oleh

Antara Kebebasan dan Kehormatan. Opini Aprilina

Antara Kebebasan dan Kehormatan.

Ditulis oleh: Aprilina, SE.IAktivis Muslimah Peduli Umat.

Narasi ‘kebebasan’ yang dihembuskan kaum liberal ibarat racun yang dibalut madu. Tampaknya manis namun sejatinya menyesatkan bahkan menjerumuskan manusia pada kehinaan. Buktinya kebebasan berprilaku menjerumuskan manusia pada kehinaan yang lebih buruk daripada hewan. Bagaimana tidak, kebebasan memilih pasangan dengan istilah LGBT yang mereka propagandakan merupakan fenomena yang baru terjadi di zaman ini. Dalam dunia hewan tak pernah kita ketahui hewan jantan yang kawin dengan sesama jantan atau bahkan kawin dengan 2 hewan sekaligus, jantan kawin dengan jantan dan betina.

Namun hari ini, dialam kehidupan manusia fenomena ini terjadi. Inilah yg dikatakan dalam Al Qur’an dalam surat Al A’raf: 179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Hal ini lebih dahsyat daripada kaum nabi Luth yang dikisahkan dalam Alquran. Allah Ta’ala berfirman:
“Kaum Luth telah mendustakan Rasulnya, ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka, Mengapa kamu tidak bertakwa?’. Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata ‘Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu.” (QS. Asy-Syu’ara:160-168).

Kaum Sodom yang laki-laki hanya mau menggauli sesama laki-laki. Ini dikenal dengan istilah homo sex. Mereka diazab Allah dengan membalikkan tanah tempat mereka tinggal menjadi dasar lautan. Hari ini kita kenal dengan nama Lautan Mati. Allah Ta’ala membalikkan tanah yang berada di negeri itu sehingga tanah yang berada paling bawah terbalik menjadi berada di paling atas. Laut Mati adalah danau yang membujur di daerah antara Israel, Palestina dan Yordania. Di 417,5 m di bawah permukaan laut, merupakan titik terendah di bumi. Laut mati memiliki kandungan garam tertinggi dari seluruh laut di dunia. Danau ini dinamakan Laut Mati karena tidak ada bentuk kehidupan yang dapat bertahan dalam air garam ini.

Apalah jadinya negeri ini jika perilaku bebas dan ide kebebasan diadopsi oleh penguasa dalam menjalankan pemerintahan. Alamat kehinaan yang lebih buruk daripada kaum Sodom menimpa kita semua. Cukuplah apa yang terjadi pada kaum nabi Luth menjadi pelajaran berharga. Maka dari itu sudah menjadi kewajiban kita semua mencegah dan menolak ide kebebasan ini demi kehormatan disisi Allah dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Hanya dengan penerapan syariat Islam secara keseluruhan oleh institusi Daulah Khilafah Islam, manusia hidup terhormat dan mati mulia. Islam menggambarkan keberadaan seorang pemimpin (Khalifah) sebagai orang yang melaksanakan hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat seperti perisai. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang Imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (Khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Sebagaimana fungsi perisai sebagai pelindung, maka seorang pemimpin wajib melindungi masyarakat yang dipimpinnya. Baik muslim maupun kafir. Karena warga negara Khilafah tidak harus muslim. Orang Yahudi maupun ahli kitab bisa menjadi warga negara Khilafah selama taat dan tunduk pada aturan-aturan yang diterapkan. Bagi laki-laki kafir yang mampu diwajibkan membayar jizyah sebagai kompensasi terhadap negara dalam penjagaan persamaan haknya dengan muslim dalam hal harta dan darah. Maka haram hukumnya mencuri harta dan membunuh orang kafir yang menjadi warga negara Khilafah. Ketika orang kafir tersebut melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Khalifah, maka dia akan dihukum sebagaimana hukuman yang ditetapkan bagi muslim yang melanggar. Syariat Islam jika diterapkan akan menjaga beberapa aspek sbb:

1. Aqidah, penerapan hukuman bunuh bagi muslim yang murtad jika tidak kembali beriman setelah didakwahi.
2. Jiwa manusia dengan hukum Qishas bagi pelakunya. Q. S. Al Baqarah: 178
3. Harta. Hukum potong tangan bagi pencuri, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan ketentuan harta yang dicuri lebih dari seperempat dinar atau tiga dirham. QS. Al-Maidah: 38, dan sabda Nabi SAW, dari Aisyah ra. ,”Tangan pencuri dipotong bila nilainya ¼ dinar ke atas”. (HR. Bukhari, Muslim).

Dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah SAW memotong tangan pencuri mijan yang nilainya 3 dirham”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-tirmizy dan An-Nasai).

4. Akal. Larangan minum khamr dan segala yang memabukkan (QS. Al-Maidah:90)
5. Kehormatan. Hukum jilid dan rajam bagi pezina (QS. An-Nur: 2), serta penyimpangan seksual, seperti LGBT akan dikenakan hukuman had maupun takzir, oleh pihak yang berwenang dalam hal ini Khalifah.
Takzir itu adalah jenis hukuman yang tidak ditetapkan kadarnya oleh dalil tetapi diserahkan oleh kebijakan mekanisme peraturan hukum negara. Had itu adalah ketentuan hukum yang kadar dan jenisnya itu sudah disebutkan di dalam Alquran dan Hadist.

Demikianlah hukum Islam yang menjauhkan manusia dari kehinaan dan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, Surat Al Anbiya ayat 107 yang artinya : “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.(TQS. Al-A’raf [7]:96).

Inilah kehidupan yang dirindukan masyarakat hari ini. Perlindungan yang diberikan oleh Khalifah tidak hanya dalam kehidupan dunia saja, namun hukum Islam yang diterapkan melindungi manusia dari azab Allah SWT di akhirat.

Wallaahu a’lam.

Loading...

Baca Juga