oleh

Mengacak-acak Logika Publik Menggunakan Buzzer (Influencer)

Mengacak-acak Logika Publik Menggunakan Buzzer (Influencer). Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso.

Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Kata Baudillard, konon kita telah memasuki tahap realitas semu (hyper-reality) di era simulakra, di mana antara citra dan realita telah melebur sehingga publik tidak mampu membedakan mana isu fiktif mana yang realita.

Industri hoax belakangan sangat berkembang. Secara normative pernyataan soal kebutuhan akan influencer bisa diterima. Dunia digital memang memberikan pasar bagi banyaknya gagasan. Demokratis begitu maksudnya. Persoalannya, pasar gagasan itu dirusak oleh pemerintah saat mereka mempekerjakan influencer untuk kepentingan penguasa.

Buzzer alias influencer by definition adalah orang-orang yang menyebarkan suatu narasi persuasi. Bahasa lokalnya disebut Pendengung atau dalam bahasa Jawa disebut Combe. Bayaran mungkin bukan sebagai bagian dari definisi. Motifnya memang bisa uang. Tapi tentu masih banyak motif yang lain. Karena banyak juga yang melakukan kegiatan persuasif tersebut tanpa bayaran alias sukarela. Narasi persuasi bisa saja berupa kebohongan, fitnah, melebih-lebihkan hal remeh-temeh dan memblow up issue yang seringkali belum jelas kebenarannya.

Sebagai marketer, tentu saja saya tahu bahwa buzzer dan influencer ini memiliki nilai yang besar. Kalau mereka menjadikan pengaruh mereka sebagai sumber penghasilan itu masih dalam koridor keekonomian. Tinggal persoalan etis saja. Akan membawa manfaat atau mudlarat. Tapi inti tujuannya sama: mengacak-mengacak logika publik dengan menyebar kebohongan dan kepalsuan, alias pembodohan publik sehingga benar anggapan bahwa jika masyarakat sedang mengalami cacat nalar. Karena intelektualitas dan kecerdasan menjadi tidak penting lagi di rezim ini. Hal ini sulit disangkal, bahwa kelebihan rezim ini selain mampu mencabut akal sehat publik, juga melenyapkan kecerdasan para staf dan pembantunya.

Narasi yang selama ini ditanamkan adalah sebarkan kebohongan berulang-ulang ke publik maka kebohongan tadi seolah-olah nyata dan bisa menjadi kebenaran. Dalam amatan pojok warung kopi ndeso sih ini rezim yang sangat mengandalkan industri hoax dan pencitraan untuk tetap berkuasa sembari mengelabui, dan mainan ilusi. Pupur bagi muka penguasa yang kinerjanya compang-camping. Contoh saja, saat awal merebak covid-19, maju mundur memberlakukan karantina wilayah alias lockdown, tadinya menolak untuk bilang ini krisis, dengan narasi menentang adanya pandemi. Justru menghamburkan 72 M bagi influencer untuk menarik wisatawan asing datang. Dan tempo hari tercatat penggunaan APBN sebesar 95 miliar untuk membayar influencer. Dan tentu masih banyak sekali contoh kasus yang jika diuraikan gak akan selesai tiga hari tiga malam.

Saya paham, penguasa membutuhkan jasa mereka untuk menghadapi oposisi yang terus menyerang pemerintah. Sebagaimana saya paham pemerintah juga menginginkan stabilitas, keamanan dan ketentraman. Tapi lucu ajah saat ngakunya pendukung pemerintah tapi kerjaannya meributkan orang-orang yang jadi lawan politik secara berlebihan. Karena hukum aksi-reaksi itu pasti terjadi. Melebar ngga perlu itu keniscayaan. Mosok kinerja belepotan ditutupi dengan banyak bacot, demonologi soal Islam radikal, intoleransi dan mainan hestek dengan sewa buzzeRp.

Ngadepin oposisi bukannya cukup tunjukkan hasil kinerja yang bagus yak? Bukan sebaliknya, oposisi yang diserang. Dengan buka-bukaan data pribadinya, pembunuhan karakter, dengan foto-foto rekayasa photoshop, atau menyebarkan meme negatif. “Ya tapi kak, mereka kan terus menjelek-jelekkan pemerintah.” Ya lawan itu tanpa harus membully. Perlihatkan data. Susun argumen. Bisakah? Bukan cuma menghardik atau menjadikannya bulan-bulanan lelucon di medsos. Pendekatan pemerintah terhadap perlawanan oposisi terbilang salah. Mbokya gunakan untuk menarik hati hater, 6 tahun lho, masak musti ribut mulu?

Para akademisi dan orang-orang yang waras sudah cukup memberikan masukan. Tapi rezim dan oligarki politiknya budeg semua. Masak orang tidak boleh kesel sama buzzeRp-buzzeRp yang cari makan dari potensi penderitaan rakyat?

Buzzer-buzzer mitra rezim seringkali mainan hestek, naikin tagar dan hembuskan issue, menebar fitnah, yang cuma tambah bikin onar. Kapan ya orang-orang ini dikasih sedikit kecerdasan agar tahu kalo yang penting dijaga itu adalah tensi sosial. Yang rusuh itu urusannya sama aparat. Sesama rakyat ya harusnya dibikin adem.

Dalam kaitan dengan BuzzeRp (buzzeR pemerintah yang dipeyoratifkan melakukannya demi uang), kebencian publik terbentuk karena:
1. Mainnya kasar. Mengandalkan bully yang dipenuhi sumpah serapah dan intimidasi personal.
2. Narasinya memecah belah dan tidak jarang mereka menggunakan fitnah, hoax dan doxing. Hanya karena mereka pikir penguasa pasti berada di pihak mereka. Ini menjadikan playing fieldnya tidak lagi seimbang. Lagian, tidak sehat banget.
3. Penghambaan yang memuakkan pada penguasa, alias taklid buta, padahal realitas ekonomi dan sosial pada saat ini sangatlah buruk. Bekerjanya demi penguasa dan bukan kepentingan masyarakat yang membayar pajak, yakni uang yang dipakai pemerintah untuk membayar mereka.

Jaman Suharto dulu cukup Harmoko dan Moerdiono saja yang ngomong, semuanya jadi beres. Sekarang ada Mensesneg, ada Sekkab, jubir kepresidenan maupun, ada KSP sampe nyewa Anu Ngadalin, masih bayar buzzer atau influencer, bahkan menteri-menterinya sepertinya punya pekerjaan tambahan menjadi buzzer.

Kalau mau cari siapa dulu yang mulai, maka kita tidak akan beranjak dari situasi konflik dalam sekam ini. Pilihan yang masuk akal hanyalah; mau tutup buku dan memulai proses rekonsiliasi atau tidak sama sekali. Karena, alternatifnya, konflik dalam sekam itu lama-kelamaan bisa membakar bangsa ini.

Mau punya harapan apa selain dikibulin terus jika menggunakan buzzer sebagai ujung tombak pemerintahan? Tidak kaget sih jika nanti bakalan ambyaaarr, Chaos!

Loading...

Baca Juga