oleh

Kalilah dan Dimnah. Opini Asyari Usman

Kalilah dan Dimnah. Oleh: Asyari Usman, Wartawan Senior.

Lebih 2,000 tahun silam, seorang raja di India yang bernama Dabsyalim meminta Baidaba, seorang filosof, mengarang cerita-cerita dongeng. Baidaba kemudian menjudulkan bukunya dengan nama dua tokoh sentral dongeng itu. Yaitu, Kalilah dan Dimnah. Dua srigala bersaudara. Kalilah adalah sosok srigala yang baik hati dan berakal sehat. Sedangkan Dimnah adalah srigala yang ambisius, cerdik dan licik.

Dongeng ini menampilkan binatang sebagai para pelakunya. Tetapi, menggunakan ilustrasi yang manusiawi. Kisah-kisah yang dimanusiakan.

Kumpulan dongeng ini menjadi sangat terkenal. Dari bahasa aslinya, Sanskerta, Kalilah dan Dimnah kemudian diterjemah ke banyak bahasa. Termasuk bahasa Persia, Arab, Inggris, Prancis, dan juga Melayu.

Bagi saya, Kalilah dan Dimnah menggoreskan kesan yang dalam. Dituturkan dengan runtun oleh ayahanda ketika saya masih duduk di kelas 5 SD. Dari edisi bahasa Arab. Kebetulan, beliau belajar di “sekolah Arab” dan menjadi guru di sekolah-sekolah menengah Arab. Seandainya masih hidup, ayahanda sekarang berusia 103 tahun. Alfatihah.

Baca Juga :  Anies Pakai Social Distancing, Jokowi Pakai Political Distancing

Hari ini, saya teringat lagi Kalilah dan Dimnah. Dongeng tentang persahabatan, pengkhianatan, kecerdikan, kelicikan, dan kedunguan. Sindiran-sindriannya halus tapi tajam. Dan banyak yang bersuasana jenaka.

Mohon maaf kepada Anda semua, saya terdorong untuk menyajikan Kalilah dan Dimnah di sini. Mungkin seminggu sekali atau dengan interval waktu lainnya. Mohon maaf pula bagi yang ‘sudah hafal’ buku Prof Baidaba itu. Saya ambilkah cerita dalam cerita saja. Bukan cerita utamanya.

Kalilah dan Dimnah 1: Monyet dan Tukang Kayu

Kalilah menceritakan kisah ini kepada Dimnah agar dia tidak mencampuri urusan kerajaan. Kata Kalilah, tersebutlah seorang tukang kayu dengan monyet peliharaannya. Sepanjang hari, monyet itu mengamati tuannya bekerja membelah sebatang kayu panjang.

Si Monyet sangat ingin mencoba martil si Tuan. Suatu hari, si Tuan istirahat dari kerjanya. Tanpa buang waktu, si Monyet pun memanfaatkan kesempatan itu untuk bermain dengan martil impiannya.

Baca Juga :  Separah-parahnya Amerika, Masih Ada Kontrol. Kalau China?

Si Monyet mengambil martil itu. Kemudian dia perhatikan sebuah pasak yang tertancap di celah belahan kayu. Tanpa disadari si Monyet, ekornya menyelip ke belahan kayu yang telah berpasak itu.

Si Monyet menghantamkan martil berat itu ke pasak. Tapi, malangnya, pasak malah terpental. Lepas dari kayu. Si Monyet langsung pingsang. Ekornya terjepit di belahan kayu.

Tak lama kemudian, si Tuan kembali ke tempat kerja. Melihat si Monyet pandai-pandaian mencampur pekerjaannya, si Tuan bukannya merasa kasihan. Dia malah menghukum si Monyet atas kelancangannya mengambil-alih urusan yang bukan dalam kapasitasnya.

Dari kisah ini, Anda mungkin akan teringat dengan kejadian-kejadian yang pernah Anda dengar atau saksikan. Yang jalan ceritanya mirip-mirip dengan si Monyet yang mencoba sesuatu yang tidak dipahaminya.

Bayangkan kalau si Monyet mengambil kendali pesawat yang berpenumpang 500 orang. Dan dia terkunci sendirian di ‘cockpit’. Atau, bayangkan kalau si Monyet ingin berlagak menjadi presiden. Apa jadinya?

Loading...

Baca Juga