SUARAMERDEKA.ID – Ketua Muslimah Gerakan Pemuda Islam (GPI) Jakarta Raya, Serly Oklianti, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang meminta pengelola pusat perbelanjaan membongkar pagar besi menjulang tinggi di sejumlah mal di Jakarta. Sabtu, (01/08/2026).
Kebijakan tersebut disampaikan dengan alasan agar tidak muncul kesan bahwa Jakarta berada dalam kondisi tidak aman.
Menurut Serly, pemasangan pagar besi yang berlebihan justru dapat memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan agar publik tidak kembali terpengaruh oleh narasi yang membangun rasa takut, terlebih setelah berbagai aksi demonstrasi besar yang terjadi pada Agustus tahun lalu.
“Jakarta adalah ibu kota negara yang harus memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada masyarakat maupun dunia usaha. Jangan sampai bangunan-bangunan komersial justru menciptakan kesan bahwa Jakarta sedang dalam kondisi darurat keamanan,” Tegas Serly.
Ia juga menilai bahwa keamanan merupakan tanggung jawab aparat negara, khususnya Kepolisian.
Karena itu, Langkah yang berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan aparat seharusnya dihindari.
“Negara memiliki institusi yang bertugas menjaga keamanan, yaitu Kepolisian. Masyarakat harus memberikan kepercayaan kepada aparat yang setiap hari bekerja menjaga ketertiban. Jangan sampai keberadaan pagar besi yang menjulang tinggi justru membentuk asumsi bahwa aparat keamanan tidak mampu menjalankan tugasnya,” Ujarnya.
Serly menambahkan bahwa Polda Metro Jaya selama ini telah menjalankan berbagai upaya pemeliharaan keamanan melalui program ‘JAGA JAKARTA’.
Program tersebut menurutnya, Merupakan komitmen positif yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat agar Jakarta tetap menjadi kota yang aman, terbuka, dan nyaman bagi semua.
Ia juga mengingatkan agar pengelola pusat perbelanjaan menghormati kebijakan pemerintah daerah.
Perbedaan pandangan dapat disampaikan melalui dialog yang konstruktif tanpa mengabaikan kepentingan publik maupun citra Jakarta sebagai kota yang aman dan kondusif.
“Keamanan tidak dibangun dengan tembok yang semakin tinggi, melainkan dengan kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, pelaku usaha, dan masyarakat. Jakarta harus menjadi simbol kepercayaan, bukan simbol ketakutan,” Tutup Serly. (RED)










