oleh

Ryamizard Ryacudu Buka Konferensi Ulama Sufi Internasional

SUARAMERDEKA – Konferensi Internasional Ulama Thoriqoh atau Konferensi Ulama Sufi Internasional (World Sufi Forum), secara resmi di buka oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu di Pendopo Bupati Pekalongan, Kajen, Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (8/4/2019).

Hadir dalam acara tersebut, sejumlah ulama dari manca negara. Yakni, Syaikh Abdul Qadir Qattani (Maroko), Syaikh Majid (Oman), Syaikh Muh. Sahumi (Libya), Syaikh Muh. Muhanna (Mesir), Syaikh Muh. Rajab (Syuriah), Syaikh Adnan, Mutfi (India), dan He. Wadi Abdullah (Duta Besar Maroko).

Ryamizard Ryacudu menjelaskan peranan ulama torikoh dalam sejarah bangsa Indonesia. Para ulama torikoh tidak pernah surut melawan penjajahan Belanda. Kemudian Belanda mengirim tokoh ke arab saudi, untuk membaca kitab kitab suci, dan perjalanan torikoh, menjadi dasar semangat melawan penjajah.

Dikatakan Menhan, Kitab Toha menjadi acuan pada abad ke 17 sampai dengan 20. Kemudian muncul lah tokoh pejuang pada abad ke 20, Cokroaminito, Sudirohusodo dan lain-lain. Kegigihan tokoh Bangsa Indonesia tidak sia-sia, pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Sehingga perjuangan torikoh harus dijaga, karena kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari torikoh-torikoh.

“Kami TNI dan Polri meminta doa semoga Pemilu nanti berjalan aman dan lancar. Serta suasana seperti ini bisa terus berjalan. Saya ucapkan terima kasih pihak penyelenggara,” ungkap Menhan RI.

Menhan RI berpesan, jangan sampai bangsa besar ini terpecah belah karena satu pihak saja. Dan jangan ada satu negara pun berani memecah belah NKRI.

“Indonesia adalah negara besar kaya ragamnya, NKRI adalah rumah dan bingkainya Bhineka Tungga Ika bangsanya, UUD 1945 adalah landasan Hukumnya, Demokrasi adalah sistemnya, dan Pancasila adalah Dasarnya,” kata Ryamizard Ryacudu. 

Ditegaskan Menhan RI, dalam era perkembangan globalisasi, kita harus memperhatikan disintegtasi bangs. Karena ancaman tersebut adalah terstruktur dan masif. Banyak ideologi seperti Liberal komunis, akan tetapi yang cocok bangsa Indonesia adalah Pancasila.

“Biarkan komunis di Cina, tetapi di sini tidak. Liberal di Amerika silahkan tetapi disini tidak boleh. Pancasila adalah alat untuk mempersatukan berbagai ras agama dan suku,”ujar Menhan RI.

Menurut Menhan, terorisme dan radikalisme sekarang adalah ancaman generasi pihak ke 3, kembalinya ISIS timur tengah bersifat tersentralisasi , ISIS adalah buah dari pecahnya demokrasi di Iran, terorisme telah merusak tali bersaudaraan dan merusak tata kenegaraan.

“Kita juga tetap waspada infiltasi Wahabi di Indonesia. Muatan-muatan pelajaran di Sekolah harus diwaspadai. Serta harus menolak setiap pekembangan dan paham-pahamnya,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rois Amm Jatman, Habib Lutfi Bin Ali Bin Yahya, menambahkan bahwa peranan sufi dalam keamanan dunia sangat penting sebagaimana dalam perdamaian dunia.

“Karena hal tersebut, satu kebahagiaan yang luar biasa, kita bisa bertatap muka, sudah lama kita bekerja sama dengan Kemenhan, semoga dipertemuan ini, dapat menambah ridho dan berkah dari Allah SWT, dan saya sangat senang bisa bertemu dengan para pewaris pewaris nabi besar Muhammad SAW,” tutur Habib Lutfi Bin Ali Bin Yahya. (RMT)

Loading...

Baca Juga