oleh

Jokowi Tidak Sepenuhnya Dukung Prabowo-Gibran

Jokowi Tidak Sepenuhnya Dukung Prabowo-Gibran

Oleh : Yudi Syamhudi Suyuti
Ketua Umum Front Pembangunan Persatuan Rakyat (FPPR) / Anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Jokowi sebagai Presiden, Politisi dan Kepala Keluarga atau Ayah dari Cawapres Gibran secara realita akan menempatkan posisinya secara tepat.

Bahwa benar Jokowi mendukung Prabowo-Gibran saat ini, tapi tentu dukungannya tentu tidak sepenuhnya.

Hal ini yang saya tahu dari pemahaman pemahaman saya melalui profiling Jokowi. Baik secara psikologis maupun kepentingan Jokowi yang berada di tiga ruang, yaitu Kepala Negara dan Pemerintahan (Presiden), Politisi maupun Kepala Keluarga.

Dalam posisinya sebagai Politisi, Jokowi juga memikirkan kemungkinan terjeleknya, jika Prabowo-Gibran kalah. Tentu Jokowi memiliki hitungan terhadap sikap politik dirinya, harus berada di posisi mana. Apalagi Jokowi berkepentingan proyek-proyek pembangunannya berkelanjutan yang telah dibangun selama menjadi Presiden. Selain itu Jokowi juga berkepentingan dalam menjaga berbagai legacynya dan tingkat kepuasan publik atas kepemimpinannya.

Tentu secara rasional, sikap pragmatis Jokowi juga telah dirinya siapkan dengan berbagai rencana.

Sebagai seorang politisi yang telah meniti karir politik dari bawah, secara demokratis melalui Pilwalkot, Pilgub hingga Pilpres tentu beliau sangat hapal dalam berbagai proses politiknya dan juga hitungan serta tanda-tanda politik.

Apalagi sebagai Presiden 2 periode. Melalui kekuasaannya, Jokowi memiliki jendela yang kuat untuk mengamati situasi politik nasional Indonesia saat ini.

Baca Juga :  Republik Indonesia Bab Dua (9): Jokowi Ngajak Perang

Tentu, dukungan Jokowi ke Prabowo-Gibran hal yang wajar dan lumrahnya seorang yang berposisi pada dirinya. Sebagai jalan pencapaian berlanjutnya suksesi kepemimpinan regenerasi, Jokowi juga berharap dapat sukses menata peralihan kekuasaannya. Hal yang wajar, lumrah dan biasa dalam politik.

Tapi tentu sebagai politisi berpengalaman, Jokowi juga menyiapkan kemungkinan dan antisipasi, jika rencana dan target awalnya tidak tercapai. Beliau pasti punya banyak rencana dan strategi. Termasuk harus bermanuver seperti apa, jika Prabowo-Gibran kalah.

Bagi para pemilih, juga sadar sesadar-sadarnya, bahwa Jokowi bukan Petahana di Pilpres 2024. Meskipun putranya, Gibran Rakabuming Raka maju menjadi Cawapres Prabowo. Namun di TPS (Tempat Pemungutan Suara), secara sederhana Pemilih tidak melihat ada foto Jokowi. Sehingga dalam politik demokrasi saat ini, akan sulit Prabowo dan Gibran dipersonifikasi sebagai sosok politik Jokowi. Pada akhirnya Paslon Capres-Cawapres Prabowo-Gibran terpaksa harus berlomba apa adanya dengan Ganjar-Mahfud dan Anies-Cak Imin.

Namun, bagi Ganjar-Mahfud saat ini, bersama atau tidak bersama Jokowi, dengan posisi dukungan calon pemilihnya yang terus meningkat, Paslon Ganjar-Mahfud paling berpotensi memenangkan Pilpres 2024.

Bisa saja dalam waktu-waktu terakhir, diluar posisinya sebagai Presiden, akan tetapi sebagai Politisi, Jokowi akan memberikan celah kemenangan diluar Paslon Prabowo-Gibran. Hal ini untuk memastikan proyek-proyek pembangunannya tetap berjalan. Ketika tanda-tanda Prabowo-Gibran kalah mulai nampak, Jokowi secara rasional sangat dimungkinkan untuk memutar balik langkah politiknya. Hal yang paling memungkinkan dilakukan Jokowi ada tiga langkah. Pertama diam, kedua memberi peluang ke Ganjar-Mahfud dan ketiga berbaik-baik dengan Anies-Cak Imin.

Baca Juga :  Corona Singkap Kebobrokan Sistem Hukum Sekuler

Dalam langkah kedua dan ketiga ini, tindakan Jokowi dimungkinkan, karena Paslon Ganjar-Mahfud dan Anies-Cak Imin meskipun tanpa skenario, secara politik berhadapan dengan Prabowo-Gibran. Dan secara perhitungan matematika sosiologis, kedua Paslon ini akan berelasi alamiah, di putaran kedua perlombaan Pilpres 2024.

Sedangkan, pikiran Jokowi ke putranya, Gibran, sangat mungkin, Jokowi berpikir, Gibran telah berinvestasi politik secara nasional. Masih banyak waktu untuk Gibran yang jalannya masih panjang jika belum berhasil menjadi Wakil Presiden. Bisa saja Jokowi menitipkan Gibran untuk menjadi Menteri ke Pemenang Pilpres, jika Gibran belum berhasil menjadi Wakil Presiden.

Semua dalam politik bisa saja terjadi. Filosofi sepak bola, bahwa bola itu bundar dapat dimaknai, bahwa dalam politik tidak ada yang pasti.

Namun secara perhitungan politik yang nampak dalam debat ketiga Pilpres, 7 Januari 2023 dan kondisi realita politik dan gambaran peta politik mulai tampak tanda-tanda gejala kuatnya yang akan tergambar di Pilpres 2024. Mulai dari survei, prediksi dan dinamika sosial politik.

Yaitu Pilpres hampir dipastikan terjadi dua putaran dan Prabowo-Gibran berpotensi belum berhasil menang di Pilpres 2024.

Loading...