Mungkinkah Vaksin Untuk Corona Tak Akan Pernah Ada? Oleh: Djumriah Lina Johan, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam.
Seorang ahli kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa vaksin untuk corona kemungkinan tak akan pernah ada. Perwakilan WHO itu adalah profesor kesehatan dunia di Imperial College London, dr. David Nabarro.
Sebagaimana dikutip Tribunnews.com dari foxnews.com, Nabarro berkata bahwa masyarakat nantinya harus tetap bisa menjalani kehidupan seperti biasanya namun tetap waspada akan ancaman corona. Nabarro dalam wawancara pada Minggu (3/5/2020) menegaskan bahwa ada jenis virus yang tidak memiliki vaksin.
Sementara itu berbagai pihak kini masih menguji coba vaksin untuk corona. Beberapa kalangan medis juga optimis bahwa vaksin akan segera tercipta, padahal corona bermutasi dengan begitu cepat sehingga sifatnya sulit diprediksi. “Ada beberapa virus yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya,” ungkap Nabarro.
Nabarro berharap masyarakat tidak terlalu berharap akan adanya vaksin untuk corona. “Kita tidak bisa membuat kemungkinan yang mutlak bahwa kelak akan ada vaksin atau tidak akan ada vaksin,” terangnya.
Pihak pusat penelitian penyakit menular di Universitas Minnesota baru-baru ini berpendapat bahwa pandemi Covid-19 akan bertahan hingga 2 tahun ke depan. Bahkan bisa jadi corona menjadi wabah berkala di seluruh dunia. Menurutnya, penyelesaian wabah corona ini sulit dilakukan lantaran adanya orang-orang positif namun tanpa gejala. (Tribunnews.com, Selasa, 5/5/2020)
Membayangkan statement professor kesehatan skala dunia di atas tentu membuat merinding. Tak terbayangkan jika tak ada vaksin untuk corona serta apabila pandemi bertahan selama 2 tahun. Entah akan ada berapa banyak manusia yang meninggal, apakah itu disebabkan oleh corona atau kelaparan, jutaan orang di PHK, kemiskinan meningkat tajam, kriminalitas tak terkendali, jutaan orang terserang depresi, kekerasan dalam rumah tangga dan anak, dan krisis ekonomi, sosial, hingga politik.
Wabah corona jelas ancaman nyata jika tak segera ditangani dengan sebaik-baik penanganan. Tak akan ada negara yang mampu bertahan jikalau harus menanggung pemenuhan kebutuhan pokok hingga hitungan tahun. Apalagi dengan penerapan sistem kapitalisme sekarang. Kapitalisme secara gamblang mempertontonkan kegagalannya menyolusikan Covid-19.
Maka di sinilah Islam, hadir menjadi problem solver. Islam sebagai agama yang telah disempurnakan Allah SWT memiliki jawaban atas setiap persoalan kehidupan. Tak terkecuali wabah virus corona. Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (TQS. Al-Maidah : 3)
Lantas bagaimana Islam mengatasi polemik wabah seperti sekarang? Pertama, ketika kecanggihan teknologi dan kemajuan fasilitas kesehatan yang ada di negara-negara maju tidak mampu memberantas tuntas wabah. Maka jawabannya ada pada kekuatan doa dan taubatan nasuha. Sebab, sebagai seorang muslim kita harus mengakui bahwa corona adalah makhluk kecil ciptaan Allah SWT.
Ia bisa menyerang siapapun dan kapanpun tanpa pandang bulu. Entah ia berkulit putih atau hitam, berbeda suku maupun kebangsaan, berada di negara tropis atau subtropis, dan sebagainya. Dengan demikian, patutlah kita berpikir bahwa ini semua akibat pelalaian terdapat hukum Allah sehingga kita wajib untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dan meminta wabah ini segera diangkat kembali ke asalnya.
Wajib pula menjadikan ramadhan kali ini sebagai batu loncatan mewujudkan ketaatan secara totalitas yakni dengan menerapkan hukum syariah di setiap lini kehidupan. Bukankah Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Ali Imran ayat 133)
Perpaduan Corona dan Ramadhan menyadarkan kita akan kelemahan manusia dalam mengurusi dan mengatur kehidupannya. Butuh petunjuk yang berasal dari Allah SWT agar keberkahan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat terjamin. Dengan demikian, mari kita bersama bertaubat dengan sebaik-baik taubat agar wabah segera diangkat dan hukum Allah kembali ditegakkan di tengah-tengah kaum Muslimin.
Kedua, tak cukup sampai di situ. Dibutuhkan ikhtiar lain berupa Pemerintah memfasilitasi gerakan untuk melakukan tes kepada seluruh penduduk Indonesia sebagai upaya memisahkan antara penderita Covid-19 dengan anggota masyarakat yang sehat. Tentu tes ini bersifat gratis. Kemudian, Pemerintah mengisolasi pasien penyakit menular di tempatnya dan mengkarantina orang yang sakit serta menindak lanjutinya dengan perawatan dan pengobatan secara gratis.
Sementara orang-orang yang sehat tetap melanjutkan aktivitas dan pekerjaan mereka. Kehidupan sosial dan ekonomi tetap berlanjut sebagaimana sebelumnya sebelum corona merebak. Tidak menghentikan kehidupan masyarakat secara umum dan mengisolasi mereka di rumah dan berikutnya melumpuhkan kehidupan ekonomi bahkan hampir lumpuh sehingga krisis justru meningkatkan eskalasinya dan memunculkan problem baru sebagaimana sekarang.
Dengan demikian, harusnya yang sakit saja yang diisolasi. Sedang, anggota masyarakat yang sehat bisa tetap beraktivitas termasuk shalat berjama’ah. Sehingga pelaksanaan berbagai kewajiban terus berjalan sebagaimana biasanya. Maka kebosanan dan kejemuan yang menimpa masyarakat seperti yang kita dengar tentang kondisi-kondisi di masyarakat kini tak akan terjadi.
Oleh karena itu, solusi yang shahih untuk penyakit ini adalah seperti yang ada di dalam syariah Allah SWT, dengan negara menelusuri penyakit tersebut sejak awalnya dan bekerja membatasi penyakit di tempat kemunculannya sejak awal dan orang-orang sehat di tempat-tempat lainnya tetap bekerja dan berproduksi.
Masya Allah, inilah panduan Islam dalam menyelesaikan polemik Covid-19. Tanpa Islam, umat akan terkatung-katung tanpa kejelasan hidup. Kehilangan kemuliaan bahkan nyawa sebagai taruhan. Maka tidakkah kita berpikir sudah saatnya Islam mengambil alih kepemimpinan negeri hingga dunia ini? Wallahu a’lam bish shawab.










