oleh

Covid-19 Menyingkap Topeng Musuh Islam Abad ke- 19. Opini Aprilina

Covid-19 Menyingkap Topeng Musuh Islam Abad ke- 19. Oleh: Aprilina, SE. I, Aktivis Muslimah Peduli Umat (AMPU).

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia (setan itu) musuh yang nyata bagimu.” (TQS Al-Baqarah: 208)

Dalam ayat ini Allah SWT menyuruh hambaNya yang beriman supaya melaksanakan semua tuntunan syari’at Islam dan meninggalkan larangan-Nya. Ikrimah mengatakan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan sebagian orang Yahudi yang telah masuk Islam dan ingin mengerjakan sebagian dari syari’at Taurat yang biasa mereka lakukan, seperti i’tikaf dihari Sabtu. Maka Allah menyuruh supaya melaksanakan semua syari’at Islam dan jangan menghiraukan yang lainnya. (Terjemah singkat Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1). Kemudian mengingatkan bahwa setan adalah musuh yang nyata maka berupayalah untuk menghindari / tidak mengikuti bisikannya yang menyeru kepada kejahatan, perbuatan keji dan kemungkaran. Dari pemaparan di atas kita melihat realita hari ini bahwa setan sangat banyak dalam aneka rupa. Dalam bentuk kesenangan / permainan, peraturan, nasihat,dll. Bagaikan racun berbalut madu.

Tampaknya manis seperti obat yang dapat menyembuhkan, namun sesungguhnya mematikan dan mencelakakan orang yang mengambilnya. Setan bisa merasuki pikiran siapa saja seperti penguasa, artis, cerdik pandai(cendekiawan) bahkan ulama. 5 bulan sudah negeri ini kedatangan tamu yang bernama covid-19. Aneka resep dan ramuan serta jurus telah dicoba untuk mengusirnya namun sampai hari ini belum juga berhasil. Mulai dari resep, ramuan dan jurus yang masuk akal keluar dari lisan para ahli virus sampai jurus yang dikeluarkan oleh penguasa sama sekali tak ada tanda-tanda sang tamu akan pergi. Justru yang terjadi dampak dari kedatangannya membuat mata terbelalak dan hati bergetar. Terbelalak karena terkejut, tak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti yang terjadi hari ini dan hati bergetar karena takut dengan peringatan Sang Pencipta covid-19. Virus yang tak kasat mata berukuran sangat kecil mampu menghantarkan peradaban dan kekuasaan adidaya dunia hari ini pada jurang kehancurannya.

Diantara dampak kehadiran covid-19 yaitu anjloknya pertumbuhan ekonomi dunia secara merata. Krisis multidimensi, mulai dari krisis kepercayaan hingga krisis moral. Namun dampak ini tidak menyurutkan langkah orang-orang yang telah dirasuki pemikiran iblis untuk menjerumuskan umat Islam semakin dalam ke jurang kehinaan. Ada pihak-pihak yang berupaya untuk menghalangi kebangkitan Islam dengan cara menutup-nutupi sejarah. Mengubah fakta sejarah dan yang lebih parah adalah memperkosa ajaran Islam.

Sadar atau tidak, bahwa apa yang mereka lakukan adalah mengubah ayat-ayat Allah SWT. Yang paling menyedihkan adalah mereka dari kalangan umat Islam sendiri. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyebutkan dalam kitab Pembentukan Partai politik Islam bahwa perbedaan tsaqofah ( ilmu yang dipengaruhi oleh ideologi) ditengah-tengah masyarakat merupakan salah satu kesulitan yang dihadapi dalam kebangkitan Islam. Tsaqofah asing (yang bertentangan dengan Islam) menjadi pendapat umum dalam masyarakat dan kurikulum pendidikan di sekolah. Maka akan terjadi benturan-benturan pemikiran antara anak-anak umat Islam sendiri.

Para pengemban tsaqofah asing dan penjaganya merupakan musuh Islam yang sebenarnya. Tsaqofah asing yang menjadi pendapat umum hari ini adalah kapitalisme-sekuler. Pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan.

Lihat saja fenomena besar yang baru saja terjadi. Yaitu pengembalian Hagia Sophia menjadi masjid yang sebelumnya dijadikan museum oleh Mustafa Kamal. Seorang keturunan Yahudi yang dianggap sebagai bapak pembebas Turki. Ini merupakan pemutarbalikan sejarah dan pembohongan sejarah. Turki merupakan pusat Daulah Khilafah Islam setelah ditaklukkan oleh pasukan pimpinan Sultan Mehmed II yang digelari Al Fatih. Bangunan Hagia Sophia yang sebelumnya adalah gereja Kristen ortodoks dibeli dengan uang pribadi Sultan. Kemudian dijadikan masjid dan diwakafkan untuk umat Islam. Maka Hagia Sophia menjadi milik kaum muslimin sedunia sebagaimana Ka’bah, Palestina dan masjid Al Aqsha serta bangunan bersejarah lainnya yang dikuasai melalui penaklukan (futuhat) oleh pasukan muslim ketika ada Khilafah.

Bagaimana bisa orang-orang kafir itu mengecam pembukaan Hagia Sophia kembali menjadi masjid dan mengatakan penguasa Turki telah melanggar konsesi Internasional? Justru yang telah merampas Hagia Sophia dari kekhilafahan dan kaum muslimin adalah Mustafa Kamal la’natullah ‘alaihi. Orang yang telah meruntuhkan khilafah dan mengubah aturan-aturan Islam dengan nasionalisme pada tahun 1924.

Selama ini kaum muslimin terlena, bahkan tenggelam dengan ide-ide kapitalisme-sekuler, yaitu demokrasi, nasionalisme, pragmatisme dan modernisme. Hari ini, ditengah kehadiran Corona, penguasa Turki, Erdogan mengeluarkan dekrit yang mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid. Shalat pertama kali dilaksanakan pada Jum’at, 24 Juli 2020 menjadi catatan sejarah bagi kaum muslimin yang mengingatkan mereka kembali dengan kekuasaan Khilafah Turki Utsmani.

Maka sesuatu yang wajar apabila setelah peristiwa ini ada seruan mengembalikan kekhilafan. Namun yang tidak wajar adalah jawaban dari penguasa Turki yang menolak seruan tersebut. Ini membuktikan bahwa ide sekuler masih meracuni pikirannya. Memisahkan agama dari kehidupan. Aturan-aturan Islam dianggap hanya sebatas ibadah yang berlaku di masjid saja.

Diluar itu yang digunakan adalah peraturan buatan manusia. Sungguh menyedihkan. Bukankah Allah telah berfirman: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barangsiapa tetap kafir setelah (janji) itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” ( TQS. An-Nur:55).

Juga kabar gembira dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab sahihnya bahwa Rasulullah Saw bersabda: ” Berlangsung ditengah-tengah kalian masa kenabian selama Allah menghendakinya, kemudian mengangkatnya jika Ia berkehendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung kekhilafahan atas manhaj kenabian selama Ia menghendakinya, kemudian mengangkatnya jika Ia berkehendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang menggigit selama Ia menghendakinya, kemudian mengangkatnya jika Ia berkehendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang otoriter selama Ia berkehendak, kemudian Ia mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung kembali khilafah atas manhaj kenabian,” kemudian beliau diam.

Maka, kembalinya kekhilafahan atas manhaj kenabian merupakan kepastian dan sebuah keniscayaan. Sebagaimana terbebasnya Konstantinopel dari kekuasaan Bizantium pada tahun 1453 oleh pasukan terbaik yang dipimpin oleh pemimpin terbaik pada masanya, yaitu Sultan Mehmed II. Akankah kekhilafahan atas manhaj kenabian yang akan hadir untuk menerapkan Islam secara keseluruhan tegak di Turki? Mungkinkah Corona menjadi malaikat maut bagi kapitalisme-sekuler hari ini?

Wallahu a’lam.

Loading...

Baca Juga