oleh

Politik Garam NU. Opini Tubagus Soleh

Politik Garam NU.

Ditulis oleh: Tubagus Soleh, Ketum DPP Ormas Kerabat dan Sahabat Kesultanan Banten (Babad Banten)

Nahdhatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah selalu menjadi garda terdepan dalam melindungi jama’ahnya. Jama’ah NU secara de fakto dan de jure merupakan Narga Negara Indonesia (WNI).

Bagi NU melindungi segenap jamaahnya secara subtansi melindungi segenap bangsa Indonesia. Pasalnya sederhana saja, NU sebagai Jam’iyah merupakan organisasi terbesar bahkan secara fikroh dan amaliyah menjadi pegangan bagi bangsa Indonesia baik yang muslim dan uniknya Non Muslim punya banyak yang mengaku jamaah NU.

Ungkapan Hadrotussyekh Prof Dr Kyai Haji Said Agil Sirodj ketum PB NU ketika menerima Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang beragama Kristen di Kantor PBNU menegaskan hal tersebut.

NU sangat terbuka, welas asih, dan pengayomi kepada siapapun tanpa pandang agama, status sosial, dan politik.

Siapapun boleh berNU baik sekedar untuk formalitas maupun memang serius ingin menjadi santri Mbah Hadrotussyekh Hasyim Asyari.

Uniknya, NU tidak kekuk. Tokoh-tokoh linuih NU membuktikan sikap mental sebagai Umat Muhammad pilihan. Meminjam bahasa Gus Dur bukan umat amatiran.

Bahkan untuk Politik, kemampuan NU dalam menegakan Politik Rahmatan lil Alamin sebagaimana para Walisongo semakin teruji.

Politik Welas Asih NU mampu memberikan rasa aman dan rasa nyaman kepada siapapun. Namun NU tetap kritis dalam mengawal kebijakan-kebijakan politik yang bisa berdampak kepada kemadhorotan bangsa dan negara.

Dalam hal ini, Sikap NU sangat jelas, tegas bahkan siap tempur kepada siapa saja yang masuk kategori bughot pada negara dan pemimpin negara yang sah secara konstitusional.

Pancasila sebagaimana termaktub dalam Preambule UUD 1945 sudah final. Sikap NU sudah jelas ketika zaman Rezim Presiden Soeharto melahirkan UU Ormas dan menjadikan Pancasila sebagai azas setiap ormas dan orpol.

NU adalah Jam’iyah pertama yang menerima keputusan politik Pemerintahan Soeharto saat itu. Tanpa perlu diskusi yang terpublish sepertinya kemampuan linuih Ulama-Ulama NU sudah mampu membaca arah masa depan bangsa Indonesia.

Pemerintahan Soeharto merasakan betul dukungan politik dari NU. Tanpa dukungan politik NU, saya yakin Soeharto tidak akan begitu lama menjadi penguasa orde baru.

Politik NU yang welas asih, pengayomi, membela yang “minoritas”, serta selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa bolehlah saya sebut sebagai Politik Garam NU.

Politik Garam itu tidak perlu berteriak keras agar didengar. Tidak perlu bertindak kasar agar mendapat perhatian. Tidak perlu menggebrak meja agar mendapat bingkisan.

Politik Garam itu adalah ketika orang merasakan keberadaan kita meskipun kita tidak ada bersamanya. Politik Garam itu ketika rakyat merasakan manfaatnya meskipun tidak menjadi penguasa.

Itulah NU kita semua. NU yang mampu memberikan Rahmah kepada “musuh” sekalipun.

Terimaksih para Kyai, para Ustaz, para santri semua yang telah membuktikan bahwa Pesantren “bale rombeng” adalah merupakan kawah candradimuka yang tetap konsisten menjaga warisan dakwah leluhur Para Walisongo dan Para Sultan di Nusantara.

Loading...

Baca Juga