oleh

Gugatan Pra Peradilan Perkara Sri Mulyono Dinyatakan Inkrah

SUARAMERDEKA.ID – Gugatan pra peradilan perkara dengan pemohon Sri Mulyono dinyatakan berkekuatan hukum tetap (inkrah). Gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri Salatiga dengan registrasi No. 14/pid.pra/2020/PN Slt pada 18 Desember 2020.

Niyar SH PH selaku penasehat hukum Sri Mulyono menuturkan, pada sidang di PN Salatiga tanggal 21 Jnuari 2021, diputuskan bahwa gugatan pra peradilan kliennya dikabulkan oleh hakim. Berdasarkan surat yang diterimanya dari PN Salatiga tertanggal 17 Februari 2021, dituliskan bahwa putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap.

Ia menuturkan, pada sidang tersebut, amar putusannya adalah perintah penghentian sementara perkara pidana yang menjerat kliennya. Putusan tersebut berlaku hingga perkara perdata Sri Mulyono dinyatakan inkrah.

“Rangkaian penanganan penggugat melawan tergugat Giyanto sudah jelas dari awal. Begitu terbit SPDP men-tersangka-kan pasal 372-378. Namun klien saya melakukan upaya hukum mengajukan gugatan perdata. Ternyata dalam penanganan gugatan itu dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Salatiga. Diantaranya bahwa surat kesepakatan penggugat dan tergugat Giyanto secara hukum, sah,” kata Niyar, Jumat (26/2/2021).

Ia menegaskan, pihaknya sama sekali tidak menyalahkan polisi yang men-tersangka-kan Sri Mulyono, karena unsurnya sudah terpenuhi di awal. Namun begitu kliennya mengajukan gugatan perdata, maka menurut Niyar, prudensinya dengan sendirinya gugur. Dan memang, lanjutnya, setelah dilakukan persidangan, dinyatakan perkara itu perdata.

Ia mengingatkan, hal Ini dikuatkan lagi dengan putusan Pengadilan Tinggi perkara 35/Pdt.G/2021/PN.Slt sudah berkekuatan hukum tetap sejak 4/2/2021. Putusan di Pengadilan Tinggi Semarang menerima permohonan banding, menguatkan putusan Pengadilan Negeri Salatiga, menghukum pihak terbanding/tergugat Rp. 150.000,-.

“Dengan adanya inkrah, saya meyakini apa yang proses hukum terjadi penggugat melawan tergugat, sifatnya ke-perdata-an. Jadi untuk perkara yang lain konstruksinya sama diperlakukan  yusprudensi, penanganan hukumnya juga sama. Mereka yang merasa dirugikan, bisa mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Salatiga, masyarakat biar paham betul tentang penanganan perkaranya,” pungkas Niyar.

Gugatan Pra Peradilan Perkara Sri Mulyono Dinyatakan Inkrah
Surat Keterangan Berkekuatan Hukum Tetap dengan pemohon Sri Mulyono

Sementara itu penyidik Polres Salatiga yang bernama Agus saat dikonfirmasi suaramerdeka.id mengatakan, saat ini pihaknya berencana meminta ekspose gelar perkara dengan pihak Kejaksaan. Agus menjelaskan, adanya pra peradilan, pihak kepolisian saat ini pasif menunggu proses inkrah.

“Kita sudah konfirmasi dengan korban pihak daripada perdata, korban di tempat kita dan tersangka,” kata Agus.

Penyidik ini mengaku pihaknya sudah koordinasi dengan pihak Giyanto selaku korban. Saat ini Polres Salatiga sedang menunggu tembusan dari putusan inkrah. Jika tembusan tersebut sudah diterima, maka pihaknya akan mengajukan ekspose ke Kejaksaan.

“Meskipun sudah ada gugatan perdata, kita minta perkara ini di ekspose. Kalau sudah inkrah silahkan kita ditembusi untuk mengambil langkah. Putusan pra peradilan kemarin, kita tidak boleh melakukan proses peyidikan sementara. Kita sudah komunikasi dengan korban. Kita harapkan dari korban menembusi kita,” ucapnya.

Terkait perkembangan perkara yang menjerat Sri Mulyono, Kasipidum Kejari Salatiga Sutan Takdir SH saat dikonfirmasi melalui whatsapp menegaskan, pihak kejaksaan mengaku tidak ikut campur dalam perkara tersebut.

“Kelanjutannya saya tidak tahu, karena itu kan perdata bukan pidana. Jadi hukum perorangan masing pihak yang menentukan,” tuturnya, Jumat (26/2/2021).

Di lain sisi, Asri Purwanti SH selaku penasehat hukum Giyanto mengaku menghormati keputusan pengadilan terkait perkara perdata yang sudah dinyatakan inkrah. Namun ia mengingatkan, saat ini Sri Mulyono masih dalam status tersangka untuk perkara pidana.

“Saya akan minta perkara pidana yang sudah jelas Sri Mulyono jadi tersangka, kami minta segera ditindaklanjuti lagi. Karena untuk perdata sudah inkrah. Sedangkan perkara Mulyono jelas kental dengan adanya dugaan pasal penggelapan. Kemarin berhenti sebentar karena menunggu perdata inkrah dulu. Nah sekarang sudah inkrah, maka pidana harus segera jalan lagi,” kata Asri melalu pesan WA, Jumat (26/2/2021).

Ia mengaku akan segera mendatangi Kejaksaan Negeri Salatiga dan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Asri menduga ada oknum yang berusaha menghambat kliennya untuk mendapatkan keadilan.

“Kami akan datangi Kejaksaan Salatiga dan Kejati. Karena yang menghambat kasus kami ada dugaan dari kejaksaan bukan dari polisi. Maka dalam waktu dekat kami akan minta gelar dengan kejaksaan. Dan bila perlu Kejati,” pungkasnya. (SST)

Loading...

Baca Juga