oleh

Opini Rati Suharjo: Bullying Hingga Mati? Terlalu!

Bullying Hingga Mati? Terlalu!

Oleh: Rati Suharjo
(Pegiat Literasi AMK)

“Celakalah! Bagi setiap pengumpat lagi pencela.”(al-Humazah [104]:1)

Begitu jelas dalil tersebut akan ancaman Allah Swt. di akhirat kelak. Namun, sayangnya saat ini begitu banyak manusia yang berani melanggarnya. Tidak hanya masalah mengumpat dan mencela, perbuatan yang melebihi dari hal tersebut sudah banyak terjadi. Seperti membully atau perundungan.

Membully atau perundungan sejatinya adalah perbuatan tercela. Mendorong, memukul, mencubit, mengejek dan sejenisnya yang dilakukan secara terus menerus termasuk perundungan. Perbuatan ini sering dilakukan sendiri atau berkelompok untuk menjatuhkan temannya demi kekuasaannya.

Seperti yang terjadi baru-baru ini. Akibat dibully oleh temannya dengan cara pengeroyokan, seorang anak meninggal dunia. Mirisnya korban tersebut adalah anak kelas 2 SD yang dibully oleh kakak kelasnya. Tepatnya di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. (kompas.com, 20/5/2023)

Kasus bullying kerap terjadi. Menurut KPAI kasus bullying meningkat setiap tahunnya 30 sampai 60 kasus. KPAI juga mencatat bahwa pada tahun 2022 ada 226 kasus kekerasan fisik dan psikis, termasuk perundungan. (kompas.com, 24/7/2022)

Sungguh memprihatinkan bagi negeri ini. Jika tidak segera diatasi, maka akan membahayakan generasi mendatang. Pasalnya saat ini negeri yang mayoritas muslim ini sedang mendapatkan bonus demografi.

Setiap tahun tepatnya 4 Mei pemerintah pun tidak ketinggalan memperingati hari bullying tersebut. Tujuannya agar korban dapat bangkit kembali. Nyatanya justru semakin fatal. Korban bullying kian bertambah, bahkan hingga meninggal dan kebanyakan dari mereka justru melakukan bunuh diri. Dengan adanya fakta ini, maka solusi yang tepat harus segera dicari agar generasi terselamatkan.

Sayangnya sekularisme, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan menjadi biang tumbuh suburnya kasus ini. Pasalnya dari lingkup keluarga saja masalah begitu banyaknya, diantaranya terkait persoalan kesulitan ekonomi. Para orang tua sibuk untuk memenuhi kebutuhannya, sementara anak disibukkan ponsel dan kegiatan yang tidak bermanfaat lainnya. Mereka mengganggap dengan memenuhi keinginan anaknya adalah wujud dari kasih sayangnya.

Baca Juga :  Meong Tetap Meong, Tak Akan Menggonggong. Opini Tony Rosyid

Selain itu pendidikan sekolah saat ini tidak mendukung dalam pembentukan perilaku anak. Disebabkan kurikulum pendidikan bukan berbasis akidah Islam, tetapi berbasis sekularisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga pendidikan sekuler tidak mampu membentuk perilaku anak didik yang unggul dengan keilmuan dan berkepribadian Islam.

Wajar jika saat ini banyak pelajar yang terjebak dalam segala berbagai kriminalitas. Sebab menuntut ilmu yang mereka pahami di sekolah hanya untuk mencari ijazah semata. Berharap nilainya bagus, maka sudah tentu akan mendapatkan pekerjaan bagus dan mendapatkan gaji yang maksimal.

Inilah yang menjadi kebobrokan dari penerapan sistem kapitalisme, yang tidak melahirkan generasi faqih fiddin. Akan tetapi generasi yang paham untuk mencari materi semata.

Hal ini berbeda ketika Islam diterapkan dalam sebuah kehidupan. Berkaca dari sejarah, Islam telah berhasil mencetak generasi yang berkepribadian Islam  selama 1300 tahun. Tentu hal itu menjadi catatan penting buat kita. Mengapa bisa tercapai? Apa yang membuatnya sukses? Dalam Islam setiap kaum muslim wajib terikat pada hukum syara yakni wajib, sunah, mubah, makruh dan haram dalam kehidupan.

Dengan keterikatan tersebut setiap kaum muslim akan terjaga dari kemaksiatan dan berlomba-lomba amar makruf nahi mungkar di masyarakat. Dalam mencetak generasi ini, Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah madrasatul ula atau pendidikan pertama bagi anak. Orang tua akan mengajarkan anak terikat kepada hukum syara sebelum mereka baligh.

Selain di rumah, masyarakat dalam sistem Islam turut andil dalam pembentukan generasi. Mereka akan saling nasehat-menasehati dalam kebaikan. Semua ini dilakukan untuk mencetak generasi agar tidak terjebak dalam tindakan kriminalitas dan bullying pada temannya.

Baca Juga :  Menjawab Mahfud MD Soal Pancasila Tidak Ada Tafsir-nya

Dalam membentuk generasi yang unggul ini tidak cukup di rumah dan di masyarakat saja. Akan tetapi, sekolah juga ikut andil dalam memberikan pendidikan berbasis akidah Islam. Sebab, dengan berbasis Islam, maka akan lahir pola pikir dan pola sikap yang Islami. Mereka akan selalu taat kepada Allah Swt. di mana pun berada. Karena, mereka hanya takut akan siksa Allah Swt. di akhirat kelak.

Selain itu negara akan memberikan sanksi sesuai dengan perbuatan. Dalam hukum syariat Islam jika mereka membully sampai meninggal dunia, maka qishas wajib dijatuhkan, kecuali pihak korban memaafkan. Hal ini berlaku baik muslim maupun non muslim. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. semasa menjadi kepala negara di Madinah. Beliau memimpin negara yang masyarakat hidup di dalamnya terdiri dari Yahudi, Nasrani dan Islam.

Rasulullah saw. juga telah memberi hukuman kepada orang Yahudi yang telah melakukan zina. Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar ra berkata “Beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi saw. menghadapkan seorang pria dan seorang wanita mereka, yang keduanya telah berzina. Rasulullah saw. memerintahkan supaya keduanya dihukum rajam. (HR Bukhari)

Inilah penjelasan bahwa setiap warga negara memperoleh persamaan hak di depan hukum. Tidak pandang bulu apakah itu pejabat atau rakyat biasa, muslim maupun non muslim.

Pendidikan dan sanksi ini hanya akan terwujud jika negara menerapkan sistem Islam yang mengatur seluruh kehidupan. Bukan dengan sekularisme, yang aturannya buatan manusia berdasarkan hawa nafsu semata, bukan mencari rida Allah Swt.

Wallahua’lam bishshowwam.

Loading...