Harga Listrik Meroket, Anak Sultan Pun Protes, Apa Kabar Rakyat Jelata? Oleh: Habibah Nafaizh Athaya, Pemerhati Sosial.
|Mohon maaf sebelumnya, penggunaan kata Jelata hanya sebagai kiasan semata|
Baru-baru ini, jagad media dicengangkan dengan fenomena “kaget jamaah” para artis indonesia, yang terkategori anak sultan!
Artis Nikita Mirzani misalnya, mengunggah postingan yang berisi ‘omelan’ kepada PLN di Instagram. Dalam unggahan tersebut, Niki protes karena tagihan listriknya melonjak dari rata-rata Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan menjadi Rp26 juta per bulan.
Hal serupa di ungkapkan oleh Anak Sultan lainnya, yakni Artis sekaligus youtuber kaya raya, pasangan Nagita dan Raffi.
Sekelas sultanpun seperti mereka berdecak tak percaya, why?? Tidak ada pemberitahuan pasti dari pihak PLN tiba-tiba saja membuat kantong dan dompet kaget bukan kepalang. Lantas apa kabar bagi kami yang berstatus jelata??
Bukan hanya itu, puluhan postingan di dunia maya baik tweeter maupun fb berselewaran keluhan akan pembayaran yang membuat mereka pusing bukan main.
Saat kondisi dimana keuangan menipis karena PHK, usaha gulung tikar, potongan gaji dan sebagainya. Bukannya mengurangi beban ini malah menambah cekikan.
Baru saja pemerintah mendapat muka oleh rakyatnya karena gratis listrik 3 bulan yang diberlakukan, kini rakyatnya meronta-ronta karena cekikan biaya yang melambung tinggi tak kenal arah. Parah!!!
Akar masalah ini tak lain adalah swatanisasi terhadap sesuatu yang menyangkut hajat orang banyak. Seyogyanya ini di jadikan kekayaan Negara untuk disalurkan merata pada rakyatnya.
Begitulah pengaturan yang seharusnya sebagaimana aturan dari sang pencipta. Nyatanya, kapitalisme berbeda. Kehadirannya menjadikan semua yang tidak seharusnya menjadi nescaya..
Tapi bodohnya, atas nama cinta Indonesia, islam kaffah yang ditawarkan oleh sekelompok manusia hanif pun ditolak mentah-mentah.
Berulang kali telah tertuang dalam tulisan, bahwa masalah yang mencekik ini adalah masalah yang harus di entaskan dari akar. Bahwa masalah-masalah yang menimpa manusia dimanapun berada, baik sosial, budaya hingga ekonomi seperti hari ini bersumber pada sistem dan aturan dari manusia, yang sejatinya tak luput dari salah, dan celah.
firman Allah
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah mereka mau mencari hukum Jahiliyah. Siapa yang lebih baik hukumya bagi orang yang yakin? (QS. al-Maidah;: 50)
Orang-orang sekularis dengan congkak memamerkan hukum mereka, tidak peduli lagi nasib rakyat yang membayar pajak untuk mengisi dompet-dompet mereka. Mereka hanya memeras, menghisap darah rakyat hingga benar-benar kering tiada sisa. Lantas sampai kapan??
Dalam Islam, listrik merupakan kepemilikan umum yang wajib dikuasai dan dikelola oleh negara untuk kepentingan seluruh rakyat. Karena, Listrik merupakan kebutuhan pokok rakyat dan merupakan bentuk pelayanan masyarakat yang wajib dilakukan negara.
Oleh karena itu, negara tidak boleh menyerahkan penguasaan dan pengelolaan listrik kepada swasta sebagaimana mana negara juga tidak boleh menyerahkan penguasaan dan pengelolaan bahan baku pembangkit listrik kepada swasta. Hal ini karena listrik dan barang tambang yang jumlahnya sangat besar adalah milik umum yang tidak boleh dikuasai oleh swasta dan individu.
Berkaitan dengan ini Rasulullah saw bersabda:
“Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api.”
(HR. Abu Daud).
Termasuk dalam api disini adalah energi berupa listrik. Yang juga termasuk kepemilikan umum adalah barang tambang yang jumlahmya sangat besar.
Segalanya takkan kembali berarti ketika islam masih sekedar agama ritual semata
Semuanya takkan menjadi lebih baik jika islam kaffah belum terterapkan
Allahu alam






