SUARAMERDEKA.ID — Ribuan warga memadati kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan A. Yani, Banyuwangi, Minggu (8/2/2026) pagi, di hadiri ribuan warga. Ada warga masyarakat yang berolahraga, ada yang bersama keluarga melihat dan berbelanja pada deretan UMKM kuliner, serta banyak perhatian publik tertuju pada satu stan yang berbeda yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Khusus Kabupaten Banyuwangi yang memperingati anniversary sekaligus menggelar edukasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Momentum ini bukan sekadar seremoni. SPPG Khusus Banyuwangi menegaskan posisinya sebagai SPPG pertama dari 100 SPPG se-Indonesia yang dibangun langsung oleh Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari pembangunan gedung hingga kelengkapan peralatan dapur. Berlokasi di Kecamatan Rogojampi, SPPG ini menjadi model percontohan nasional dalam implementasi program MBG.
SPPG merupakan unit operasional di bawah Badan Gizi Nasional yang bertugas menyiapkan, mengolah, dan mendistribusikan makanan bergizi gratis bagi anak sekolah serta kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Selain mendukung pemenuhan gizi, program ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui pelibatan bahan pangan setempat.
Kepala SPPG Khusus Kabupaten Banyuwangi, Tiara Chandra, menjelaskan bahwa kegiatan di CFD dirancang sebagai ruang terbuka edukasi sekaligus refleksi perjalanan program.
“Kegiatan ini menjadi momentum anniversary sekaligus sarana pengenalan program MBG kepada masyarakat. Kami ingin publik melihat langsung seperti apa menu yang setiap hari didistribusikan kepada anak-anak.” terang Tiara.
Lanjut Tiara, dalam pameran tersebut, SPPG menampilkan menu lengkap yang biasa diterima siswa, terdiri dari satu buah, protein hewani, protein nabati, sayuran, serta sumber karbohidrat dengan komposisi gizi terukur. Masyarakat bahkan diberi kesempatan mencicipi langsung hidangan tersebut.
“Yang terpenting bukan banyak atau sedikitnya makanan, tetapi kecukupan dan keseimbangan gizinya. Semua sudah dihitung berdasarkan standar kebutuhan anak sesuai usia.” terang Tiara lagi.
Tiara mengakui bahwa pada masa awal distribusi dengan kapasitas sekitar 3.000 porsi per hari, masih ditemukan beberapa kendala teknis, seperti tekstur nasi maupun cita rasa. Namun evaluasi rutin dilakukan, khususnya pada satu hingga dua bulan pertama pelaksanaan.
Penentuan menu dilakukan oleh ahli gizi yang berkolaborasi dengan akuntan, kemudian disetujui Kepala SPPG. Evaluasi turut mempertimbangkan respons anak-anak. Jika suatu menu kurang diminati, dilakukan inovasi melalui variasi olahan, seperti nasi kuning, nasi goreng, variasi telur, hingga pengolahan sayur yang lebih menarik secara tampilan.

Terkait isu keracunan atau penolakan menu yang sempat viral di media sosial, Tiara meminta masyarakat tidak serta-merta menggeneralisasi persoalan sebagai kesalahan Badan Gizi Nasional secara menyeluruh.
“Jika ada temuan di lapangan, sebaiknya dikomunikasikan langsung kepada SPPG yang bersangkutan. Bisa jadi itu kendala teknis atau oknum. Yang jelas, setiap laporan akan kami tindak lanjuti.” tambahnya.
Setiap SPPG kini memiliki media sosial resmi serta membuka formulir evaluasi bagi sekolah dan penerima manfaat sebagai bagian dari komitmen transparansi dan perbaikan berkelanjutan.
Kepala SPPG Benelan Lor Kecamatan Kabat, Fani Zafran, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan pentingnya sinergi antar-SPPG dalam menjaga standar layanan.
“Anniversary ini bukan hanya milik SPPG Khusus, tetapi menjadi refleksi bersama bagi seluruh pengelola SPPG di Banyuwangi. Kami terus berkoordinasi agar standar dapur, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi benar-benar sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional.” urainya.
Fani juga menekankan, bahwa pendekatan edukatif kepada masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program.
“Ketika masyarakat paham bahwa yang dibagikan adalah makanan dengan komposisi gizi terukur, bukan sekadar nasi dan lauk, maka kepercayaan akan tumbuh. Program ini bukan hanya memberi makan, tetapi investasi jangka panjang untuk kualitas generasi.” tambahnya.
Dalam anniversary tersebut juga ditegaskan perbedaan antara SPPG Khusus dan SPPG Mitra. SPPG Khusus dibangun langsung oleh BGN dengan standar fasilitas tertentu dan jumlahnya masih terbatas secara nasional. Sementara SPPG Mitra dikelola oleh pihak perorangan atau mitra, namun tetap wajib memenuhi standar layout dapur, sistem penyimpanan, pengolahan, serta distribusi yang telah ditetapkan.
Menariknya, warga yang mengunjungi stan SPPG tidak hanya mendapatkan informasi program, tetapi juga layanan konsultasi gizi, cek kesehatan gratis, hingga souvenir berupa mug bertema “Makan Bergizi Gratis” dari SPPG Khusus Kabupaten Banyuwangi.
Sejumlah penerima manfaat yang hadir turut memberikan testimoni bahwa menu yang diterima sesuai dengan yang dipamerkan, rasanya enak, tampilannya baik, dan gizinya mencukupi.
Antusiasme warga menunjukkan, bahwa pendekatan langsung kepada masyarakat menjadi strategi efektif dalam membangun kepercayaan terhadap program MBG.
Melalui anniversary ini, SPPG Khusus Kabupaten Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi, membuka ruang kritik, serta memastikan distribusi makanan bergizi berjalan sesuai standar. Sejalan dengan slogan yang diusung “Makan Bergizi Adalah Hak Anak Indonesia”. (BUT).






