SUARAMERDEKA.ID, Jakarta – Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI) Indonesia Timur, Talimuddin Rumaratu, menyerukan pentingnya memperkuat semangat nasionalisme dan persatuan bangsa di tengah munculnya berbagai narasi yang dinilai dapat mengganggu stabilitas nasional serta melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara dan pemerintah.
Menurut Talimuddin, dalam beberapa waktu terakhir berkembang sejumlah isu yang sengaja digiring oleh kelompok-kelompok tertentu untuk membangun sentimen ketidakpercayaan terhadap pemerintah, bahkan berupaya menciptakan polarisasi sosial yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Fenomena tersebut, kata dia, harus disikapi secara bijaksana oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda.
“Bangsa Indonesia dibangun melalui perjuangan panjang yang melibatkan seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Karena itu, setiap upaya yang mengarah pada perpecahan, disintegrasi, maupun pembenturan antara rakyat dan pemerintah harus menjadi perhatian serius kita bersama,” ujar Talimuddin dalam keterangannya kepada media, Rabu. (13/08/26).
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat. Namun demikian, kritik yang dibangun atas dasar fakta dan kepentingan rakyat harus dibedakan dengan propaganda yang bertujuan menciptakan ketidakstabilan, memperbesar konflik sosial, serta mengikis rasa kebangsaan.
Talimuddin menyoroti adanya sejumlah kelompok yang belakangan mencoba menggiring berbagai isu di kawasan Indonesia Timur dengan narasi yang cenderung provokatif. Menurutnya, berbagai persoalan pembangunan, kesejahteraan, maupun pelayanan publik yang terjadi di daerah tidak boleh dijadikan alat untuk menanamkan kebencian terhadap negara atau memisahkan masyarakat dari semangat kebangsaan.
“Kita memahami bahwa masih banyak tantangan pembangunan yang harus diselesaikan, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Namun persoalan tersebut harus dijawab melalui dialog, partisipasi publik, dan kerja sama yang konstruktif, bukan dengan menyebarkan narasi kebencian atau sentimen yang dapat memecah belah masyarakat,” katanya.
Sebagai wilayah yang memiliki keragaman budaya, agama, suku, dan bahasa, Indonesia Timur menurut Talimuddin telah lama menjadi contoh hidup mengenai pentingnya toleransi dan persaudaraan. Oleh sebab itu, masyarakat di kawasan timur harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa.
Ia mengingatkan bahwa sejarah telah menunjukkan berbagai upaya yang pernah dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah bangsa Indonesia melalui isu identitas, ketimpangan pembangunan, hingga penyebaran informasi yang tidak utuh. Namun, seluruh tantangan tersebut dapat dihadapi karena kuatnya komitmen kebangsaan yang dimiliki rakyat Indonesia.
“Kita tidak boleh membiarkan perbedaan pandangan politik, latar belakang daerah, maupun persoalan sosial dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin melihat bangsa ini terpecah. Persatuan adalah modal terbesar Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan global,” tegasnya.
Lebih lanjut, Talimuddin menilai bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga ruang publik agar tetap sehat dan produktif. Di era digital saat ini, penyebaran informasi yang cepat sering kali dimanfaatkan untuk membangun opini yang tidak berdasarkan fakta. Karena itu, literasi digital dan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi menjadi sangat penting.
Ia mengajak para pemuda, mahasiswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan untuk aktif memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal.
“Jangan sampai kita menjadi korban dari informasi yang sengaja dirancang untuk menciptakan keresahan. Masyarakat harus mampu membedakan mana kritik yang membangun dan mana propaganda yang bertujuan memecah belah bangsa,” ujarnya.
Talimuddin juga mengapresiasi berbagai program pembangunan dan pemerataan yang terus dilakukan pemerintah di kawasan Indonesia Timur. Meskipun masih terdapat berbagai kekurangan yang perlu diperbaiki, menurutnya pembangunan harus dipandang sebagai proses yang membutuhkan pengawasan, masukan, dan keterlibatan aktif masyarakat.
“Kepercayaan publik terhadap negara harus terus dijaga. Pemerintah tentu tidak luput dari kritik, namun kepercayaan masyarakat merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan pembangunan nasional. Ketika kepercayaan itu dirusak melalui berbagai narasi provokatif, maka yang dirugikan bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.
Sebagai organisasi kepemudaan Islam yang berkomitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, PP GPI Indonesia Timur menegaskan dukungannya terhadap segala upaya yang bertujuan memperkuat persatuan nasional, memperkokoh ideologi Pancasila, serta menjaga keutuhan NKRI.
Talimuddin menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan semangat gotong royong, optimisme, dan persaudaraan untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menolak segala bentuk provokasi, politik adu domba, dan upaya yang dapat mengancam integrasi nasional.
“Indonesia adalah rumah bersama. Kita boleh berbeda pendapat, berbeda pilihan politik, bahkan berbeda latar belakang sosial dan budaya. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah komitmen kita untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Mari kita rawat nasionalisme, perkuat kepercayaan kepada negara, dan bersama-sama membangun Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera,” pungkasnya. (MLK-M)










