oleh

Jalan Sunyi Sang Sultan Banten Abad XX

Jalan Sunyi Sang Sultan Banten Abad XX.

Ditulis oleh: Tubagus Soleh, Ketum DPP Ormas Kerabat dan Sahabat Kesultanan Banten (Babad Banten)

Tadi malam, pas di tanggal 15 Rajab 1442 H. Dua orang dari Banten datang ke sebuah Astana di daerah Jawa.

Di Astana itu bersemayam seorang leluhur dari para Raja dan Sultan Mataram.

Dengan penampilan yang sederhana, hanya berbalut jubah putih dan imamah berwarna Hijau beliau di sambut hanya oleh satu orang penunggu Astana.

Tanpa banyak kalam, beliau langsung memasuki Astana dan berdo’a selama 3 jam lamanya.

Tidak ada yang mencolok. Hanya diterangi rembulan yang bersinar terang. Semilir angin terkadang datang menyapa dalam peraduan doa sang pemanjat.

Seruling alam khas Sunda dan gamelan khas Jawa berpadu mengeluarkan irama nada yang Indah. Hal itu menambah kekhusu’an dua manusia yang sedang bermunajat.

Sang Penjaga Astanapun saya yakin tidak tahu apalagi mengenal dengan baik siapa yang sedang berkunjung ke Astana.

Saya yakin sang penjaga hanya diberitahu nanti malam ada tamu dari Banten tepatnya seorang dzuriat Kesultanan Banten yang mau berkunjung. Tidak lebih. Pasti hanya itu saja infonya.

Sementara, yang selalu mendampingi beliau pun penampilannya tidak mencolok. Tidak terlihat sebagai orang penting dan orang kepercayaannya Sang Pemunajat Doa.

Terlihat asli seperti orang kampung kebanyakan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut sang pengawal sekaligus orang kepercayaan.

Terlihat patuh dan mengikuti kemanapun Sang Ketua bergerak. Tanpa pernah bertanya. Tanpa pernah protes. Sang kepercayaan sang ketua selalu terdepan dalam mengamankan segala sesuatunya.

Sikap mental sang pengawal sepertinya telah tertempa dengan keras. Seperti terlihat dalam beberapa kejadian, lebih baik beliau lapar daripada Sang Ketua kelaparan. Lebih Baik sang pengawal yang kehujanan daripada sang Ketua yang kehujanan.

Semua itu sang pengawal lakoni dengan tulus. Tanpa mengeluh seucappun. Dahsyatnya, sang pengawal tanpa digajih sepeserpun. Semua dijalani apa adanya.

Karena ini semua dalam proses perjuangan. Tidak ada pembuktian yang dituntut. Tidak juga menunggu bukti terlihat. Sikap mental itulah yang tertanam kuat dalam alam mental sang pengawal.

Saya pun terdiam. Membisu. Sayapun membayangkan, Seandainya saja ada seorang lagi “sang pengawal” seperti itu dalam perjalanan perjuangan ini. Pastilah banyak hal yang bisa kita tuntaskan.

Namun ternyata tidak segampang itu mendapatkan sahabat perjuangan seperti beliau.

Di Jalan Sunyi itulah, ternyata Sosok yang sedang menelusuri kegelapan malam adalah Sang Sultan Banten Abad XX yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa IX didampingi sang pengawal setianya. Sang Patih.

Loading...

Baca Juga