oleh

Memaknai Peringatan Hari Ibu. Opini Firli Bahuri 

Memaknai peringatan Hari Ibu. Oleh: Firli Bahuri, Ketua KPK.

Hari ini, Minggu 22 Desember, kita masyarakat Indonesia memperingati hari ini sebagai hari Ibu.

Lebih dari setengah abad yang lalu tepatnya Tahun 1959, Presiden Soekarno memilih tanggal ini sebagai peringatan Hari Ibu, yang merujuk pada pembukaan Kongres Perempuan Indonesia pertama, yang digelar pada 22 hingga 25 Desember 1928.

Beberapa sifat ibu, marah jika kita berbuat salah, cerewet jika teledor, banyak melarang, banyak aturan, itu sebenarnya bentuk kepedulian seorang ibu yang tak kenal lelah untuk menjaga, menyayangi dan mendidik anaknya.

Sewaktu kecil ditengah malam, saya sering terjaga dari tidur dan melihat ibu sedang bedoa usai menjalankan ibadah salat tahajud. Sayup-sayup terdengar nama saya disebut dalam doanya.

Bagi saya, Hari Ibu bukan sekedar ceremony tahunan belaka, tapi bagaimana kita memaknai esensi dan nilai dari pengorbanan seorang ibu, hingga pentingnya peran ibu bagi masa depan suatu bangsa.

Masa depan suatu bangsa itu sebagian besar terletak pada kaum perempuan, karena peran ibu sangat penting dalam mendidik dan membentuk karakter seorang anak menjadi kuat, disiplin, jujur serta ber-ahlak mulia, yang kedepannya akan menjadi pemimpin bangsa.

Bagi saya ibu adalah segalanya, ibu sayalah yang mengenalkan saya dengan kenyataan hidup, tantangan dan dengan segenap peluangnya.ibu selalu mengajarkan kepada apa arti kerasnya kehidupan dan hidup itu adalah perjuangan.

Perjuangan dan kerja keraslah yang akan membentuk karakter pribadi seseorang, apakah akan menjadi pribadi yang gigih, pekerja keras pantang menyerah atau justru menjadi pribadi yang lemah dan cepat putus asa. Saya kira kita harus menempa diri untuk menjadi pribadi yang kokoh, pejuang, petarung tanpa mengenal kata menyerah sehingga muncul sebagai pemenang dengan tetap bertawakal serta penuh keyakinan bahwa semua atas kuasa dan kehendak Allah SWT Tuhan yang Maha Kuasa.

Ibu adalah sosok yang sangat menentukan bagi perjalanan anak-anaknya dan bahkan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Pepatah itu punya makna implisit, bahwa langkah kaki ibu-lah yang menentukan nasib anaknya.

Beberapa waktu lalu, saya berziarah ke makam ayah dan ibu saya di Desa Lontar, Sumatera Selatan. Saya sadar betul bahwa apa yang kita capai saat ini karena jasa orang tua, seorang ibu.

Saya menilai pengabdian kepada orang tua tidak hanya saat mereka masih hidup, ketika mereka meninggal pun wajib dilakukan. Berziarahlah ke makam orang tua untuk berdoa, Insya Allah akan saya lakukan setiap waktu. Jika belum bisa berziarah, doa-doa tentunya selalu kita lantunkan untuk mereka.

Terimakasih Ayah dan Ibu, semoga Allah SWT mengampuni semua dosa, menerima seluruh amal ibadah sehingga ditempatkan ditempat yang layak di sisi Allah SWT, Amin.

Loading...

Baca Juga