oleh

Opini Yudi Syamhudi Suyuti, Pemenang Pilpres 2024

Pemenang Pilpres 2024

Oleh : Yudi Syamhudi Suyuti
Ketua Umum FPPR (Front Pembangunan Persatuan Rakyat) / Anggota PPP (Partai Persatuan Pembangunan)

Pada prinsipnya, menurut saya pribadi, dari 3 Paslon Pilpres 2024 ini, secara kategori mulai terasa, Paslon mana yang akan menang. Tapi ini bukan data survey, melainkan sebuah prediksi. Meski yang namanya prediksi itu bukan sedang meramal. Karena ada kaidah-kaidah dasar ilmunya, ketika suatu kejadian atau peristiwa dibaca secara prediktif. Tapi tidak seperti halnya survey yang matematis secara statistik. Prediksi ini lebih kualitatif. Dengan melihat perilaku masyarakat melalui beberapa medium, baik secara primer maupun sekunder. Begitu juga secara profiling yang memprofiling antara Paslon dan Masyarakat Pemilih. Para ahli prediktif yang punya nama besar seperti Alvin Toffler, John Naisbit, Peter F Draker, Matt Groening seringkali disebut sebagai futurist atau futurolog.

Jadi, menurut prediksi saya dari 3 Paslon yang maju Pilpres ini, pada akhirnya Paslon-Paslon tersebut memiliki beberapa persoalannya masing-masing untuk mencapai kemenangannya. Dan itu kita prediksi melalui rakyat beserta kelompok-kelompok masyarakat yang bisa diraba kecenderungannya, ke arah mana pilihannya. Para pemilih ini merupakan subyek pemilih dalam proses demokrasi Pilpres.

Misalnya, meski lawan terberat Paslon No.3 Ganjar-Mahfud adalah Paslon No.1 Anies- Imin, tapi harus diakui bahwa Paslon No.3 adalah Paslon yang paling tenang dan paling tidak ada beban dalam Pilpres 2024.

Baca Juga :  Hukum dan Hakim-Hakim Kita (2): Kekuasaan Yang Independen

Ini berbeda dengan beban yang dipikul oleh Paslon No.1 Anies-Imin dan Paslon No.2 Prabowo-Gibran. Kedua Paslon ini, harus diakui memiliki beban berat dalam Pilpres 2024. Dan dari beban kedua Paslon tersebut, tentu akan ada dampaknya. Meski dalam perolehan survey, Paslon No.2 terlihat sangat diupayakan dan didorong untuk masuk ke putaran kedua. Hal ini terlihat dengan survey dan evaluasi yang mereka lakukan begitu kuat. Yang sekaligus menjadi bacaan hasilnya untuk Paslon lainnya, yaitu No.1 dan No.3.

Dalam prediksi saya, saya memprediksi Pilpres mengalami 2 putaran. Sehingga masih cukup panjang waktunya, hingga 26 Juni 2024. Prediksi 2 putaran Pilpres ini didasari oleh kekuatan dari 3 Paslon ini yang bisa disebut ketiganya hampir sama kuat dan tidak ada yang terlalu mendominasi.

Tapi dengan beban-beban berat yang dipanggul kedua Paslon tersebut, pada akhirnya berpotensi berdampak pada penurunan endurance (ketahanan) kekuatan atau energinya dalam mengkultivikasi (mencangkok) pikiran-pikiran rakyat pemilihnya. Hal ini tentu membuat tampilan kampanye san perilaku pokitik kedua Paslon tersebut semakin hari, menjadi lebih emosional dan cenderung mengkhawatirkan atau membuat takut masyarakat. Meski dilakukan dengan gaya atau style yang mencoba menghibur.

Baca Juga :  Jalan Anyer-Panarukan, Kerja Paksa Daendels Atau Dikorupsi?

Latar belakang simbol antara Rezim Berkuasa dan Kelompok Oposisi yang diwakili Paslon No.2 dan No.1 justru pada akhirnya membuat rakyat pemilih, berkecenderungan memilih Paslon yang tenang, tidak ada beban perselisihan dan berada pada posisi politik ditengah antara Paslon No.1 dan No.2. Pilpres ini, diikuti 3 Paslon yang punya kekuatan politik dan pendukung kuat disetiap Paslonnya.

Namun, dalam kaca mata teori atau pendekatan stabilitas massa, masyarakat pemilih memiliki kecenderungan untuk menentukan pilihannya pada Paslon yang dipandang berada pada posisi politik di tengah, yaitu Paslon yang mampu melakukan pembangunan berkelanjutan sekaligus melakukan perbaikan-perbaikan.

Kecenderungan ini akan mengarahkan masyarakat pemilih secara alamiah. Tanpa terlalu banyak mengeluarkan energi. Sehingga secara prediktif, Paslon No.3 Ganjar-Mahfud berpotensi memenangkan Pilpres pada putaran kedua. Dengan perlombaan politik, bisa Paslon Ganjar-Mahfud melawan Prabowo-Gibran atau Ganjar Mahfud melawan Anies-Imin.

Disini saya melihat, justru Jokowi, semakin hari terasa dan terlihat lebih netral dan memilih bersikap independen. Begitu juga dengan TNI, Polri, ASN dan Pekerja BUMN dalam memposisikan dirinya untuk tidak mengarahkan Paslon tertentu. Hingga menjelang Pilpres putaran pertama dan kedua.

Loading...