oleh

Peran Orangtua di Rumah Selama Social Distancing. Oleh Sherly Agustina

Peran Orangtua Di Rumah Selama Social Distancing. Oleh: Sherly Agustina, M.Ag, Revowriter Waringin Kurung.

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Dilansir oleh Kompas.com, Juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona di RSPi SS mengkonfirmasi Total ada 172 kasus positif Corona di Indonesia dan tujuh korban meninggal dunia. (17/03/20). Wabah Corona oleh WHO ditetapkan sebagai pandemi, karena belum ditemukan obat serta metode penularannya secara pasti terhadap kasus Covid-19. Salah satu upaya yang efektif dan sudah dilakukan di beberapa negara adalah untuk menghentikan laju wabah virus corona dengan penguncian (lockdown).

Namun, di Indonesia memilih kebijakan Social Distancing yang memiliki arti hampir sama dengan isolasi. Maksudnya menghindari tempat-tempat umum dan kerumunan, menjaga jarak dengan orang lain sebagai suatu Pencegahan. Di zaman Rasul Saw ternyata pernah dilakukan pencegahan suatu wabah. Isolasi terhadap orang yang sedang menderita penyakit menular pernah dianjurkan Rasulullah, tapi isolasi yang Rasul contohkan lebih ke LockDown, mengunci akses ke luar dan masuk dari yang sudah terkena wabah ke daerah yang belum terkena wabah.

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra. “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari).

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Baca Juga :  BPTD Papua dan Papua Barat Gelar Bhakti Sosial Donor Darah

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia. Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya).” (HR Bukhari).

Terkait kebijakan Social Distancing di negeri ini terutama di daerah Banten, beberapa sekolah sudah mulai diliburkan selama dua pekan ke depan. Sebagai upaya pencegahan agar virus Corona tidak semakin menyebar dan yang sudah terkena bisa segera pulih jika segera tertangani dengan cepat dan tepat. Islam sejak dulu mensyariatkan agar umatnya menjaga kebersihan, di antaranya mencuci tangan sebelum makan, wudhu, menutup aurat, menjaga pola makan dan hidup yang sehat, dan sebagainya.

Adapun peran orangtua membersamai anak di rumah selama diliburkan di antaranya:

Pertama, mengenalkan apa yang terjadi saat ini tentang virus Corona serta pencegahannya. Virus tersebut sampai ke Indonesia sebuah ketetapan dari Allah Swt sehingga menjelaskan bahwa manusia lemah dan terbatas, Allah Maha segalanya. Jika Qodho (ketetapan) apapun itu adalah yang terbaik dariNya walau bisa jadi buruk dalam pandangan manusia.

Baca Juga :  Presiden Lempar Handuk? Opini Tony Rosyid

Kedua, menjelaskan bahwa Islam agama yang cinta kebersihn sehingga sejak kecil membiasakan menjaga kebersihan sebagai upaya pencegahan penyakit apapun. Harapannya anak memahami mengapa misalnya harus rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan baik kamar tidur dan sekitar rumah. Mengajak anak-anak sama-sama membersihkan sehingga dengan keterlibatan mereka menjadikan habits yang baik sejak kecil tentang kebersihan yang menyenangkan.

Ketiga, walau sekolah libur selama LockDown belajar di manapun nyaman dan dinikmati. Aktifitas di rumah seperti di sekolah, membaca, menulis, mengaji dan berhitung, dan sebagainya. Menuntut ilmu tetap wajib tidak libur karena manusia membutuhkannya dan Islam menyeru umatnya untuk menuntut ilmu.

Keempat, membuat suasana lebih nyaman dengan tambahan aktifitas selain belajar. Misalnya, masak bersama, menjemur baju bersama, membantu pekerjaan rumah yang mungkin sudah bisa dilakukan oleh anak-anak, menonton yang bermanfaat bersama, bercerita, menghafal, bermain di rumah, dan hal-hal yang bermanfaat lainnya. Sehingga anak tidak jenuh selama aktifitas di dalam rumah. Dan banyak istirahat agar badan tetap fit saat nanti kembali aktifitas ke sekolah seperti biasa.

Anak titipan Allah, maka sayangilah dan bekali dengan ilmu agama yang kuat sebagai pondasi dan self kontrol dalam kehidupan baik di dunia dan akhirat. Jika berhasil mendidik mereka menjadi anak shalih dan shalihah, maka mereka adalah investasi akhirat bagi para orangtua.

Loading...

Baca Juga