oleh

Tragedi Gaza dan Jeritan Kemanusiaan, Sebuah Opini Rati Suharjo

Tragedi Gaza dan Jeritan Kemanusiaan

Oleh: Rati Suharjo
Pegiat Literasi

Ledakan yang memekakkan telinga, tangisan anak-anak, serta jerit pilu para ibu kembali mewarnai kehidupan di Gaza. Serangan tanpa henti Israel terus menelan ribuan korban jiwa. Bahkan, jurnalis pun kini menjadi sasaran. Serangan udara Israel merenggut nyawa sejumlah jurnalis Palestina, termasuk lima reporter Al Jazeera (CNN Indonesia, 12/8/2025).

Peristiwa ini menambah deretan panjang daftar korban di kalangan media. Kecaman pun berdatangan dari PBB, lembaga internasional, hingga organisasi nasional. Serangan terhadap jurnalis bukan hanya pelanggaran hukum internasional, melainkan juga strategi sistematis untuk membungkam kebenaran.

Di sisi lain, UNRWA (United Nations Relief and Works Agency) melaporkan, lebih dari satu juta perempuan dan anak-anak di Gaza terancam kelaparan massal, kekerasan, dan pelecehan akibat blokade Israel (Antaranews, 17/8/2025). Blokade ketat membuat bantuan kemanusiaan sulit masuk. Warga Gaza pun nekat mempertaruhkan nyawa demi sepotong roti dan seteguk air. Ratusan orang, termasuk anak-anak, tewas akibat kelaparan. Sementara itu, total korban jiwa akibat agresi Israel sejak Oktober 2023 telah melampaui 61 ribu orang.

Membungkam Pena, Memadamkan Kebenaran

Pembunuhan jurnalis di Gaza adalah tindakan terencana untuk membungkam akses media dunia. Dunia dijauhkan dari fakta memilukan agar genosida yang berlangsung terkubur dalam diam. Nyawa para jurnalis direnggut bukan karena bersalah, melainkan karena keberanian mereka menyingkap kebiadaban Zionis. Setiap peluru yang diarahkan pada jurnalis sejatinya adalah peluru untuk membungkam kebenaran. Israel sadar, pena lebih berbahaya dari senjata, sebab ia mampu mengguncang opini dunia dan membuka wajah asli penjajah.

Fakta menunjukkan, Israel bukanlah satria, melainkan pengecut yang berlindung di balik senjata untuk membantai anak-anak, perempuan, dan jurnalis bersenjata pena serta kamera. Mereka mengebom rumah sakit, menghancurkan sekolah, meratakan masjid, serta memutus aliran listrik dan air demi melumpuhkan kehidupan. Semua kebiadaban ini dilakukan tanpa rasa takut pada hukum internasional, tanpa kemanusiaan, dan tanpa nurani. Dunia melihat dengan mata terbuka, namun tetap membiarkan Israel bebas menumpahkan darah seolah nyawa umat Islam tak bernilai.

Solusi Nyata, Bukan Sekadar Kecaman

Kebrutalan ini jelas tidak bisa dijawab dengan belasungkawa atau kecaman kosong. Sejak Oktober 2023, lebih dari 40 ribu jiwa telah syahid—mayoritas perempuan dan anak-anak. Kini, satu juta perempuan dan anak-anak menghadapi kelaparan massal, sementara rumah sakit lumpuh akibat blokade bahan bakar dan obat-obatan.

Solusi tidak terletak pada diplomasi rapuh atau resolusi PBB yang diabaikan Israel. Satu-satunya jalan adalah pembebasan total dari penjajahan. Sayangnya, para penguasa negeri Muslim memilih diam. Mereka sibuk dengan kursi kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Mereka enggan mengirimkan pasukan atau menggerakkan kekuatan militer umat Islam, karena hati mereka telah dipenuhi racun nasionalisme sempit dan cinta dunia.

Khilafah: Jalan Satu-Satunya

Darah anak-anak Gaza terus mengalir, jeritan para ibu tak pernah berhenti, dan bumi Palestina kian terampas. Dunia membutuhkan aksi nyata, bukan kecaman hampa. Jihad dan Khilafah adalah solusi tunggal untuk menghentikan genosida rakyat Gaza. Umat Islam tidak boleh lagi berdiam diri dengan doa tanpa tindakan. Sejarah membuktikan, kehormatan umat hanya bisa terjaga dengan persatuan di bawah satu kepemimpinan yang menegakkan jihad fi sabilillah.

Namun, jihad dan Khilafah tidak akan lahir dari sistem busuk demokrasi atau kerajaan yang hanya melanggengkan kekuasaan elit. Selama umat masih terkungkung aturan buatan manusia, jangan harap kebangkitan Islam akan terwujud. Jihad dan Khilafah hanya bisa tegak dalam negara yang menegakkan Islam kaffah di bawah naungan Daulah Islamiyah dengan panji Rasulullah ﷺ. Dengan itu, kehormatan umat akan kembali, penjajahan runtuh, dan darah Muslim tidak lagi murah ditumpahkan musuh-musuh Allah.

Urgensi Menegakkan Daulah Islamiyah

Karena itu, penegakan Daulah Islamiyah adalah kebutuhan mendesak. Allah Swt telah memperingatkan manusia agar meninggalkan aturan lahir dari hawa nafsu, bukan dari wahyu-Nya.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Maidah: 49:

“Hendaklah engkau (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka.”

Ayat ini bukan sekadar bacaan, melainkan seruan tegas agar syariat Allah ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupan—politik, hukum, ekonomi, hingga sosial. Tanpa Daulah Islamiyah, syariat hanya tinggal wacana, sementara umat terus menderita di bawah hukum buatan manusia.

Maka, meninggalkan hukum Allah adalah sumber kehinaan, sedangkan menegakkan Daulah Islamiyah adalah jalan menuju kemuliaan, persatuan, dan kemenangan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Loading...