang kebijakan pemerintah saat ini dengan melakukan unjuk rasa besar-besaran dihampir seluruh wilayah NKRI.

Narasi-narasi mengadu domba para buzzer istana, seharusnya di hentikan; untuk mencegah amuk massa pemuda pelajar dan mahasiswa di sejumlah daerah. Hadapi seluruh demonstrasi dengan akal sehat dan buatlah narasi yang menyejukan publik, karena kalau terus membuat narasi yang tidak menyejukkan, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menjadi pemicu aksi anarkis di banyak tempat demonstrasi di negeri ini.

Sebaiknya para pemimpin negeri ini, berhentilah membuat kekacauan dan kegaduhan dengan melakukan penyelundupan hukum apalagi sampai menjadi kepanjangan tangan para koruptor, dengan ikut serta membuat aturan yang melemahkan peran KPK dimasa mendatang. Rakyat sudah tidak mudah untuk dibohongi, apalagi dengan lahirnya medsos ditengah khalayak yang terus menerus memberikan informasi kepada publik.

Sebagai pesan penutup, ajaklah anak-anak muda milenial itu berdiskusi dengan narasi yang baik, jangan hadapi para remaja pelajar dan mahasiswa dengan pentungan dan water cannon, tapi hadapilah mereka dengan senyum. Jangan ada lagi tangis darah dan air mata yang menetes di bumi pertiwi ini, sebagai akibat dari naluri ingin tetap berkuasa, dan sambil berharap kepada para polisi dan tni; agar menjaga adik-adik kami ini agar tidak menjadi korban dari orang-orang yang haus dan gila akan kekuasaan, sehingga menghalalkan cara apapun juga untuk tetap berkuasa.

Loading...

Baca Juga