oleh

Ramalan Ki Gendeng Pamungkas Perlawanan Rakyat Pasca Putusan MK

SUARAMERDEKA.ID – Pasca putusan MK, Presiden Front Pribumi Ki Gendeng Pamungkas meramalkan perlawanan rakyat akan semakin besar. Perlawanan ini dipicu oleh ketidakpercayaan rakyat kepada lembaga hukum yang ada di Indonesia.

Menurut pengakuan Ki Gendeng Pamungkas, ia merenung dan menbayangkan bagaimana kecewa leluhur bangsa dan para pendiri bangsa. Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, dan Sjahrir sedih melihat kondisi bangsa ini. Mereka tentu akan menanyakan pada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bangsa ini diselamatkan dari kehancuran.

Presiden Front Pribumi ini juga merujuk pada Serat yang ditulis Sri Aji Joyoboyo. Sebuah serat yang disebut memiliki ratusan ramalan soal masa depan Nusantara. Dimana Joyoboyo meramal Nusantara dari masa runtuhnya Kerajaan Kediri hingga sekarang. Di antara ratusan itu, ada delapan ramalan yang relevan dengan peristiwa di Tanah Air saat ini.

“Kedelapan ramalan tersebut adalah Murcaning Noyogenggong Sabdopalon, Semut Ireng Anak-anak Sapi. Kebo Nyabrang Kali, Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol, Pitik Tarung Sak Kandang, Kodok Ijo Ongkang-ongkang. Tikus Pithi Anoto Baris dan Reinkarnasi Noyogenggong Sabdo Palon,” kata Ki Gendeng Pamungkas dalam pernyataannya, Jumat pagi (28/6/2019), di Malang, Jawa Timur.

Ia melanjutkan, ramalan yang menyebut ‘Pithik jago tarung sak kandang’ (Ayam jantan berkelahi satu kandang). Menurutnya, kalimat ini adalah isyarat dari ramalan sang pujangga waktu itu. agar masyarakat mewaspadai akan adanya ancaman disintegrasi atau perpecahan bangsa. Ia menyebutkan ramalan tersebut terbukti jika dihubungkan dengan terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30 S).

“Saat ini bukan lagi pertarungan antara pendukung 01 melawan pendukung 02. Namun saat ini adalah pertarungan antara nasionalis sejati dan melawan anti nasionalis. Sejarah selalu berulang,” ujar Ki Gendeng Pamungkas.

Yang dimaksud Presiden Front Pribumi sebagai anti nasionalis adalah sikap yang ditunjukkan oleh siapa pun mereka dengan ciri tidak mandiri sebagai bangsa yang merdeka.

“Lebih suka menjadi kuli bagi bangsa lain alias mau enaknya saja makan rente bank. Dengan bekerja dikit tapi untung besar alias mental calo,” katanya.

Ki Gendeng Pamungkas meramalkan akan terjadi kemarahan, perlawanan dan apatisme masyakarat yang meluas di seluruh tanah air. Mereka tidak percaya lagi pada lembaga hukum yang tujuan dasarnya adalah mencari keadilan. Sikap apatisme itu sulit dicari siapa yang mempeloporinya. Tidak ada provokator yang bisa dituduh sebagai penggerak. Inilah gaya perlawanan rakyat ke depan, setidaknya selama setahun ini. Ki Gendeng Pamungkas menjelaskan, mereka yang marah, berang dan apatis bukan hanya rakyat biasa tapi juga akan melingkupi pada para pegawai, tentara, dokter, guru dan Aparatur Sipil Negara lainnya.

“Mereka yang punya dana berlebih akan bergaya hidup sangat hedonistik, makan dan minum dalam kemewahan. Sedangkan yang hidup dalam kesulitan hanya melihat itu semua sebagai tontonan yang menyakitkan. Yang kaya tidak tahu apakah yang diperbuatnya salah atau tidak. Sedangkan yang kurang beruntung hanya memendam kekecewaan dan kemarahan melihat kondisi disparitas yang sangat lebar,” tegasnya.

Ki Gendeng Pamungkas juga menuturkan kondisi umat Islam Indonesia saat ini. Suka menutup masjid padahal ada yang ingin itikaf, ingin dhuha. Ingin masjid menjadi sentra pendidikan di luar rumah tangga, baik pra sekolah maupun selagi masa bersekolah. Masjid seakan milik pribadi dan mirip museum, dengan memberlakukan jam buka dan tutup.

Ia juga menyoroti saat ini umat Islam sulit dan atau tidak bisa bersatu. Terlihat sesama anggota kelompok komunitas bergesekan sehingga sibuk bersaing demi menonjolkan dan menolak apresiasi di antara sesama kawan. Mayoritas umat bhakil dalam berbagi, bersedekah dan berwakaf. Karena sebagian ada yang hanya ingin terlihat sebagai alim individu bukan alim sosial. Kealiman atau kesalehan diri lebih suka ditunjukkan dengan pergi haji berkali-kali ke Mekah padahal tetangga sekitar atau saudara ada yang harus diperhatikan.

“Umat Islam lebih toleran pada etnis pembohong bahkan bangga bila jadi babu mereka. Padahal kalau saja umat mengamalkan Sila ketiga dari Pancasila maka umat dari kaum pribumi akan jauh lebih maju dari Malaysia, Korsel, Jepang bahkan Cina sekalipun. Umat saat ini tidak belajar dari sejarah,” kata Ki Gendeng Pamungkas.

Menurut Presiden Front Pribumi, musuh bangsa ini sesungguhnya adalah pribumi para jongos cina.

“Sebentar lagi kira-kira setahun berjalan bangsa ini akan mendadak nasionalis. Mereka akan mencari pemimpin yang asli yang bisa membawa ke arah perubahan sesuai pancasila dan UUD 1945. Perlawanan rakyat sebentar lagi. Setahun berjalan, tidak lama lagi. Dan bangsa ini tengah mempersiapkan untuk mendadak kaget agar tidak terlihat dungu!” tutup Ki Gendeng Pamungkas. (AMN)

Loading...

Baca Juga