oleh

Logika Rakyat: Wakil Rakyat, Abu Jahal Saja Jujur Kalau Bersumpah Demi Allah

Logika Rakyat: Wakil Rakyat, Abu Jahal Saja Jujur Kalau Bersumpah Demi Allah. Oleh: Amrozi, Pemerhati Sosial.

Di jaman Nabi Muhammad SAW, ada orang yang bernama Amr bin Hisyam yang dijuluki Abu al-Hakam (Bapak Kebijaksanaan). Ia adalah seorang pria dari suku Qurais (Quraisy) yang terkenal akan kebijaksanaan dan kecerdasannya. Para tetua Quraisy sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah. Bahkan pada usia 30 tahun, ia diundang untuk menghadiri majelis khusus yang diadakan di Dār’un Nadwa. Padahal usia minimal kalau ingin hadir pada pertemuan tersebut adalah 40 tahun.

Dalam berbagai riwayat, Amr bin Hisyam juga disebut selalu memusuhi Nabi Muhammad SAW dan menolak dakwah dan kenabiannya. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW menyebutnya sebagai Abu Jahal (Bapak Kebodohan).

Bapak Kebijaksanaan yang juga Bapak Kebodohan.

Dalam sebuah kisah yang dikutip dari kitab Wa Syahida Syahidun min Ahliha oleh Raghib As-Sirjani, Al-Masur bin Mukhramah, keponakan Abu Jahal, anak dari saudari perempuannya, bertanya kepada Abu Jahal tentang pribadi Nabi Muhammad SAW.

“Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad itu berdusta sebelum ia mengatakan apa yang dia katakan sekarang ini (risalah kenabian)?”

“Wahai anak saudariku, Demi Allah! Sungguh sewaktu Muhammad masih seorang pemuda, ia digelari Al-amin (yang terpercaya) di tengah-tengah kami. Kami sama sekali tak pernah mencoba menyebutnya berdusta,” kata Abu Jahal.

Keponakannya kembali bertanya, “Wahai paman, mengapa kalian tidak mengikutinya?”

Baca Juga :  IPB Klaim Jeruk dan Kulit Jeruk Berpotensi Mampu Melawan Covid-19

Abu Jahal menjawab, “Keponakanku, kami dan bani Hasyim selalu bersaing dalam masalah kemuliaan. Jika mereka memberi makanan, kami juga memberi makanan. Jika mereka menjamu dengan minuman, kami juga demikian. Jika mereka memberi perlindungan, kami juga melakukannya.”

“Sampai-sampai kami sama-sama duduk di atas hewan tunggangan untuk berperang, kami (dan bani Hasyim) sama dalam kemuliaan. Kemudian mereka mengatakan, “’Di kalangan kami ada seorang Nabi (Muhammad SAW)’. Kapan kabilahku bisa menyamai kemuliaan ini?”

Dalam kisah lain diceritakan, di hari Perang Badar, Al-Akhnas bin Syuraiq bertanya kepada Abu Jahal. “Abul Hakam, beritahu aku tentang Muhammad. Apakah ia orang yang jujur atau pendusta? Karena di sini tak ada seorang Quraisy pun selain aku dan engkau yang mendengar pembicaraan kita.”

Abu Jahal menjawab, “Celaka engkau! Demi Allah, sungguh Muhammad itu seorang yang jujur. Dia sama sekali tak pernah berbohong. Tapi, kalau anak-anak Qushay dengan al-liwa’ (mengatur urusan perang), hijabah (memegang kunci Ka’bah dan pengaturannya), siqayah (memberi jamaah haji minum), dan juga nubuwwah (kenabian). Quraisy yang lain kebagian apa?” (Ibnul Qayyim, Hidayatul Hayara, Hal: 50-51).

Wakil rakyat yang baru saja dilantik, Amr bin Hisyam akan beralasan apapun untuk membenci Nabi Muhammad SAW. Ia punya sejuta alasan untuk tidak mengakui ajaran yang dibawa Muhammad bin Abdullah. Bapak Kebijaksanaan yang juga Bapak Kebodohan ini rela mengorbankan seluruh harta, pikiran bahkan nyawa pun ia korbankan. Semua demi memperjuangkan apirasi pribadi dan golongannya.

Baca Juga :  Wahai Legislator Kapuas, Ingat Sumpah dan Janjimu, Opini Sastriono

Tapi kalau dia bersumpah dengan nama Allah SWT, dia tinggalkan semua aspirasi pribadi dan golongannya. Tak peduli waktu bersumpah itu di depan banyak orang atau hanya berdua. Tidak ada kata bohong yang terucap dari mulutnya.

Wakil rakyat yang baru dilantik, sejahal jahalnya Abu Jahal, dia tidak terlalu jahal untuk bersumpah dengan menyebut “Demi Allah”, kemudian mengingkarinya. Karena dia Abu Hakam.

Wakil rakyat yang baru dilantik, jika kalian bersumpah “Demi Allah” dengan al Quran diatas kepala kalian. Kemudian kalian mengingkari apa yang telah kalian sumpahkan, maka kami harus menjuluki kalian apa? Abu Jahal yang juga Abu Gosok?

Loading...

Baca Juga