oleh

Urgensi Budaya Literasi di Era Disrupsi

Urgensi Budaya literasi di Era Disrupsi.

Ditulis oleh: Dr. Ir. Hi. Yosep P. Koton, M.Pd., Kadis Dikbudpora Provinsi Gorontalo.

Pendidikan adalah invensi (penciptaan atau perancangan sesuatu yang sebelumnya tidak ada) yang tak kenal henti, yang selalu memekarkan ide-ide dan pelintasan pengalaman. Mengajar adalah seni, dan seorang guru harus mampu membaca kualitas-kualitas dan yang progresif berkembang pada diri siswa. Aktivitas guru tidak boleh dikuasai oleh resep pasti dan rutinitas, tetapi harus oleh kualitas dan kontijensi tertentu yang tak terbayangkan sebelumnya.

Pembelajaran jangan hanya berfokus pada capaian kurikulum, maupun pada kelulusan akhir peserta didik, tetapi pembelajaran harus diarahkan pada pemberian pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Dunia bilang guru adalah penerang dunia, tanpa guru tak akan ada Presiden, tanpa guru tak aka ada Menteri, tanpa guru tak aka ada Gubernur, tanpa guru tak akan ada Bupati dan Wali Kota, tanpa guru tak aka ada Kepala Dinas, tanpa guru tak akan ada guru.

Ketahuilah proses jabatan selalu berawal dari pendidikan dan awal dari pendidikan adalah guru. Guru harus mempunyai budaya atau tradisi membaca, kita sering mendengar sebuah adagium (pepatah) yang mengatakan bahwa “ membaca adalah candela dunia” ungkapan ini mempunyai makna bahwa dengan membaca kita bisa seakan-akan berkeliling dunia. Berkeliling dunia ini bukan berarti secara fisik kuluar melakukan travelling (perjalanan) dari suatu Negara ke Negara lain, tetapi jiwa, pikiran, dan imajinasi kita yang melanglang buana berkeliling dunia.

Ketauhilah bahwasanya di dalam agama Islam, ayat yang pertama kali turun itu bukan perintah shalat, puasa, zakat, haji, tetapi perintah membaca yaitu surah Al-Alaq ayat 1-5 ayat ini sesungguhnya memotivasi dan menstimulasi kita semua agar jangan sekali-kali melupakan aktifitas membaca. Membaca tidak terbatas kepada sebuah tek tulisan semata tetapi kita harus membaca yang kontektual seperti membaca dinamika dan fenomina alam semesta ini agar mampu berinovasi untuk kemaslahan bangsa dan Negara.

Sesuai dengan data yang dirilis oleh PISA (Programme Internationale for Student Assesment) menyatakan bahwa “budaya literasi membaca dan numeric kita Bangsa Indonesia, berada pada urutan 69 dari 76 Negara”, kondisi semacam ini bila dibandingkan dengan Negara Vietnam, masih lebih unggul Vietnam yang berada pada urutan ke 12, ini diakibatkan karena budaya membaca kita masih sangat kuran dan rendah sekali. Kemudian juga bedasarkan data UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) mengatakan bahwa “budaya membaca kita untuk seribu anak itu hanya ada satu yang mempunyai minat membaca”.

Padahal seyogianya sumber daya manusia (SDM) yang unggul itu dalam satu tahunnya harus mengkomsumsi bacaan yang bergisi minimal 25 buku. Guru dan siswa harus banyak membaca agar menjadi sumber daya manusia yang bisa berkompetisi dan beradaptasi di era revolusi industri saat ini yang diistilahkan dengan 4.0 segala sesuatu yang kita lakukan serba canggih dan menuntut SDM yang produktif.

Kalau kita ingin mengetahui rendahnya minat baca siswa di sekolah, dapat kita ukur dengan melihat daftar kunjungan siswa ke Perpustakaan di sekolah itu. Perpustakaan itu masih menjadi tempat yang belum menyenangkan bagi para siswa yang berkonsekuensi (berakibat) kurangnya antusias siswa untuk megunjungi perpustakaan. Seluruh stakeholder instansi pendidikan harus membuat berbagai strategi yang jitu dan melengkapi perpustakaan dengan koleksi-koleksi buku bacaan bukan hanya buku-buku paket, tetapi juga buku yang menunjang buku paket itu seperti buku fiksi dan non fiksi.

Salah satu motif disediakannya buku fiksi adalah untuk melatih siswa supaya tetarik untuk membaca, karena di dalam buku fiksi itu tentu disana ada nilai karakter yang akan diaktualisasikan oleh siswa. Sekolah juga mungkin dapat membuat motelogi dan strategi misalnya pada hari-hari tertentu setiap lima belas menit, sebelum pembelajaran dimulai seluruh siswa diwajibkan membaca lebih dulu di perpustakaan, hal ini akan melatih siswa agar terbiasa membaca sebagaimana kata pepatah Melayu ala bisa karena biasa.

Rendahnya budaya membaca ini juga diakibatkan karena factor lingkungan yang tidak mendukung juga diakibatkan dari penggunaan teknologi yang canggih saat ini. Dimana saat kita menggunakan Gadjet/HP terkadang menggunakan ilmu padi, saat kita berada di dalam suatu pertemuan biasanya kita merunduk kebawah. Hal ini berakibat pada orang yang jauh semakin dekat dan dekat semakin jauh, kemudian juga dengan ilmu padi ini berakibat pada empati dan simpati kita berkurang.

Loading...

Baca Juga