oleh

Butuh Langkah Baru Atasi Dampak Perang Dagang AS Dengan Cina

SUARAMERDEKA.ID – Indonesia harus mengambil langkah baru untuk mengantisipasi dampak perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Cina. Imbas dari perang dagang ini adalah ketidakpastian global yang tereskalasi akibat potensi rusaknya sistem dan mekanisme perdagangan dunia.

Dalam pernyataannya, Minggu (9/6/2010), Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan, diperlukan insiatif baru atau kebijakan antisipatif agar dampak perang dagang itu tidak menimbulkan kerusakan serius di dalam negeri. Karena itu, Bamsoet meminta agar pemerintah dan DPR tidak boleh pasif menyikapi hal ini.

“Sebab, bisa dipastikan bahwa kinerja ekspor akan melemah. Sehingga defisit neraca perdagangan bisa berkepanjangan. Laju ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak sawit mentah atau CPO (crude palm oil) dan karet, tidak akan mulus lagi,” jelas Bamsoet.

Baca Juga :  Bamsoet: Jadikan Idul Fitri Sebagai Momen Perbaiki Diri dan Bangsa
Sementara itu menurutnya, ada potensi pasar Indonesia yang besar akan dibanjiri produk impor. Salah satunya adalah produk baja dari Cina. Dampak perang dagang lainnya adalah meningkatnya permintaan valuta asing akibat tingginya volume impor. Tingginya permintaan valuta asing berpotensi menurunkan nilai mata uang rupiah.

“Berbagai kemungkinan buruk itu harus diantisipasi. Pemerintah dan DPR harus bersiasat, agar ketidakpastian global itu tidak menimbulkan kerusakan serius. Untuk itu, negara harus kondusif,” tegas Bamsoet.

Lanjutnya, saat ini Indonesia masih memiliki modal dasar yang cukup potensial untuk menghadapi carut marut perdagangan global itu. Bamsoet meyakini, bahwa kondisi Indonesia saat ini masih sangat potensial menarik investasi asing. Pembangunan infrastruktur yang merata di semua daerah juga dapat merangsang investor lokal untuk berbisnis.

Baca Juga :  Ijtihad Nasonal Pemuda Islam: Diawali di Ciamis, Diakhiri di Ciamis

Motor pertumbuhan lainnya adalah konsumsi masyarakat yang akan diupayakan tetap tinggi oleh pemerintah. Semua itu masih ditambah lagi dengan naiknya tingkat keyakinan komunitas pebisnis mancanegara, sebagaimana tercermin dari pernyataan tiga lembaga pemeringkat internasional, yakni Standard and Poor’s atau S&P Global Rating, Fitch Ratings dan Moody’s.

“Modal dasar itu bisa dieksploitasi untuk mempertebal daya tahan ekonomi nasional. Syarat utamanya adalah terjaganya stabilitas keamanan nasional, ketertiban umum dan terjaganya stabilitas politik,” tutup Bamsoet. (OSY) 

Loading...

Baca Juga