oleh

Ajaran Agama Untuk Melawan Kedzaliman. Opini Malika Dwi Ana

Ajaran Agama Untuk Melawan Kedzaliman. Oleh: Malika Dwi AnaPengamat Sosial Politik.

Seperti yang ‘disabdakan’ Che Guevara: “Pemberontakan terhadap penguasa yang dzalim adalah bentuk kepatuhan tertinggi kepada Tuhan.”

Maka dalam pandangan ini, agama seharusnya tidak membuat seseorang menjadi adem, tidak agresif, apalagi semriwing tenang-tenang saja melihat ketidakadilan dan kedzaliman yang sehari-hari terpampang nyata ini.

Agama seharusnya membakar ‘amarah’, ketika menampak ketidakadilan dan penindasan terhadap kemanusiaan. ALL PROPHET ARE REBELS, karena semua nabi itu pemberontak dan revolusioneris, mereka memberontaki rezim yang dzalim dijamannya. Sebutlah diantaranya Ibrahim AS, Nuh AS, Yusuf AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW. Para nabi dan rasul itu revolusioner dimasanya.

Dahulu, Islam adalah ideologi revolusi Nabi Muhammad SAW melawan kesewenangan oligarki Quraish, tetapi ketika menyangkut pribadi yang diolok-olok, Nabi mengamalkan ayat-ayat tentang kesabaran, tidak membalas olok-olok atau caci-makian orang-orang Quraisy. Nah sekarang terbalik. Agama dan spiritualitas sekarang dijadikan candu penenang. Supaya penganutnya tidak lagi beringas ketika melihat orang lain diperlakukan tidak adil.

Ajaran yang paling menenangkan dan membuat kecanduan adalah tentang nasib atau takdir; bahwa semua sudah ada yang ngatur! Semuanya masing-masing dengan peran yang sudah disandangkan oleh Tuhan. Kadang dengan peran jahat antagonismenya, atau dengan peran protagonis bak malaikat. Ada yang demikian culasnya pada rakyat, konon katanya juga peran, termasuk peran sebagai pembohong dan pembual besar. Yang puncaknya pada perhelatan pemilu lima tahun sekali, rakyat dibohongi. Dan kita yang menonton, disuruh berlaku baik-baik saja, seolah menonton sinetron yang serialnya tak berujung; “Sengsara Membawa Nikmat”. Ya itu, potret Stockholm Sindrom… sindrom jatuh cinta pada pemerkosanya, perampoknya atau penjajahnya.

Sampai disini ya selesai, yowes… jika sudah sampai pada pandangan ini ya the end alias cuthel, tamat. Akhirnya tak ada oposisi dalam suatu pemerintahan, tak ada pengkritisi kebijakan, tak ada yang nggambleh, nyinyir-menyinyir perilaku pejabat publik maupun pelanggaran aturan. Lalu, apa bedanya kita dengan anu yang kuning-kuning, kempul-kempul hanyut di sungai itu. Yang gak punya hati dan pikiran? Yang melu ajah opo jare…

Loading...

Baca Juga