oleh

Demokrasi Sekuler Selalu Hina Nabi. Opini Aprilina

Demokrasi Sekuler Selalu  Hina Nabi.

Ditulis oleh: Aprilina, SE.I, Aktivis Muslimah Peduli Ummat.

Kembali terulang penghinaan terhadap nabi Muhammad SAW. Lagi-lagi pelakunya negara yang membidani lahirnya sistem demokrasi. Prancis mengibarkan kembali bendera permusuhan dengan umat Islam di seluruh dunia dengan membuat kartun nabi Muhammad SAW. Untuk kesekian kalinya Prancis mengundang kemarahan kaum muslimin.

Demonstrasi dan seruan utk memboikot produk Prancis pun tak dapat dicegah. Hasilnya, beberapa saham Prancis anjlok , diantaranya DANONE. Tak dapat dipungkiri bahwa kenyataannya, kaum muslimin menjadi konsumen terbesar di dunia pasar global. Maka ketika suatu produk diboikot oleh umat Islam, bersiaplah untuk menghadapinya.

Namun sangat disayangkan jika umat Islam merasa cukup dengan memboikot produk saja. Sebab hal ini hanya bersifat sementara. Apalagi, pemboikotan bukanlah cara yang jitu utk menghentikan penghinaan terhadap nabi SAW. Buktinya, apa yang terjadi hari ini bukanlah penghinaan yang pertama terhadap nabi Muhammad SAW. Dulu, pemboikotan terhadap produk Prancis pun dilakukan. Namun ini hanya sementara. Pemboikotan produk Prancis pada hari ini tidak menjamin akan menghentikan penghinaan terhadap nabi Muhammad SAW. Sebab dalam sejarah, peristiwa ini selalu berulang.

Alangkah lebih baik jika umat Islam memboikot pemikiran sekuler yang berasal dari negara tersebut. Melirik pada sejarah Prancis yang menjadi pelopor terjadinya revolusi industri pada tahun 1789 yang dilatarbelakangi karena masyarakat di Eropa berada pada posisi monarki absolut. Hidup di bawah sikap kesewenangan raja yang dimainkan oleh para pendeta. Sehingga memaksa para pemuda yang cerdas dan  pemikir diantara masyarakat melakukan aksi protes dengan membentuk konstitusi. Dalam perjalanannya, konstitusi ini kemudian membidani lahirnya sistem demokrasi sekuler. Sistem ini mengusung ide kebebasan berekspresi, berpendapat dan beragama. Ide kebebasan inilah yang menjadi alasan pelegalan penghinaan terhadap nabi Muhammad SAW. Maka untuk menghentikan penghinaan tersebut harus memboikot ide sekulerisme yang menjadi akar permasalahannya.

Satu-satunya sistem kehidupan yang bisa mengatur kehidupan manusia agar berjalan dengan harmonis meskipun berbeda keyakinan agamanya ialah Khilafah Islam. Ini telah terbukti selama 13 abad. Ketika Islam diterapkan pertama kali di Madinah, penduduk yang ada terdiri dari Muslim dan Yahudi. Aturan Islam dengan keadilannya tidak menindas dan menzalimi serta melecehkan ajaran agama lain. Warga negara. Apalagi penjagaan terhadap kemuliaan dan kehormatan seorang nabi.

Selama aturan Islam diterapkan oleh negara khilafah, tidak pernah terjadi penghinaan terhadap nabi SAW.

Sejarah mencatat bahwa pada masa kekhilafahan pimpinan Abdul Hamid II (1876-1918) Prancis pernah berencana menggelar drama dari karya Voltaire sang pemikir Eropa yang menghina nabi SAW. Namun drama tersebut gagal dipentaskan karena Khalifah Abdul Hamid memerintahkan kepada dutanya di Paris untuk menyerukan penghentian pementasan drama tersebut dan ancaman politik jika pemerintahan Prancis tetap melaksanakan pementasan tersebut. Maka Prancis membatalkan pementasan drama tersebut. Begitulah kekuatan yang dimiliki oleh Daulah Khilafah Islam. Kekuatan yang tidak dimiliki oleh pemimpin negeri-negeri muslim hari ini. Maka satu-satunya jalan untuk menghentikan penghinaan terhadap nabi dan ajaran Islam lainnya hanya dengan mengembalikan kekuatan politik Islam dengan tegaknya Khilafah Islam. Inilah satu-satunya sistem yang menjamin kemuliaan sebagaiman firman Allah SWT sebagai berikut:

1.Q.S Al-Anbiya (21) :107, artinya: “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi seluruh alam”

2.Q.S Al-Isra (17) :70, artinya: “Dan sungguh, kami telah memuliakan anak-cucu Adam dan kami angkut mereka didarat dan dilaut dan kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka diatas banyak makhluk yang kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”

3.Q.S Al-Maidah (5) :49, artinya: “Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

4.Q.S Al-Maidah (5) :50, artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?

5.Q.S An-Nur (24) :54-55, artinya: “Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan amanat dengan jelas’. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan bahwa dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah dia ridhai. Dan dia benar-benar mengubah keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku dan tidak menyekutukanku dengan sesuatupun. Tetapi barangsiapa tetap kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik”.

Wallaahu a’lam.

Loading...

Baca Juga