oleh

Erick Thohir Sebaiknya Mundur, Jangan Menyandera Presiden

Erick Thohir Sebaiknya Mundur, Jangan Menyandera Presiden. Oleh: Pradipa Yoedhanegara, Pemerhati Sosial Politik.

Sebagai pesan pembuka, Kasus Korupsi asuransi Jiwasraya sepertinya makin hari makin meningkatkan eskalasi politik di negeri ini. Menggelinding bak bola salju. Menjadikannya sebagai komoditas politik karena banyak melibatkan orang dekat istana, yang kini menjabat sebagai pejabat publik. Untuk itu saya mencoba mengulas satu persatu kasus JiwaSraya yang melibatkan orang-orang dekat istana, sebagai hasil penelusuran investigasi yang saya lakukan. Satu persatu akan tersaji dalam setiap judul tulisan saya nanti.

Erick Thohir terbilang sukses sebagai Ketua Timses Pemenangan Jokowi dalam Kontestasi Pilpres 2019 kemarin. Dan sekaligus keberhasilannya dalam menjadi salah satu komponen kemenangan Jokowi-Ma’ruf dalam perhelatan tersebut. Berkat kegemilangannya tersebut, Erick Thohir berbuah hadiah dan kepercayaan dari Presiden Jokowi, yakni diangkatnya beliau pada posisi strategis sebagai Meneg BUMN. Yang pada awalnya jabatan tersebut tidak diinginkan Oleh Erick menurut beberapa sumber aktivis yang saya temui.

Namun rekam jejak Erick Thohir sebelumnya sebagai profesional murni dengan sederet pencapaian yang begitu moncer (pengusaha batubara, pengusaha media televisi, investor di club bola Inter Milan, Ketua Pelaksana Asian Games di Palembang dan Jakarta, serta seabreg jabatan prestisius lainnya), diharapkan bisa membawa angin segar dan perubahan iklim positif dalam mengkomandoi serta menahkodai Kementerian BUMN dan sejumlah perusahaan plat merah di negeri ini.

“Prestasi vs Frustrasi”

Hanya dalam hitungan detik saja, Erick Thohir berhasil menjalankan perannya sebagai Meneg BUMN. Saat itulah start buat dia untuk melakukan bersih-bersih terhadap semua entitas BUMN. Dan beberapa petinggi di BUMN yang tersapu, antara lain Dirut Garuda Indonesia. Sebelumnya, Erick mengangkat sejumlah pejabat untuk mengisi posisi strategis di PT. Pertamina, Bank Mandiri, dan Bank BTN. Decak kagum terhadap ketegasan Erick mengemuka, dan seolah hendak berkata bahwa tidak ada satu pun borok dan tindakan koruptif di dalam entitas-entitas BUMN yang tidak terendus oleh Erick. Seluruh perusahaan plat merah terdisiplinkan, dan perusahaan bumn yang bermasalah lansung terkena sanksi dari Erick Thohir.

Sampai, ketika Kasus Jiwasraya mengemuka. Pergerakan akseleratif Erick Thohir dalam melakukan bersih-bersih pun sepertinya mengalami perlambatan, atau bahkan berhenti secara tiba-tiba. Seperti ada kesan yang aneh, karena Erick lebih banyak berdiam diri.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena nama Erick Thohir pun ternyata masuk dalam pusaran skandal patgulipat penggorengan saham berbagai emiten yang dibeli oleh Asuransi Jiwasraya dalam konteks pembelian portofolio investasi.

Adalah Capitalinc Invesment tbk (MTFN) dimana dana asuransi Jiwasraya masuk didalamnya, merupakan bagian dari Grup milik Erick Tohir dan sang kakak GT melalui kepemilikan pada PT. Trinugraha Thohir Media Partner, dimana erick sebagai pemegang saham mayoritas disinyalir ikut terlibat dalam skandal goreng-menggoreng saham terkait asuransi jiwasraya persero melalui perusahaan tersebut.

Transaksi saham yang diduga milik Erick kepada Jiwasraya inilah yang kemungkinan besar menyandra Erick. Akibatnya, ketika Erick menjabat sebagai Meneg BUMN saat ini, antusiasmenya dalam menuntaskan kasus Jiwasraya ini tidak seagresif ketika dia membersihkan BUMN plat merah lainnya. Di sinilah, kegamangan Erick mengemuka!!.

Kegamangan Erick yang notabene adalah pembantu presiden, mau tidak mau akan mempengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Jokowi. Disatu sisi, ada indikasi bahwa terkesan di lingkar istana berupaya sekuat tenaga agar kasus Jiwasraya ini, hanya terkonsentrasi kepada lima orang tersangka. Yang saat ini sudah ditahan oleh Pihak Kejaksaan Agung RI.

Disisi lain, pihak Kejaksaan Agung RI akan terus melanjutkan pengembangan kasus Jiwasraya ini. Tujuannya, agar supremasi hukum bisa ditegakkan di negeri ini. Serta dapat mengembalikan kerugian negara yang benilai puluhan trilyun rupiah, yang di rampok secara massal oleh para pengusaha hitam. Yang berkongkalikong dengan para pejabat publik melalui goreng-menggoreng saham di pasar bursa.

Keterlibatan Erick Thohir dalam skandal Jiwasraya ini, belum terkait dengan atributnya sebagai ketua timses Jokowi dalam kontestasi Pilpres 2019. Itu sebabnya, tidak ada alasan bagi Presiden Jokowi untuk tidak melakukan bersih-bersih terhadap pejabat-pejabat sekeliling istana. Seperti yang dilakukan Erick dalam melakukan pembersihan terhadap oknum-oknum pejabat bumn yang bermasalah!!.

Untuk itu sebaiknya Presiden Jokowi tidak boleh terkesan berhutang budi, atau tersandera atas kemenangannya dalam kontestasi Pilpres kemarin. Karena kemenangan dalam pilpres tersebut merupakan kemenangan kolektif. Bukan semata karena faktor Erick, tapi lebih kepada banyak faktor lainnya.

Sebagai pesan penutup, sebaiknya Presiden Jokowi bersikap tegas dengan meminta Erick Thohir segera mundur dari kabinet atau memberhentikan Erick sebagai Meneg BUMN. Karena rentannya konflik kepentingan didalamnya. Sebagai akibat dari adanya dugaan keterlibatan perusahaan milik Erick dalam skandal goreng-menggoreng saham kasus Jiwasraya.

Loading...

Baca Juga