oleh

Sejarah Peteng, Pasti Terang Kembali

Sejarah Peteng, Pasti Terang Kembali.

Ditulis oleh: Tubagus Soleh, Ketum DPP Ormas Kerabat dan Sahabat Kesultanan Banten (Babad Banten).

Sedikit demi sedikit cerita Keluarga Kesultanan Banten mulai terungkap. Seiring intensifnya silaturrahim dan silaturahmi sesama dzuriat.

Wadah dzuriat yang mulai tumbuh seperti BABAD BANTEN, FDKB, LPAKB dst menjadi rumah besar dzuriat untuk bisa saling berbagi cerita, kisah, dan tentu saja untuk saling menguatkan sesama dzuriat. Semangat deduluran begitu terasa.

Saya pernah ikut acara salah satu dzuriat di kenari Banten. Saya melihat begitu luar biasa rasa penghormatan kepada sesama dzuriat. Saling melepas kangen seperti tidak bertemu ratusan tahun.

Bagi yang melihat sepintas lalu, barangkali pertemuan seperti itu dianggap hal biasa. Apalagi yang datang bukanlah para “tokoh” penting pemerintahan atau tokoh Ulama Ternama. Namun ikatan bathin yang tersambung diantara para dzuriat berdampak sangat signifikan untuk menyatukan ikatan dan beungkeutan Sejarah yang tercecer. Atau kita sering sebut sejarah Peteng.

Ikhtiar yang tanpa lelah dan semangat yang terus-menerus menyala serta di dorong oleh keinginan yang luhur saya percaya, pastilah para dzuriat sampai pada gerbang sejarah masa depannya.

Kegelapan sejarah yang sengaja disembunyikan oleh para kaum kolonialis dan Imperialis Bani Eropa pada waktunya akan terkuak dan tersibak.

Tidak mungkin para leluhur membiarkan anak keturunannya hidup sengsara dan menderita akibat dari kebiadaban para kaum kolonialis dan Imperialis.

Salah satu sejarah Peteng yang menarik perhatian saya adalah “tragedi” “pembubaran Kesultanan Banten” yang dilakukan oleh Deandles. Seorang pegawai VOC di Batavia.

Menarik perhatian saya karena Deandles hanyalah seorang pegawai VOC ; koq berani seorang pegawai VOC membubarkan sebuah institusi negara yang besar bernama Kesultanan BANTEN? Apa yang sesungguhnya terjadi pada waktu itu?

Apa yang menjadi modal “kekuatan moral” Deandles sehingga berani melakukan tindakan kurang ajar? Mengapa hal ini tidak terantisipasi dengan cermat oleh para petinggi kesultanan Banten yang sangat terkenal memiliki kemampuan linuih tingkat tinggi?

Di pinggir kali Cisadane saya rebahan. Melepas lelah karena habis keliling jualan kopi jantan. Saya termenung dalam. Mencari jawaban dari gemercik air kali yang bertabrakan dengan sang cadas.

Mudah-mudahan mendapatkan jawaban yang mencerahkan dari sang pemegang amanah leluhur kesultanan Banten.

Silahkan di sruput kopi jantannya brader.

Loading...

Baca Juga