oleh

Ketika Harga Melangit, Opini Lulu Nugroho Muslimah Revowriter Cirebon

Ketika Harga Melangit

Oleh : Lulu Nugroho (Muslimah Revowriter Cirebon)

Corona membawa petaka berkepanjangan. Beberapa wilayah di tanah air termasuk Kabupaten Cirebon darurat masker dan sanitizer, keberadaannya sulit ditemukan. Di tengah kondisi wabah, ada saja ulah para spekulan mengais rezeki di atas penderitaan masyarakat.

Tanpa rasa peduli terhadap sesama, oknum jahil malah mengambil untung. Berbagai barang kebutuhan masyarakat yang banyak dicari, nyaris susah dijumpai di pasaran akibat ditimbun. Hingga akhirnya, harganya pun melambung tinggi.

“Pemkab dan pihak berwajib harusnya turun tangan. Cek lapangan, sidak pasar dan tindak pelaku penimbun serta penjual masker dan sanitizer yang melambungkan harganya,” ujar Ujar AB, seorang guru di sebuah MAN di Kabupaten Cirebon.

Dia mengatakan bahwa saat ini warga Kabupaten Cirebon sangat kesulitan untuk mendapatkan masker dan sanitizer, yang merupakan salah satu antisipasi mencegah penyebaran virus corona. Kalau pun ada, harganya dirasa selangit. Yang tadinya sanitizer Rp35 ribu, sekarang jadi Rp300 ribu. (Jabarpublisher.com, 20/3/2020).
⁣⁣⁣⁣⁣
عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم. قَالَ: لاَ يَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِئٌ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dari Ma’mar bin Abdullah; Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan melainkan dia adalah pendosa.” (H.r. Muslim, no. 1605)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Imam An Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan menimbun barang dalam hadis di atas bukanlah berarti menimbun secara umum. Akan tetapi membeli barang dengan jumlah besar dan menyimpannya dalam keadaan tertentu, agar harga barang tersebut melambung tinggi karena langka.⁣
⁣⁣⁣

Jika seseorang menimbun berbagai barang kebutuhan di saat seperti ini, yaitu pada situamenyebarnya virus Covid-19, maka ia akan dipaksa mengeluarkan dan menjual barang yang ditimbunnya dengan harga terjangkau. Islam melarang seseorang melakukan penimbunan terhadap barang yang menjadi hajat orang banyak.
Baca Juga :  Demo Kepala BIN, Mahasiswa Dipukuli Orang Tak Dikenal
Menimbun atau ihtikar, yakni tindakan menyimpan harta, manfaat, atau jasa dan enggan menjual dan memberikannya kepada orang lain. Hal tersebut mengakibatkan harga melangit, pasar secara drastis karena persediaan terbatas atau stok barang hilang sama sekali dari pasar. Padahal masyarakat sangat membutuhkannya.

Perbuatan tersebut adalah bentuk kezaliman dan bertentangan dengan maqashid syariah dalam perdagangan karena tindakan menimbun akan menyusahkan orang banyak. Penimbunan masuk dalam kategori kejahatan ekonomi dan sosial. Ibnu Hajar al-Haitsami, seorang ulama, menganggapnya sebagai pelaku dosa besar.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan menimbun barang kecuali dia seorang pendosa.” (HR Muslim).

Dalam Ekonomi Islam, usaha seseorang dan kepemilikan pribadi, mendapat perlindungan. Akan tetapi Islam juga memberikan hak kepada pemerintah untuk merampas atau memaksa pelaku penimbunan agar menjual barang yang ditimbunnya dengan harga pasar. Atau bisa jadi akan dikenakan sanksi, tatkala pelaku menolaknya.

Baca Juga :  Pergi Tanpa Pesan. Opini Lulu Nugroho

Jika rambu-rambu kehidupan jelas dan tegas, maka hak-hak umat akan terpelihara. Manusia akan terhindar dari akhlak yang rendah, tamak dan tidak memiliki empati terhadap sesama. Kemaslahatan umat akan tercapai saat hukum Islam ditegakkan. Karenanya, kembali kepada aturan Allah agar tercipta rahmat bagi semesta alam.

Loading...

Baca Juga