oleh

Gema Masyumi Tantang Kedua Capres Test Kemampuan Baca Al-Quran Yang Baik dan Benar

SUARAMERDEKA – Gema Masyumi yang merupakan Majelis Syuro Muzakarah Generasi Muda Islam. Telah merumuskan sebuah kriteria pemimpin dalam perspektif Islam bagi Calon Presiden Republik Indonesia. Dalam menyongsong tahun politik dan agenda pemilihan Presiden serta Legislatif. Yang akan serempak dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019.

Rumusan kriteria tersebut telah disepakati dalam rapat terbatas para pemimpin Ormas pendiri Gema Masyumi di Jl. Raya Taman Amir Hamzah No 2, Menteng, Jakarta Pusat. pada Senin (25/09/2018).

“Kami para pemimpin Ormas Pemuda Islam telah sepakat dalam menentukan kriteria pemimpin dalam perspektif Islam,” ungkap Diko Nugraha selaku Sekjend Gerakan Pemuda Islam.

Lanjut Diko “salah satu kesepakatan kami adalah, Gema Masyumi akan mengundang kedua Capres secara terbuka dengan tajuk ‘SIAPA BERANI‘ untuk melakukan test kemampuan membaca Al-Quran yang baik dan benar”.

Baca Juga :  Umar Halim: Gugatan ke MK Untuk Membuktikan Jika Kemenangan Itu Bersih

Kegiatan test kemampuan membaca Al-Quran tersebut akan di kemas dalam “Halaqah Kebangsaan Gema Masyumi” pada tanggal 30 September 2018 di Masjid Al Fataa Jl. Menteng Raya No. 58, Jakarta Pusat.

Dengan harapan kegiatan tersebut mampu melahirkan Pemimpin yang berakhlak politik baik, dan sejalan antara ucapan dan perbuatan (kaburo maktan).

Selain itu, Chairul Razak Ketua Pemuda Matahari Bangsa menyayangkan kepada pihak-pihak yang selama ini hanya memanfaatkan dan mempolitisasi gerakan serta keikhlasan ummat Islam, sehingga ummat terpolarisasi.

“Stop politisasi keikhlasan ummat, karena politisasi tersebut akan menimbulkan polarisasi dikalangan ummat Islam”

Gema Masyumi merasa terpanggil untuk menyelamatkan persatuan ummat Islam, yang saat ini telah terpolarisasi dan terpecah belah. Karena dimanfaatkan oleh kepentingan politik yang belum tentu menguntungkan bagi ummat Islam.

Baca Juga :  Binmas Noken Polri Gelar Diskusi Bareng Mahasiswa Se Jayapura

“Dalam sistem politik di Indonesia saat ini yang sangat liberal dan menimbulkan politik uang. Serta politik yang transaksional jelas tidak sejalan dengan Islam,” pungkas Chairul. (RED)

Loading...

Baca Juga