SUARAMERDEKA.ID – Ruang aula SMKN 2 Baleendah, Kabupaten Bandung, pagi itu tidak seperti pelatihan guru pada umumnya. Bandung, Selasa, (18/08/2026).
Alih-alih hanya duduk mendengarkan ceramah, sebanyak 50 guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PKn SMK se-Kabupaten Bandung larut dalam diskusi hangat, merancang gagasan aksi nyata, hingga menyusun komitmen tindak lanjut untuk dibawa kembali ke ruang kelas masing-masing.
Mereka merupakan peserta kegiatan PKM Kemitraan “Pancawaluya Civic Movement”, sebuah program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Gerakan Civic Engagement Berbasis Karakter Pancawaluya melalui Kolaborasi Universitas, MGMP PKn, dan Dinas Pendidikan”.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Program Studi PPKn Terintegrasi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan MGMP PKn SMK Kabupaten Bandung serta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Dari Riset ke Ruang Kelas

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni pelatihan. Program tersebut lahir dari rangkaian riset panjang Group Riset SPACE yang dipimpin Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., dosen dan peneliti Departemen Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI sekaligus Ketua Group Riset SPACE.
Sebagai narasumber utama, Dr. Leni membawakan materi “Pancawaluya Civic Movement: Rekonstruksi Civic Engagement untuk Membangun Active Citizenship Generasi Muda”, sebuah sintesis dari berbagai temuan riset yang telah dilakukan selama ini.
Riset tersebut antara lain mencakup D-CLIP (Digital Civic Leadership and Innovation Project), hasil kolaborasi UPI–ITB–UNESA yang melibatkan 931 mahasiswa; VERIFACT, sebuah model literasi digital kritis untuk Generasi Z; hingga studi mengenai anti-slacktivism yang mengungkap fenomena “partisipasi berhenti di layar” pada komunitas urban Bandung.
“Generasi muda hari ini sangat aktif bersuara secara digital, like, share, komentar, tetapi aktivisme itu kerap berhenti di layar dan tidak berlanjut menjadi aksi nyata di lingkungan sosialnya,” demikian salah satu temuan kunci yang menjadi titik tolak lahirnya gerakan Pancawaluya Civic Movement.
Dari akar masalah tersebut, tim SPACE merumuskan Pancawaluya Civic Movement, yang berangkat dari filosofi lima kesempurnaan dalam kearifan lokal Sunda, yaitu Cageur (sehat lahir batin), Bageur (baik hati dan berkepribadian), Bener (jujur dan berintegritas), Pinter (cerdas dan berwawasan luas), serta Singer (terampil dan cekatan).
Kelima nilai tersebut kemudian ditransformasikan menjadi lima dimensi civic engagement multidimensi, yaitu civic knowledge, civic disposition, civic skills, civic empathy, dan civic wellbeing. Kelima dimensi ini menjadi bekal bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai warga digital yang kritis, beretika, dan mampu memberikan dampak nyata.
Tiga Pilar, Satu Gerakan

Selain Dr. Leni Anggraeni, kegiatan tersebut turut menghadirkan tiga narasumber lain yang memperkaya perspektif.
Dr. Syaifullah, S.Pd., M.Si. membedah transformasi pendidikan kewarganegaraan dari civic knowledge menuju civic character. Sementara itu, Isma Muslihati Saleha, M.Pd., Konsultan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, memaparkan strategi mainstreaming Pancawaluya dari level kebijakan hingga gerakan kolaboratif sekolah.
Adapun Dr. Sri Wahyuni Tanshzil, M.Pd. mengajak para guru untuk mendesain pembelajaran PKn yang benar-benar berdampak melalui pendekatan civic engagement.
Format kegiatan pun dirancang jauh dari kesan kaku. Peserta mengikuti interactive talk & Q&A, workshop/FGD bertajuk “Design Your Pancawaluya Civic Movement”, showcase of ideas dengan memaparkan rancangan aksi, hingga sesi commitment to action melalui penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diterapkan secara langsung di sekolah masing-masing.
Dari Sekolah untuk Indonesia
Yang membedakan Pancawaluya Civic Movement dari pelatihan guru pada umumnya adalah orientasinya yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan membangun ekosistem kolaboratif tiga pilar.
Ketiga pilar tersebut adalah universitas dan peneliti sebagai penyedia basis empiris, MGMP PKn sebagai ruang berbagi praktik baik antarguru, serta Dinas Pendidikan sebagai payung kebijakan agar gerakan dapat berlangsung secara berkelanjutan dan sistemik.
“Think Civically, Act Locally, Impact Socially” menjadi jargon yang digaungkan sepanjang kegiatan. Slogan tersebut menjadi ajakan agar nilai-nilai kewargaan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh menjadi budaya kewargaan dalam kehidupan sehari-hari yang berakar pada kearifan lokal sekaligus adaptif terhadap tantangan zaman digital.
Bagi 50 guru PKn SMK se-Kabupaten Bandung yang hadir, kegiatan di Aula SMKN 2 Baleendah tersebut menjadi bekal baru untuk merancang pembelajaran PKn yang tidak hanya normatif di atas kertas, tetapi benar-benar mampu menumbuhkan generasi muda yang kritis dalam bermedia, berakar pada nilai lokal, dan memiliki daya aksi.
Generasi tersebut diharapkan mampu mewujudkan semangat yang menjadi semboyan penutup kegiatan: “Satu Nilai, Sejuta Aksi, Untuk Indonesia” (RED).






