oleh

PKS: Sektor Migas Anjlok, Pemerintah Cuma Mengeluh Soal Mafia Migas

SUARAMERDEKA.ID – Wakil Ketua Fraksi PKS DPR-RI, Mulyanto menyebut pemerintah hanya bisa mengeluh atau berwacana soal mafia migas dibanding mencari cara untuk meningkatkan lifting migas dan membangun kilang-kilang domestik baru. Di era pemerintahan Jokowi, sejak tahun 2017 hingga akhir 2019, tercata perdagangan Indonesia di sektor migas kian anjlok.

Menurut lulusan S2 Tokyo Institute of Technology di bidang teknik nuklir ini, tahun 2017 angka lifting minyak Indonesia sebesar 804 ribu barel per hari. Di tahun 2018, angka ini melorot menjadi sebesar 778 ribu barel per hari. Angka ini kembali anjlok di tahun 2019 menjadi sebesar 741 ribu barel per hari.  Hal ini berimbas pada penerimaan dari sektor migas yang kian tahun kian menurun.

Dari defisit transaksi berjalan, selisih antara nilai ekspor dan impor, pada tahun 2018 mencapai minus 31.1 milyar USD. Pada tahun 2019 angka defisit transaksi juga relatif tidak jauh berubah.

“Dari nilai defisit ini kontribusi sektor migas mencapai sekitar 30 persen. Ini artinya perdagangan kita tekor terus, terutama sektor migas, khususnya impor minyak olahan,” kata Mulyanto, di Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Anggota komisi VII DPR RI ini menambahkan, terkait impor minyak olahan, defisit transaksi yang berjalan mencapai USD 16 miliar. Angka ini setara dengan Rp 230 triliun.

“Ini bukan angka yang kecil. Dan tentu akan sangat menguras devisa kita,” tegas Mulyanto.

Menghadapi kondisi ini, Mulyanto meminta agar pemerintah lebih serius dalam meningkatkan lifting migas. Segera membangun kilang-kilang domestik baru untuk pengolahan minyak di dalam negeri dalam rangka menyetop impor minyak olahan. Langkah ini dinilai Mulyanto jauh lebih nyata dibanding sekedar mengeluh atau berwacana soal mafia migas.

“Jangan sekedar mengeluh atau berwacana melulu soal mafia migas. Yang dibutuhkan adalah langkah konkret untuk memperbaiki tata kelola migas ini.  Kita masih memiliki potensi untuk itu,  Karenanya pemerintah harus all out,” ujar Rektor Universitas Mataram periode 1997- 2001.

Mulyanto menegaskan, berwacana dan mengeluhkan soal mafia migas tidak akan merubah kondisi. Ia mengingatkan bahwa pemerintah punya target meningkatkan lifting minyak hingga 1 juta barel perhari.

“Kalau pemerintah berwacana terus, sampai kapan kilang-kilang pengolahan minyak kita beroperasi serta lifting kita kembali meningkat. Minimal 1 juta barel per hari,” tutup Mulyanto. (OSY)

Loading...

Baca Juga