oleh

Antara Kebo dan Kebo-Hongan, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Antara Kebo dan Kebo-Hongan. Catatan kecil pojok warung kopi ndéso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Meskipun lahan persawahan sudah banyak beralih fungsi dan tak banyak lagi binatang yang namanya Kebo, seperti dulu, tetapi jangan takut ataupun khawatir, masih banyak Kebo-Kebo yang lain sebagai pengganti. Bukan salah Kebo juga sehingga namanya dikait-kaitkan dengan jenis kebo yang lain.

Ada Kebo-hongan, ada Kebo-brokan, Kebo-dohan, Kebo-coran, “Kebo Nyusu Gudel” dan lain sebagainya.

KEBOHONGAN itu perlu publikasi media, perlu viral dan cetar di media sosial dan TV-TV. Sementara kejujuran itu cenderung sebaliknya, bahkan ia terkesan pasif, sunyi dan tak begitu menarik untuk diamati dan dibuktikan. Tempatnya nylempit, tersembunyi di celah-celah nurani masing-masing orang.

Ada pemeo, Kerbau atau Kebo itu dipegang tali hidungnya, manusia dipegang janji dan ucapannya. “Ajining diri gumantung ana ing lathi.” harga diri itu bergantung pada mulut, apa yang diucapkannya. Jika berkata-kata tidak berdusta, jika berjanji ditepati, dan jika diberi amanah, bisa dipercaya. Itu yang seharusnya berlaku bagi setiap pribadi yang disebut pemimpin. Tapi entah mengapa tiga hal berkaitan mulut dan amanah ini kini sulit sekali didapati pada pribadi pemimpin.

Jika mengupas soal dusta dan kebohongan, ada pergolakan, pergumulan antara pertimbangan moral dan alasan survival sebelum Kebo-hongan dibuat oleh setiap orang yang (berkomitmen) melakukannya.

Moralitas agama apapun, jelas-jelas mengajarkan untuk berlaku atau menjalani hidup dan bertahan hidup dengan cara JUJUR dan BENAR. Tapi ya balik lagi… karena satu dan lain hal, cara itu semakin langka adanya. “Angel ngaku gampang nambuh…” susah berkata jujur lalu cuek alias gambuh, gampang nambuh.

Secara teoritis, alam pemikiran bangsa ini berdasarkan:
-by the Grace of God (Ketuhanan)
– by the Will of The Peopele (Kerakyatan). Tetapi kemudian dalam prakteknya ya selalu melenceng dari dasar-dasar pakem diatas, dan selalu saja mempunyai pola seperti berikut:
– by the Grace of Rulers (Para Penguasa)
– by the Will of The Small Groups (Kongsi-Kongsi Dagang)

Baca Juga :  Kebaya Versus Jilbab, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Dan pada perkembangannya kemudian, seakan-akan menjadi suatu peraturan tak tertulis serta bagian dari strategi dan teknik Survival Handbook bahwa: “Setiap Orang Boleh Berbohong, Asalka Tidak Sasah. Asalkan Menguntungkan. Asalkan Tujuan Tercapai.” Toh ini semua dilakukan demi Kelangsungan Hidup. Maka lalu lahirlah semboyan sebab-akibat (implikasi): “Jujur bakalan Ajur, hancur!”

Yang melakukan Korupsi, pastilah melakukan Kebo-Hongan. Iya kan, karena ibarat orang buang air besar pastilah didahului dengan buang air kecil to? Silakan diuji coba kebenarannya, misal boker tanpa pipis dulu, bisa tidak?!

Yang jadi masalah, mosok anak-anak, kita ajarin berbohong? Nanti jika ada pertanyaan; “Apa akibat jika orang sering berbohong?” Mereka serentak menjawab; “Bisa Jadi Presiden!”

Soal-soal beginian mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Bapak-bapak yang duduk di kursi empuk kekuasaan. Bohong itu seolah sudah menjadi tabiat, watak, yang susah diperbaiki. Hingga hal ini jugalah yang melatari seorang propagandis Nazi Jerman, Joseph Gobels merumuskan teori “How to Turn Lies into Truth; Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik maka kebohongan itu akan menjadi sebuah kebenaran.” “If you keep telling lies eventually they believe it.” Begitu katanya… Propaganda is a deadly political weapon. Propaganda adalah Senjata politis yang mematikan. Prinsipnya, 1000 (seribu) Kebohongan yang diucapkan berulang-ulang adalah suatu Kebenaran.

Alhasil; Pencitraan, Hoax, Janji Palsu menjadi komoditas dusta dan angin sorga yang laku dijual, menghipnotis banyak orang sehingga ramai-ramai mengamini Kebo-Hongan. Rakyat dibikin tidak fokus, agar pengawasan terhadap kinerja pemerintah terabaikan. Logika atau akal sehat dibolak-balik, yang akhirnya jadi semacam Kebodohan.

Baca Juga :  Kalau Bikin Statemen Yang Menyejukkan, Bukan Malah Menggarami Luka

Seperti kata Baudillard dalam tesisnya, konon kita telah memasuki tahap realitas semu (hyper-reality) di era simulakra, dimana antara citra dan realita telah melebur sehingga publik tidak mampu membedakan mana isu fiktif mana yang realita, yang kemudian berkembang menjadi semacam Kebobrokan.

Maka Invasi Ekonomi korporasi asing pun dikatakan sebagai (iklim) investasi sebagai penggerak roda pembangunan. Bahan bakar pertumbuhan ekonomi, konon. Meski saya terus terang gagal paham soal ini. Ekonomi bertumbuh, tapi daya beli masyarakat ndlosor, rendah. Kondisi faktualnya, pertumbuhan rata-rata selama Jkw memimpin adalah 5%. Baik atau buruk itu relative. Tapi jika dibanding SBY ya buruk. Dibanding rata-rata growth negara-negara G20 ya relative baik. Cuma preferensi mengambil pembanding saja. Tidak ada norma absolutnya juga.

Dari kondisi perekonomian ini, pemerintah menyusun APBN 2018. Anda lihat pemerintah memang sudah menganggarkan untuk berhutang 325.9 T. Ya tidak apa-apa juga sih ngutang. Asal bisa dimanfaatkan dengan baik. Bukannya bocor disana-sini gak jelas juntrungannya, iya… Kebocoran disana-sini !

Masih banyak ragam kebohongan yang sudah dilakukan jika mau membuat daftarnya. Tetapi buat saya, bentuk kebohongan terbesar yang dibangun rezim ini salah satunya adalah menihilkan jasa pendahulunya. Apa saja dituduh mangkrak. Kebohongan ini sukses dimainkan dari tahun 2014 karena Demokrat lagi tiarap. Tetap saja sekarang orang susah percaya sama data Partai Demokrat.

Mengakhiri catatan kecil ini, masalah negara ini barangkali akan lebih mudah diatasi jika kita semua mau jujur. Melihat dengan jernih beragam persoalan yang hulunya satu; Rezim Palsu Kok Mau Dipilih Lagi… wakakakabooor ahh!

Loading...

Baca Juga