Ramadan Saatnya Berburu. Oleh: Syarifah Ashillah, Pemerhati Ekonomi dan Sosial.
Tak terasa tinggal hitungan jam, Ramadan datang menyapa, bulan suci yang di nanti kaum muslimin. Seluruh dunia bergembira karena kedatangannya, menyambut bak tamu agung, mempersiapkan diri untuk melebur bersama Ramadan, apalagi yang diharapkan selain curahan rahmat dari sang maha kuasa.
Walau Ramadan ini sedikit berbeda, dunia sedang dirundung kesedihan, ketakutan, dan kecemasan. Karena dunia termasuk bumi Pertiwi sedang dilanda wabah pandemi Covid-19. Sudah 3 bulan, Covid-19 menyerang dunia namun, belum ada tanda-tanda virus ini berakhir. Jumlah korban terus membumbung, nyawa terus melayang, diikuti ekonomi juga hampir tumbang. Namun kemalangan yang terjadi tak mengurangi suka cita menyambut Ramadan.
Ramadan begitu spesial di antara purnama lainnya, bagaimana tidak, bulan ini memiliki keistimewaan yang hampir tidak didapatkan di bulan lainnya, seperti
1. Bulan diturunkannya Al-Quran
Pada bulan ini, Al-Quran diturunkan. Seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan bagi petunjuk, dan furqan (pembeda). Diturunkannya Alquran sebagai petunjuk bagi manusia untuk keluar dari kegelapan.
Turunnya Alquran ini bermakna penting, karena melalui kitab tersebut maka manusia dapat membedakan mana yang benar dan salah.
2. Malam Lailatul Qadar
Adalah malam yang hanya ada di bulan Ramadan, Lailatul Qadar dalam Al-Quran digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ini adalah malam yang mulia, maka persiapkan diri untuk berburu malam ini di sepuluh malam terakhir dengan perbanyak ibadah
3. Bulan Penuh Keberkahan
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah“ ( diriwayatkan oleh An Nasai dan disahihkan oleh Albani ). Tidak ada bulan yang lebih berkah dari Ramadan dan tidak ada bulan yang penuh kebaikan melebihi Ramadan. Bulan ini dibukanya pintu kebaikan dan pintu keburukan ditutup.
4. Waktu Dikabulkannya Doa
“Sesungguhnya setiap muslim pada tiap siang dan malam hari pada bulan Ramadan memiliki doa yang mustajab“ ( diriwayatkan oleh Al Bazzar dan disahihkan oleh Albani ). Bulan Ramadan juga merupakan waktu yang terbaik untuk berdoa sebab di bulan Ramadan terdapat banyak waktu yang mustajab untuk berdoa.
5. Diampuninya Dosa
Bulan Ramadhan juga menjadi saat diampuninya dosa-dosa kita. Keistimewaan bulan Ramadhan ini dijelaskan Rasulullah dalam sabda beliau. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu“ (HR. Bukhari dan Muslim). Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya sebanyak apa pun itu ketika ia bersungguh sungguh bertobat dan menjalankan ibadah Ramadan dengan ikhlas, pintu kebaikan akan terbuka lebar untuknya terlebih dengan dilakukannya
Dan masih banyak kemuliaan lain misal, pahala-pahala yang dilipat gandakan, berpuasa pada bulan Ramadan seperti berpuasa satu tahun, pintu Taubat terbuka lebar, dibukanya pintu surga serta ditutupnya pintu neraka saat bulan Ramadan, dan keistimewaan lainnya
Maka sudah selayaknya kesempatan ini kita gunakan untuk mempertebal keimanan agar kita memperoleh ketakwaan karena memang ini adalah tujuan berpuasa, Allah telah jelaskan dalam firman-Nya
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 183).
Maka sebelum memasuki Ramadan saatnya kita memohon ampun kepada Allah karena momen ini adalah kesempatan untuk bertobat memohon ampun kepada Allah karena Rasulullah mengatakan dalam sabdanya “Celakalah seseorang, ia memasuki bulan Ramadan kemudian melaluinya sedangkan dosanya belum diampuni “ (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Dan tentunya, dengan adanya kesempatan dosa diampuni dan dikabulkannya doa, bisa menjadi momen yang terbaik untuk bertobat dan menjadi orang baru yang bersih dari dosa dan mendapatkan pahala puasa selama 30 hari sehingga dengan begini maka keberkahan didapatkan karena buah dari, keimanan dan ketakwaan. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 96 “Dan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa kepada Allah pasti Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; Tetapi mereka mendustakan ( ayat-ayat Kami ), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjakan.”
Kita bertobat dari kelalaian dalam menaati perintah Allah SWT, masih banyak hukum-hukum Allah yang kita ingkari dan menafikan peran Allah dalam mengatur kehidupan manusia maka, kita lihat dewasa ini begitu banyak problematika kehidupan yang seolah tanpa solusi. Padahal Islam adalah agama yang Syumul. Mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, Allah SWT mewajibkan untuk senantiasa berhukum dengan hukum Allah dalam setiap perkara. Dari perkara kecil (individu) sampai perkara besar (mengurus masyarakat)
Menengok ke belakang, rakyat Indonesia sudah sejak lama merasakan pesakitan, kita terus dilanda masalah yang tak ada habisnya, mulai dari bencana alam yang beruntun terjadi, kelaparan, kemiskinan, stunting, gizi buruk, banyaknya pengangguran, kriminalitas tinggi, koruptor yang merugikan negara, berita-berita ini setiap hari menghiasi layar kaca. Ini adalah problem kehidupan yang melanda negeri ini yang mayoritas penduduknya adalah muslim.
Ini merupakan sinyal dari sang pencipta bahwa Allah belum memberkahi negeri ini, maka didapati negeri ini terus dirundung masalah demi masalah. Padahal jika ditelisik masalah yang terjadi karena individu jauh dari nuansa keimanan dan penguasa jauh dari perintah Allah dalam mengurusi urusan rakyat.
Rasulullah yang merupakan suri teladan sudah mencontohkan bagaimana seharusnya, menjadi pemimpin negara. Begitu juga para sahabat (Khulafaur Rasyidin). Mereka menggunakan hukum-hukum Allah dan perintah Rasulullah sehingga, didapati negeri yang sejahtera, adil, damai dan tentunya diberkahi Allah karena ketundukannya kepada sang pembuat hukum yaitu Allah SWT (lihat QS. At-Tiin: 8).
Tunduk kepada hukum Allah, ridha dengan syariat-Nya, dan kembali kepada Al-Kitab dan as-Sunnah ketika terjadi perselisihan merupakan konsekuensi keimanan dan penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala (lihat at-Tauhid li ash-Shaff ats-Tsalits al-‘Ali, hal. 37)
Maka tobat yang sesungguhnya adalah dengan kembali kepada hukum Allah sehingga diperoleh ketaatan yang sempurna. Dan satu-satunya institusi yang dapat menerapkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh adalah khilafah Islamiyah. Dan hal ini sudah dikabarkan melalui bisyarah Rasulullah
“…akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430)). Jadi saatnya kembali pada hukum-hukum Allah terlebih ini bulan diturunkannya Al-Quran dan sepatutnya kita memperjuangkan aturan Allah untuk diterapkan.






