oleh

Tirani Omnibus Law Lebih Kejam Dari Binatang Buas. Opini Irfan S Awwas

Tirani Omnibus Law Lebih Kejam Dari Binatang Buas.

Ditulis oleh: Irfan S Awwas, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia.

Dalam sejarah kekuasaan tirani, selalu ada pejabat negara yang rela mati-matian membela kezaliman penguasa demi menjaga stabilitas kekuasaannya. Ibarat watchdog, anjing penjaga yang selalu siap menggonggong terhadap siapa saja yang mendekati pintu rumah yang dijaganya.

Adakalanya, retorika para pejabat ini rasional. Tapi lebih sering irrasional dan menyengat. Misalnya, pernyataan Menkopolhukam, Mahfud MD, soal UU Ciptaker bilang: “Tidak ada pemerintah yang ingin menyengsarakan rakyat,” katanya.

Senada dengan itu, orasi Luhut Binsar Panjaitan, bahwa di dalam Omnibus Law tidak akan ada kebijakan yang merugikan rakyat. Sebab, pemerintah tak akan menyengsarakan rakyatnya sendiri.

“Saya jamin tidak akan pernah pemerintah memberikan kebijakan atau aturan yang akan menyengsarakan rakyatnya. Apalagi Pak Jokowi. Tidak. Saya tahu persis. Karena beliau berlatar belakang keluarga susah,” tutur dia.

Merespons protes rakyat, Menteri Koordiantor Bidang Kemaritiman dan Investasi itu juga bilang, tak ada satu pun pemerintah di dunia membuat aturan untuk menyengsarakan rakyatnya.

“Tidak ada satu pemerintah yang membuat aturan untuk membunuh rakyatnya. Yang dibuat adalah ada keseimbangan di masyarakat,” ujar Luhut dalam sebuah webinar di Jakarta, Sabtu (25/7/2020).

Para pejabat ini berapologi, pemerintah tidak akan buat kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Tapi faktanya, rakyat yang merasa sengsara dan ditindas melalui omnibus law melakukan protes dan penolakan. Puluhan ribu rakyat, dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, akademisi, buruh, ormas keagamaan, termasuk sejumlah gubernur, melakukan demonstrasi di berbagai wilayah nusantara. Rupanya, narasi “menyengsarakan” yang dipahami penguasa berbeda dengan yang dirasakan rakyat.

Jika menggunakan teori keseimbangan, seperti dihayalkan Luhut, mestinya pemerintah membuat UU yang adil bagi pengusaha, adil bagi buruh, dan adil untuk semua. Sehingga rakyat tak perlu bersusah payah, demo berpanas-panas, disiram gas air mata, dipentungi polisi hingga berdarah-darah, hanya untuk menuntut haknya. Rakyat merasa, omnibus law, “adil bagi pengusaha, zalim bagi pekerja alias karyawan”. Lalu, rezim Jokowi berpihak pada siapa, pada investor atau rakyat pemilik kedaulatan negeri ini?

Penguasa Tiran, dalam praktiknya bisa lebih berbahaya dari terkaman binatang buas. Fakta sejarah telah menjelaskan kepada kita. Membunuh lawan politik, melakukan siksaan terhadap orang-orang atau sekelompok orang yang dituduh berseberangan dengan kepentingan penguasa, membumihanguskan rumah-rumah berpenghuni atau menenggelamkan rumah-rumah penduduk ke dalam waduk air yang sengaja dibuat, menembaki dan membantai massa manusia demonstran yang dianggap menentang kebijaksanaan pemerintahannya sembari berfoya-foya dengan kebiadaban, adalah gambar nyata dari kebengisan penguasa tiran.

Dulu maupun sekarang, kejahatan para diktator tidak pernah berkurang. Jeritan kemanusiaan dari rakyat tertindas, erangan kepedihan dari kaum mustadh’afin, seringkali bahkan berubah jadi genangan darah dan hujan air mata. Semakin jauh sejarah umat manusia berjalan, semakin banyak bencana dan kehancuran yang diciptakan oknum-oknum thaghut dan tentaranya, seringkali bertindak sebagai perpanjangan tangan iblis.

Ada kisah cukup bagus yang diceritakan oleh Betrand Russell dalam bukunya berjudul “Kekuasaan”. Kisahnya begini: “Ketika melalui sebuah kawasan pegunungan, Konfusius melihat seorang wanita sedang menangis tersedu-sedu di sisi sebuah kuburan. Konfusius dengan segera membelokkan kudanya dan mendekati wanita itu. “Anda meratap seperti orang yang tertimpa kemalangan,” sapanya.

“Memang benar”, jawab wanita itu. “Suatu ketika ayah suami saya mati diterkam seekor harimau di sini. Suami saya juga mati, dan sekarang anak saya yang laki-laki telah mati pula dengan cara yang sama.”

Konfusius segera bertanya: ” Mengapa engkau tidak meninggalkan tempat yang berbahaya ini dan menetap di kota?”

Wanita itu menjawab: “Disini tidak ada penguasa yang menindas”.

Konfusius kemudian berkata kepada murid-murid yang mengiringinya: “Dengarkan ini anak-anakku, penguasa yang menindas lebih mengerikan daripada harimau buas”.

Jadi betapa berbahayanya kekuasaan pemerintahan yang berada di tangan tiran. Mereka membungkam suara kebenaran, dan menindas setiap tunas baru yang menuntut keadilan. Lalu melemparkan segala tuduhan, penyebar hoax, makar pada pemerintah dengan maksud mendiskreditkan masyarakat yang protes menuntut haknya.

Tindakan represif merintangi manusia untuk mendapat keadilan dan kesejahteraan hidup, terdapat hampir di semua negara. Yang berbeda hanya dari segi cara dan sarana. Ada yang berwujud paksa dan teror, penjara dan eksekusi mati, ada yang berupa bujukan dengan kekayaan, pangkat dan wanita. Ada pula dengan cara menjauhkan penglihatan, pendengaran dan hati dari agama Allah. Mereka menjual omong kosong, menukar petunjuk dengan kesesatan, menolak nur (cahaya sorga) dan memilih nar (api neraka). Demikianlah Allah menjelaskan dalam firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۖ وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

“Di antara manusia ada yang membuat cerita fiktif untuk menyesatkan manusia dari Islam. Orang itu menjadikan Islam sebagai bahan ejekan. Mereka yang melakukan perbuatan semacam itu mendapatkan adzab yang hina di akhirat.” (QS Luqman (31) : 6)

Loading...

Baca Juga