Perlindungan Utuh Negara Dalam Mencegah Virus Corona. Oleh: Nelly MPd, Aktivis Peduli Negeri, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik
Alangkah Lucunya (Negeri Ini), inilah judul film terbaru aktor kawakan sekaligus mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar yang baru saja dirilis. Meskipun ber-genre komedi, film tersebut sarat akan pesan satir karena mengangkat berbagai potret nyata kehidupan masyarakat di Indonesia.
Melihat kondisi yang terjadi di negeri ini judul film tersebut seperti mewakili apa yang ada dibenak kita semua, alangkah lucunya para pejabat negeri ini. Acapkali para pejabat dari berbagai tingkah polah ataupun pernyataannya yang justru menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.
Baru-baru ini pernyataan kontroversial datang dari Menkes tentang virus corona, alih-alih memberikan arahan yang dapat menenangkan masyarakat, Menkes Terawan justru mengaku “heran” mengapa masyarakat begitu heboh dengan kasus virus Corona, khususnya setelah Presiden Jokowi mengumumkan status positif kasus tersebut.
Lain halnya apabila dibandingkan dengan pejabat-pejabat luar negeri, seperti Menkes Singapura Gan Kim Yong. Terlihat jelas bahwa mereka lebih menyampaikan informasi ataupun imbauan terkait virus Corona secara serius.
Sementara itu tidak berselang waktu wabah virus corona mulai masuk ke dalam negeri RI sendiri, terlihat kepanikan yang terjadi di tengah masyarakat. Semua pasibuk mencari obat penangkal agar tidak tertular dan maskerlah yang paling dicari. Sebab virus ini disinyalir lebih cepat menular melalui pernafasan.
Di lansir dari laman tirto.id, masker menjadi barang langka dan berharga tinggi setelah wabah Corona atau COVID-19 menjalar. Masyarakat berbondong-bondong membeli karena menganggap memakai barang ini dapat mencegah virus masuk ke tubuh.
Banyaknya peminat untuk membeli masker inipun, tak luput dari kejahatan para penjual yang memanfaatkan situasi dan kondisi. Ramai di sosial media mengenai kasus penimbunan masker yang sudah tertangkap pihak kepolisian. Tentu saja polisi langsung menyita ratusan box masker tersebut sebagai barang bukti.
Namun ditengah kepanikan warga dan langkanya masker di pasaran, hal yang mengejutkan bahwa hasil sitaan polisi terhadap barang bukti berupa masker tersebut dijual kembali oleh pihak kepolisian sehingga menimbulkan berbagai macam persepsi di masyarakat.
Dari beberapa berita dikutip bahwa Masker Virus Corona yang disita polisi dari sejumlah penimbun itu dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 4.000/10 lembar masker. Menanggapi ramainya Polisi jual masker hasil sitaan, Mahfud MD menjawab Santai bahwa tindakan Aparat tak melanggar hukum sama sekali.
Lagi-lagi para petinggi negara tidak memberikan pencerahan bahkan terkesan menganggap hal serius ini menjadi sesuatu yang biasa. Padahal semua orang berharap ada tindakan nyata dari pemerintah dengan mengambil langkah-langkah untuk menghentikan sumber kepanikan masyarakat.
Yang terjadi malah negara China yang pertama kali terserang wabah virus ini masih diterima warganya untuk berkunjung ke Indonesia. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mencatat masih ada warga China yang berkunjung ke Indonesia.
Lambannya penanganan pemerintah terhadap wabah virus coronanya ni mendapat kritikan dari Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Hermawan Saputra yang mengatakan sejak awal kausu ini meluas pemerintah memang belum optimal dalam menanggulangi corona.
Ketidakjelasan kebijakan pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi virus tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kecolongan menangani bencana ini. Dari sisi kebijakan saja sudah krisis. Jika virus ini tidak ditangani serius, bukan tidak mungkin jika penyebaran covid 19 ini bisa lebih mewabah dari negara asal penyakit ini.
Harusnya sejak awal, pemerintah melakukan langkah tegas, sehingga virus ini tidak masuk dan mulai mewabah di nusantara. Pemerintah semestinya menutup semua kran ekspor-impor barang dari negara-negara yang sudah terserang virus ini, menutup sementara masuknya wisatawan asing terutama dari negara yang terkena wabah dan tidak lagi memasukan migran atau TKA dari Cina.
Beginilah pengaturan pengelolaan negara jika diatur dalam sistem kapitalis sekuler, tentu tidak akan kita temui pemimpin yang betu-betul akan mengayomi dan melindungi segenap warga negaranya. Pemimpin dalam sistem kapitalis sekuler hanya mementingkan para kapital, korporasi dan mengabaikan hak dan kepentingan rakyatnya.
Lantas bagaimana seharusnya negara hadir dalam menyelesaikan kasus mewabahnya virus corona ini?
Sebagai pemimpin negara yang mayoritas penduduknya muslim, pemerintah seyogyanya melihat dan mencontoh bagaimana Islam mengatasi wabah penyakit menular. Karena Islam memiliki seperangkat solusi dalam mengatasi wabah pandemi. Islam selalu menunjukan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Ia mengatur semua hal tak terkecuali di bidang kesehatan.
Dalam Islam, kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Mengatasi pandemi, tak mungkin bisa melepaskan diri dari performa kesehatan itu sendiri.
Maka beginilah cara Islam mengatasi pandemi dapat dilihat dalam beberapa poin diantaranya: yang pertama melakukan edukasi prefentif dan promotif, Islam adalah agama yang mengajarkan pencegahan. Telah banyak disebutkan bahwa Islam mewajibkan kaum muslim untuk ber-ammar ma’ruf nahiy munkar. Yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran.
Harus dilakukan pembinaan pola sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental maupun sosial. Dalam hal ini keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktekan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika saat makan. Dalam Qur’an surah An-Nahl ayat 114 Allah SWT telah berfirman: yang artinya “Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian.”
Kebanyakan wabah penyakit menular biasanya ditularkan oleh hewan (zoonosis). Islam telah melarang hewan apa saja yang tidak layak dimakan. Dan hewan apa saja yang halal dimakan. Apalagi sampai memakan makanan yang tidak layak dimakan, seperti kelelawar.
Oleh karena itu, Negara memiliki peran untuk senantiasa menjaga perilaku sehat warganya. Selain itu, pemerintah juga mengedukasi agar ketika terkena penyakit menular, disarankan menggunakan masker. Dan beberapa etika ketika sakit lainnya. Hal ini sangat membantu pemulihan wabah penyakit menular dengan cepat.
Yang kedua, negara wajib menyediakan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Karenanya negara wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboraturium medis, apotik, lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan serta sekolah kesehatan lainnya yang menghasilkan tenaga medis.
Negara juga wajib mengadakan pabrik-pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan, menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, akupunkturis, penyuluh kesehatan dan lain sebagainya. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya ataupun miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya.
Pembiayaaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara maupun milik umum. Dengan demikian, apabila terjadi kasus wabah penyakit menular dapat dipastikan negara dengan sigap akan membangun rumah sakit untuk mengkarantina penderita, atau membangun tempat karantina darurat.
Yang ketiga, negara membangun Sanitasi yang baik, sebab sanitasi yang buruk juga menyumbang terjadinya wabah penyakit menular. Pada masa eropa mengalami masa the dark age, warga eropa masih membuang hajat di sungai-sungai sehingga pernah dalam sejarah terjadi wabah kolera di sana.
Dalam sistem Islam negara sangat concern terhadap kebersihan dan sanitasi seperti dibahas dalam hukum-hukum thaharah. Kebijakan kesehatan negara Khilafah juga diarahkan bagi terciptanya lingkungan yang sehat dan kondusif. Tata kota dan perencanaan ruang akan dilaksanakan dengan senantiasa memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian dsb.
Yang keempat, negara wajib membangun ide karantina, dalam sejarah, wabah penyakit menular sudah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan mematikan dan belum ada obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita.
Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).
Dari hadits tersebut bermakna bahwa negara Khilafah akan menerapkan kebijakan karantina dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat.
Yang kelima, bahwa Islam menginspirasi negara menciptakan Vaksin. Islam memasukan konsep Qadar sebagai salah satu yang harus diyakini. Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi Pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani, bahkan sudah dirintis di jaman kekhilafahan Abbasiyah.
Demikianlah sistem Islam menggambarka bagaimana mengatasi penyebaran virus menular. Penerapan langkah pencegahan dan penanggulangan ini hanya akan bisa terealisasi ketika negara menerapkan sistem Islam secara kaaffah dalam mengatur negara.
Karena tugas dan fungsi negara dalam Islam berkewajiban dalam melindungi secara utuh kesehatan warganya. Maka sudah saatnya aturan dan sistem Islam itu kita adopsi dan terapkan untuk mendapatkan kehidupan yang berkah dan terayomi oleh para pemimpin.
Wallahu ‘alam Bisshawab






