SUARAMERDEKA.ID – Paisal asal SDN 1 Kepatihan membawa nama harum Banyuwangi, dengan berbagai medali dan sertifikat prestasi di koleksi selama menempuh pendidikan dasar, namun masuk sekolah ke jenjang menengah pertama di SMPN 1 kota Muspro alias tidak di terima.
Sementara meraih prestasi melalui sejumlah kejuaraan olahraga tingkat provinsi hingga regional Jawa-Bali, tidak bisa membantu untuk proses seleksi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMP pavorit. Prestasi tersebut dinilai belum mampu membuka jalan menuju sekolah yang diimpikannya.
Kondisi itu membuat orang tua Faisal merasa kecewa. Apalagi, selain berstatus siswa berprestasi, Faisal juga berasal dari keluarga penerima Program Indonesia Pintar (PIP) yang dibuktikan dengan kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Anak saya sudah membawa nama Banyuwangi di berbagai kejuaraan. Sertifikat yang dimiliki ada sembilan, tapi saat mendaftar sekolah prestasinya seperti tidak dianggap dan dihargai.” kata Ibu Faisal, Lia Riski Fauziah (35), Senin (15/6/2026).
Menurutnya, selama ini siswa selalu didorong untuk aktif mengikuti berbagai kompetisi, baik akademik maupun non-akademik. Prestasi yang diraih diharapkan menjadi bekal saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Namun harapan itu berubah menjadi kekecewaan ketika nilai tambahan yang diperoleh dari jalur prestasi non akademik dinilai tidak cukup berpengaruh dalam proses seleksi.
“Anak saya pinginnya di SMPN 1 Banyuwangi. Tetapi melalui jalur prestasi malah tidak diterima. Padahal dulu anak-anak dimotivasi untuk berprestasi agar mudah diterima di SMPN Favorit, tetapi sekarang setelah berprestasi ternyata manfaatnya tidak seperti yang dibayangkan.” tambah Lia Rizki dengan nada mengeluh.
Faisal bukan siswa dengan satu atau dua pencapaian. Ia tercatat meraih sejumlah gelar juara di berbagai cabang olahraga, mulai kurash, pencak silat, kick striking hingga jalan cepat. Beberapa di antaranya diraih pada kejuaraan tingkat kabupaten, kompetisi regional Jawa-Bali hingga Porseni Provinsi Jawa Timur.
Prestasi tersebut diraih melalui latihan dan perjuangan yang tidak singkat. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Faisal tetap aktif mengikuti berbagai kejuaraan hingga mampu bersaing di level provinsi. Karena itu, keluarganya berharap capaian tersebut dapat menjadi pertimbangan yang lebih besar dalam proses penerimaan siswa baru.
Kekecewaan yang dirasakan keluarga Faisal bukan semata soal diterima atau tidak diterima di sekolah tertentu. Mereka menilai persoalan yang lebih besar adalah bagaimana sistem pendidikan memberikan penghargaan terhadap siswa yang telah menunjukkan dedikasi dan prestasi membawa nama harum Banyuwangi.
“Yang kami pertanyakan bukan sekolahnya, tapi penghargaan terhadap anak-anak yang sudah berjuang dan berprestasi untuk mengharumkan nama Banyuwangi. Jangan sampai mereka merasa usaha kerasnya tidak berarti dan percuma menjadi anak berprestasi.” urainya.
Di tengah kekecewaan tersebut, Faisal tetap berusaha menjaga semangat. Ia mengaku masih memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di sekolah yang diidamkannya.
“Saya ingin masuk sekolah di SMPN 1 Banyuwangi, sekolah impian saya, supaya bisa lebih pintar dan bisa mengembangkan kemampuan saya lagi.” tutur Faisal yang kini terpaksa mendaftarkan diri di SMPN 4 Banyuwangi lewat jalur domisili.
Status Faisal sebagai siswa berprestasi sekaligus pemegang KIP membuat kisahnya menjadi perhatian tersendiri. Di satu sisi, ia berhasil menorehkan prestasi yang membawa nama daerah. Namun di sisi lain, ia masih menghadapi ketidakpastian dalam memperoleh akses ke sekolah yang diharapkannya.
Kisah Faisal juga menjadi potret kegelisahan sebagian orang tua terhadap pelaksanaan SPMB. Mereka berharap pemerintah dan sekolah dapat mengevaluasi mekanisme penerimaan siswa baru agar prestasi akademik maupun non-akademik, terutama yang diraih siswa dari keluarga kurang mampu, mendapat apresiasi yang lebih proporsional dalam proses seleksi.(BUT).







